Recent Posts

Sabtu, 11 Februari 2017

NHW#3_Nafsa Muthmainna_Solo

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah, The Most Gracious The Most Merciful

Alhamdulillaah, tak terasa sudah lebih dari tiga minggu saya bergabung dalam grup Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Banyak sekali kebaikan dan manfaat yang saya rasakan selama mengikuti grup tersebut, sehingga saya merasa bersyukur sekali bisa bergabung bersama para bunda dan calon bunda yang luar biasa J

Baiklah, kali ini saya akan kembali membahas tugas di Kelas Matrikulasi ya. Tugas kali ini bertemakan tentang “ MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH” . Untuk tugas kali ini, rasanya agak sedikit sulit untuk dikerjakan, karena kondisi agenda pekan ini yang cukup menyibukkan. Tapi sekali lagi, harus kembali ke niat awal untuk menuntut ilmu, disertai KONSISTENSI dan KOMITMEN yang harus dipenuhi, maka sepertinya tak ada alasan bagi diri saya untuk merasa berat dan malas mengerjakannya.


Mari kita langsung saja ya,

a.  Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.
a.       Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya, dan lihatlah respon dari suami.

è Rasanya, tanpa membuat surat cinta pun setiap harinya rasa cinta saya kepada suami semakin bertambah. Apalagi ketika dalam kondisi berjauhan seperti ini, hanya melihat wajahnya di layar saat video call saja rasanya udah berdebar-debar dan tersipu malu. Apalagi kalau ketemu langsung.. kyaaa.. hehe. Tapi karena tugas disini membuat surat cinta, maka saya tuliskan kembali ya, namun mohon maaf bukan surat cintanya, tapi respon dari suami nya saja ya.  
“ :’)
without realizing it, my tears drop when I read your message.. makasih banyak sayang… I love you sooo much.. semoga Allaah selalu mengisi hari2mu dengan kebahagiaan dan kenangan indah bersama putri mungil kita.. semangat menuju hari pertemuan yang insyaa Allaah tak akan lama lagi..”

è Ketika melihat kembali ke diri suami, banyak hal yang ternyata membuat saya bersyukur sekaligus beruntung menjadi istrinya. Akhlaq, pemahaman agama dan kebaikan hati suami mampu menjadi pupuk cinta bagi saya pribadi untuk lebih mencintainya. Saya percaya, Allaah telah menjodohkan saya dengan seseorang yang terbaik. Kekurangan saya mampu dilengkapi oleh suami saya, begitupun sebaliknya. Melihat potensi dari suami saya, rasanya saya sangat ingin mendukungnya sepenuh hati.  Dan dalam pillow talk yang sering kami lakukan, kami pernah berkesimpulan untuk ingin sama-sama meningkatkan potensi diri masing-masing, namun tak melupakan peran kami di tengah-tengah masyarakat. Kami bersepakat akan menghebat untuk bermanfaat. Bagi saya, suami adalah partner dan sahabat terbaik  dalam kebaikan. Dan saya percaya, ia akan mampu menjadi ayah terbaik bagi anak-anak saya :)

    b.      Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

è Saat ini usia putri saya masih 3 bulan, jadi sepertinya masih belum terlihat potensi yang ia miliki. Namun, satu hal yang pasti saya akan terus berusaha membersamai ketika anak saya tumbuh dan berkembang. Saya akan berusaha untuk memastikan setiap kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan baik. Kedepannya, saya akan belajar dan mengamati potensi apa yang kira-kira dimiliki oleh anak saya, sembari tentunya mendiskusikannya dengan suami tercinta J

   c.   Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allaah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.

è Menurut saya ini bagian yang tersulit, karena rasanya tak cukup seminggu dua minggu untuk menyelami diri sendiri. Butuh perenungan, sekaligus menata hati kembali untuk akhirnya lebih bisa berdamai dan mengenal diri sendiri. Namun, akan saya coba J
è  Saya adalah putri kedua dari 4 bersaudara. Alhamdulillaah saya terlahir dari sebuah keluarga yang cukup berbahagia dan harmonis. Kedua orangtua saya adalah orangtua yang saling menyayangi dan mesra. Saya dan saudara-saudara saya semenjak kecil telah ditanamkan rasa kebersamaan yang cukup kuat, sehingga kami merasa dekat. Semenjak kecil, ayah saya sepertinya cukup menyadari potensi saya untuk menjadi dokter. Hal ini karena ayah saya rahimahullah adalah seorang dokter juga, dan saya sering sekali ikut beliau praktik dan jaga di RS. Alhamdulillaah, jalan untuk menjadi dokter juga dimudahkan oleh Allaahu Ta’ala. Nilai-nilai saya cukup memuaskan, dan saat ini saya telah lulus dari salah satu fakultas kedokteran negeri di Indonesia. Bagi saya, menjadi dokter telah membuka potensi-potensi diri saya yang sebelumnya mungkin tidak terlihat.
è Potensi diri saya yang selama ini saya tahu adalah saya sering menjadi Communicator. Saya sering menjadi jembatan komunikasi dari pihak yang saling berselisih atau salah paham. Saya juga sering menerima curhatan dari teman-teman, pasien atau keluarga yang sedang memiliki masalah. Kondisi ini membuat saya menjadi tempat berkeluh kesah bagi orang-orang disekitar saya. Hal ini pula yang membuat saya menjadi sedikit banyak memahami pola komunikasi yang diperlukan bagi tiap individu adalah berbeda-beda.
è Ketika saya melihat kembali pada anak dan suami, dengan potensi yang saya miliki sebagai seorang dokter, namun juga menjadi seorang communicator, ada banyak peran yang bisa saya lakukan. Sebagai dokter, saya dapat mengaplikasikan ilmu kesehatan yang telah saya miliki bagi suami, anak, keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat. Sebagai communicator ,saya bisa turut andil dalam program kesehatan pemerintah dan terjun untuk memberikan edukasi kesehatan bagi orang-orang di sekitar saya.  Saya bisa menyadarkan kepada orang-orang pentingnya kesehatan bagi kehidupan mereka.  Sebagai communicator juga, saya berharap bisa menjadi telaga bagi orang-orang di sekitar saya yang sedang membutuhkan ruang untuk mencurahkan hatinya. Sambil tentunya menjadi pendengar yang baik dan berusaha membantu menemukan solusinya. Bagi saya, menjadi seorang dokter dan communicator adalah potensi yang cukup kuat bagi saya untuk memberikan peran terbaik bagi keluarga, lingkungan sekitar, dan masyarakat.
è Oh iya, ini ada beberapa tambahan potensi saya yang selama ini dinilai oleh suami J . Beliau berbaik hati membantu saya menemukan potensi diri saya hehe :
1.       Reliable Planner à Miya penyusun rencana yang bagus.. semuanya dipikirkan dengan matang
2.       Good Leader à kalau ada sesuatu tugas tahu apa yang harus dikerjakan dan pandai membagi pekerjaan
3.       Fashionable à pandai berdandan dan berbusana, gorgeus, good looking wife
4.       Caring and loving person
5.       High Responsibilityà kalau dapat amanah dijalankan semaksimal mungkin
6.       Good cook à pinter masak..
Itu potensi diri saya yang dinilai oleh suami. Hehe, jadi malu sendiri bacanya :”)

     d.      Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Apakah anda menangkap maksud Allaah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini.

è Baik, untuk menjawab pertanyaan ini sepertinya nanti kedepannya akan lebih dinamis dan tidak saklek untuk jawaban ini saja. Karena kondisi saat ini, saya sedang LDM dengan suami saya, dan tinggal bersama orangtua saya. Jadi saya akan berusaha menjawab sesuai kondisi yang saat ini saya hadapi.
è Saat ini saya tinggal bersama orangtua saya, yakni Ibu. Bapak saya telah meninggal dunia hampir 8 tahun yang lalu ketika saya mulai memasuki bangku kuliah. Ketika Bapak meninggal, posisi Ibu saat itu adalah sebagai seorang ibu rumah tangga. Tentunya, beliau harus memutar otak agar tetap bisa menghidupi keempat anaknya. Akhirnya, Ibu memutuskan untuk berwiraswasta dengan membuka kios batik di Pasar Klewer. Beliau harus membanting tulang dan bekerja keras untuk dapat memastikan setiap kebutuhan anaknya terpenuhi dengan baik. Dengan kondisi tinggal bersama Ibu, yang masih memiliki beban tanggungan 2 adik saya, tentunya ada peran yang bisa saya dan suami ambil. Saya dan suami bersepakat untuk berusaha meringankan beban Ibu saya. Alhamdulillaah saat ini suami sudah memiliki pekerjaan yang mapan, dan penghasilan tetap sehingga kami bisa mensupport Ibu dari sisi finansial.
è Selain dari sisi keluarga saya, dari keluarga suamipun kami juga bersepakat untuk membantu apabila ada keluarga yang membutuhkan. Kami percaya, bahwa dalam rizki yang telah diberikan oleh Allaah terdapat hak-hak orang lain yang juga perlu kami tunaikan.
è Untuk lingkungan masyarakat, di sebelah rumah terdapat sebuah musholla kecil peninggalan dari Bapak. Musholla ini meski kecil, namun cukup dimakmurkan oleh para jama’ahnya. Ada sholat berjam’ah yang rutin dilaksanakan, hingga kajian ilmu agama yang terjadwal. Kami berharap bisa ikut andil dalam memberikan nilai keislaman di lingkungan sekitar. Kami berusaha untuk mensupport makmurnya musholla kecil ini hingga terasa manfaatnya bagi masyarakat di sekitar.
è Dan kedepannya, jika episode LDM ini telah selesai dan kami berkumpul bersama kembali, kami ingin menjadi satu tim solid yang dapat memberikan manfaat bagi umat.
Alhamdulillaah sudah selesaiii…  ^^


Sabtu, 11 Februari 2017 pukul 14.39

Nafsa Muthmainna
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

feel free to drop any comments, friends! ^^