Recent Posts

Kamis, 08 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 5)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Menginjak hari kelima pada tantangan 10 hari mempraktikkan Komunikasi Produktif. Mari kita bahas J

1.       Komunikasi Produktif pada Suami
Pada hari ini kembali saya masih ingin belajar untuk mempraktikkan poin “Clear and clarify”. Namun berbeda dengan hari sebelumnya dimana saya yang mempraktikan, kini saya belajar menjadi partner berlatih komunikasi suami. Saya mempersilakan (meski tidak bilang pada beliau) untuk menggunakan poin ini ketika bercerita, dan saya akan mengklarifikasi dan merespon beliau sebaik yang saya bisa.

Kami seperti biasa memulai sesi telponan kami dengan bertanya kabar hari ini. Saya memancing suami dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk membiarkannya mengalirkan perasaannya. Ketika saya tanya bagaimana perasaannya hari ini, beliau memulai ceritanya. Ujian semester genap sudah menjelang, dan beliau merasa sangat cemas sekaligus khawatir dengan ujian tersebut. Dengan runtut suami menjelaskan persiapannya masih terasa kurang, di tambah soal-soal dan rumus yang dikerjakan sebagai latihan ujian juga cukup sulit. Suami merasa sangat takut dengan ujian kali ini. Dan saya berusaha mendengarkannya mengalirkan perasaannya.

Setelah suami selesai bercerita, giliran saya untuk merespon beliau. Saya tanya sudah sejauh mana persiapan yang ia lakukan. Apa saja hal-hal yang membuatnya cemas dan khawatir. Saya juga mengklarifikasi perasaan takut beliau,kira-kira bersumber dari mana. Lalu saya bantu beliau untuk mengcounter perasaan tersebut dengan optimisme. Bahwa ia sudah belajar dengan baik, dan melakukan persiapan jauh-jauh hari. Selain itu saya berusaha menenangkan hati beliau, dengan berkata bahwa do’a saya selalu ada untuknya. Semoga ujian yang akan beliau hadapi akan berjalan lancar dan memuaskan. Aamiin.

Alhamdulillaah suami saya bisa menerima respon dan masukan dari saya dengan terbuka dan baik J

2.       Komunikasi Produktif pada Anak
Hari ini poin “ Mengatakan yang Diinginkan” masih ingin saya praktikkan. Kali ini, setelah paginya  imunisasi, Akhfiya mendadak demam siang harinya. Saya berusaha mengobservasi kondisinya dengan sebaik mungkin. Namun menjelang sore hari panas Akhfiya tak kunjung turun. Akhirnya saya memutuskan untuk memberikannya penurun panas. Ketika di gendong dengan kain jarik, dan diposisikan untuk diminumi obat Akhfiya sudah berontak. Ia menangis sambil meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya. Dengan sedikit terpaksa, akhirnya obat itu diminumkan. Hasilnya, justru ia menangis dan muntah banyak. Duh sedih sekali perasaan saya saat itu.

Malamnya, panas Akhfiya tak kunjung turun  lagi. Saya yang cemas akhirnya memutuskan untuk memberikan penurun panas kembali. Alhamdulillaah, Akhfiya saat itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya, sehingga saya tidak perlu membangunkannya. Saya ajak ngobrol Akhfiya sebentar, kemudian saya katakana padanya bahwa kita akan minum obat, agar panas Akhfiya cepat turun. Dan betapa saya membutuhkan kerjasamanya untuk itu. Saya tidak memilih untuk meminumkan obat dengan cara sebelumnya karena khawatir ia akan trauma. Maka saya memilih untuk meletakkannya di kursi makan, sambil saya berikan sesendok kecil air putih terlebih dahulu. Sembari menikmati, sedikit-sedikit saya masukkan obat sesuai takaran dalam sendok tersebut. Hasilnya, Akhfiya bisa habis minum obat, tanpa paksaan dan tangisan. Alhamdulillah ^^.

#day5
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

feel free to drop any comments, friends! ^^