Recent Posts

Senin, 12 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 6)

Bismilillaahirrahmaaniraahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Setelah vakum beberapa hari, kini saatnya kembali menulis tentang update tantangan di level 1 Kelas Bunda Sayang. Yuk mari langsung saja,
1.       Komunikasi Produktif dengan Suami
Setelah beberapa waktu menjalani komunikasi produktif dengan suami dan menerapkan dua poin yakni “Choose the right time” dan “Clear and clarify”, kini saya ingin beralih ke poin selanjutnya. Poin selanjutnya yang saya pilih adalah “Kaidah 7-38-55”. Pada poin ini dibahas bahwasanya dalam melakukan komunikasi produktif bahasa tubuh kebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara, dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata.

Sebenarnya saya kesulitan dalam menjalani poin ini karena saat ini saya sedang berjauhan dengan suami. Jarak yang membentang menjadikan saya kesulitan mempraktikkan poin ini. Karena selama ini komunikasi kami hanya via video call atau telepon saja. Saya tidak bisa menunjukkan bahasa tubuh, dan tidak juga bisa melihat bahasa tubuh suami dalam berkomunikasi. Dalam komunikasi kami, hanya dua hal yang bisa maksimal : kata-kata dan intonasi suara.

Hari pertama mempraktikkan kaidah ini saya merasa gagal. Hal ini karena ketika menerima telpon dari suami saya sedang belum siap. Saat itu saya sedang menyuapi si kecil sehingga saya tidak bisa leluasa berbincang. Nada dan intonasi saya pun masih biasa aja, tidak maksimal. Saya merasa masih harus belajar banyak dalam poin ini. Terutama ketika saya merasa tidak enak hati saat menerima telepon karena situasi yang sedang tidak mendukung, missal sedang mengantuk, lapar, bad mood dsb. Sebuah tantangan bagi saya untuk bisa mempertahankan intonasi saya agar tetap terdengar baik di telinga suami. Insyaa Allah besok akan saya coba kembali.

2.       Komunikasi Produktif dengan Anak
Di bagian komunikasi produktif dengan anak, saya memilih poin selanjutnya yakni, “Menunjukkan Empati”. Entah mengapa saya merasa saat Akhfiya sakit kali ini dia menjadi jauh lebih rewel dibandingkan sakit demam yang sebelumnya. Akhfiya sangat mudah menangis dan tidak mau lepas dari saya. Ketika saya tinggal sebentar saja, ia sudah menangis. Apalagi terkadang tante Ufa (adik saya) senang sekali menggoda Akhfiya. Membuat ia jadi tambah gampang menangis.

Hal ini membuat saya ingin belajar untuk lebih memahami perasaannya. Saya coba melihat kedalam matanya, dan mengajaknya bicara. Saya coba menenangkan dan menghibur hati Akhfiya saat ia menangis. Saya berusaha menunjukkan empati saya ke Akhfiya dengan sebaik mungkin. Saya merasa dengan demikian ia akan merasa bahwa ia tidak sendiri, dan ia tak perlu khawatir karena ada Miya nya yang selalu menemaninya.  J


#day6
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

feel free to drop any comments, friends! ^^