In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ketika engkau mendapati tidak ada seorangpun selain Allohu Ta'ala bersamamu, maka ketahuilah bahwasanya Allohu Ta'ala sudah lebih dari cukup dibandingkan segalanya.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.." (As-Suusiy)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhainya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku.." (Al-Fajr : 27-30)

Recent Posts

Senin, 23 Oktober 2017

One Day Trip to Chester Zoo

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful


Awal bulan Oktober 2017, kami sekeluarga berkesempatan mengunjungi salah satu kebun binatang di dekat Manchester, tepatnya di kota Chester. Perjalanan ke Chester tidak terlalu memakan waktu, cukup satu jam dengan kereta api dari Stasiun Piccadilly, Manchester. Kami memulai perjalanan dengan menaiki taksi dari rumah menuju stasiun Piccadily. Pagi masih gelap saat kami bertiga berangkat. Udara pagi yang dingin menyapa kami saat keluar pintu. Musim gugur tampaknya memang sudah tiba di Manchester, kota tempat kami tinggal.

Sesampainya di Stasiun Piccadilly, kami segera mencetak tiket kereta yang sudah terlebih dahulu dibeli via online. Stasiun Piccadily sangat ramah bagi stroller dan kursi roda. Karena meskipun harus menaiki satu lantai atas untuk menuju platforms,  fasilitas lift tersedia di dekat escalator sehingga kami tak perlu melipat stroller Akhfiya. Sesampainya di atas, kami mencari infomasi platform mana kereta menuju Chester akan diberangkatkan. Alhamdulillaah kereta tiba tepat pada waktunya. Kami pun segera mencari tempat duduk yang tersedia.
 
tiket kereta PP Manchester-Chester

Selama perjalanan, Akhfiya tertidur pulas di pangkuan saya. Jam menunjukkan pukul delapan pagi saat kami sudah tiba di Stasiun Chester. Di stasiun ini ternyata tersedia paket tiket masuk Chester Zoo + tiket bis dari stasiun PP untuk para wisatawan yang ingin berkunjung ke Chester Zoo. Tiket bisa dibeli seharga 24 pounds masing-masing orang. Kami pun memutuskan membeli tiket paket dan langsung menuju ke Chester Zoo pagi itu.

Stasiun Chester


informasi tentang bus menuju Chester Zoo

paket tiket masuk Chester Zoo dan tiket bus PP stasiun

Sesampainya di Chester Zoo ternyata gerbang masuk belum dibuka. Kami akhirnya mencari tempat duduk untuk sarapan bekal bersama. Membawa bekal selama perjalanan seperti ini membuat kami tak kesulitan mencari makanan halal sekaligus menghemat kantong. Selepas sarapan, gerbang Chester Zoo ternyata sudah buka. Saat masuk kami mendapatkan peta kebun binatang dan daftar kegiatan apa saja yang bisa kami ikuti selama disana. Saya senang sekali saat melihat peta kebun binatang, karena melihat Indonesia menjadi satu bagian khusus di Chester Zoo. Rasanya sungguh tak sabar menjelajah kebun binatang ini.

pintu masuk Chester Zoo
peta Chester Zoo
  
sarapan pagi :D

Koleksi binatang di Chester Zoo cukup lengkap. Tempatnya pun sangat luas sehingga disediakan fasilitas monorail di dalam kebun binatang. Bagi para pengunjung yang capek berjalan, bisa menaiki monorail tersebut. Saat sampai di bagian Indonesia, atau disebut  bagian “Islands at Chester Zoo” saya senang sekali melihat tulisan berbahasa Indonesia disana. Bagian ini memang terbagi menjadi beberapa “pulau” dengan ciri khas fauna di masing-masingnya. Pulau-pulau Indonesia yang terdapat disini adalah pulau Sumatra, Papua, Bali, Sumba, dan Sulawesi. Hewan-hewan dari Indonesia cukup banyak ada disini. Salah satu yang paling menarik minat pengunjung adalah Harimau Sumatra. Wisatawan sangat antusias melihat harimau, sambil mengabadikan foto sang Harimau. Kami pun sempat mengobrol dengan petugas kebun binatang, dan dia senang sekali saat tahu kami berasal dari Indonesia.
 
salah satu pojok di bagian Indonesia


tulisan bahasa Indonesia

Pemandangan di Chester Zoo juga sangat menarik. Banyak arena indoor untuk melihat hewan secara langsung. Seperti di kandang burung dan kelelawar. Kami bisa melihat dan bercengkrama dengan burung secara langsung, dan merasakan kepakan sayap kelelawar yang terbang di dekat kami. Selain itu, ada beberapa hewan khas Eropa yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Nama-nama satwa tersebut terasa sangat asing di telinga, dan kami sangat senang bisa melihat hewan-hewan tersebut secara langsung.
pemandangan hijau nan adem
Capybara


Selama di Chester Zoo, Akhfiya juga terlihat sangat menikmati dan senang berada disana. Ada beberapa tempat khusus bermain bagi anak-anak, sehingga mereka tidak merasa bosan berjalan. Akhfiya juga antusias melihat beberapa satwa di Chester Zoo. Ia menunjuk sambil mengoceh ceria ke arah hewan-hewan tersebut. Meskipun saat kami berkunjung, banyak hewan yang tidak terlihat karena  bersembunyi entah dimana, namun kami bertiga sangat senang bisa mengunjungi kebun binatang ini. Meski menurut saya dan suami, kebun binatang ini tak sebagus Jatim Park 2 di Malang (tetep belum move-on dr Indonesia hihi).
 
Akhfiya antusias melihat Jerapah

bermain di playground
Akhirnya satu hari tak terasa telah berlalu. Kami mengakhiri petualangan di Chester Zoo di sore hari. Senang dan bersyukur bisa jalan-jalan bersama keluarga di kebun binatang. Benar-benar pengalaman baru yang menyenangkan bagi kami sekeluarga.  Karena hari sudah sore, kami segera menuju bus stop untuk menaiki bus menuju stasiun, kemudian pulang kembali ke Manchester. 
Stasiun Chester di sore hari






Manchester, 22 Oktober 2017
-nm-


Sabtu, 23 September 2017

Jauh di Mata. Dekat di Hati

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful



Dering suara handphone membuyarkan lamunanku. Tampak foto profil suamiku terlihat di layar. Aku segera mengangkat video-call darinya.
“Assalaamu’alaykum, Sayang…”
“Wa’alaykumussalaam, Mas...”
“Maaf ya, teleponnya jadi kemalaman. Disana udah hampir jam 12 malam ya?”
“Iya gapapa, belum ngantuk kok. Lagi mikirin sesuatu ini...”
“Mikirin apa, Sayang?”
“Tentang kita, Mas…”
Seketika pikiranku terbang mengingat memori  dua tahun terakhir ini. Kenangan peristiwa yang mewarnai pasang surut kehidupan pernikahan kami berdua.
November, 2015
                Kisah pernikahan jarak jauh kami dimulai di bulan kedelapan pernikahan kami. Ketika saya mengikuti program Internship Dokter Indonesia di Jogja, sedangkan suami bekerja sebagai Engineer di Cikampek. Meski sedang berjauhan, ikhtiar kami berdua untuk segera memiliki keturunan tak lantas berhenti. Namun,menginjak bulan kesebelas pernikahan, tanda kehamilan belum muncul juga.
                “Mas, aku dapat haidh lagi...”
                “Gapapa Sayang, insyaa Allaah bulan depan kita coba lagi ya...”
“Aku udah capek, Mas. Setiap bulan aku pusing ngotak-atik jadwal jaga biar kita bisa ketemu.”
“Iya, sayang.Mas paham banget perasaanmu. Kita santai saja ya. Insyaa Allaah kalau udah waktunya Allaah pasti akan ngasih buah hati. Sabar ya sayang...”
“Iya, Mas. Kayanya aku harus lebih belajar pasrah sama Allaah...”

Februari, 2016
                “Sayang, aku mau cerita...”
                “Kenapa, Sayang?”
“Alhamdulillaah aku positif hamil, Mas.  Itu hasil testpack 3 hari terakhir, aku kirimin gambarnya ya”
                “Saayaaaaaang…Mas terharu bangeeeett...ya Allaah Alhamdulillaah…”
                “Aku pingin peluk Mas...”
                “Heeem…Mas juga pingin banget peluk kamu, Sayang...”
Tanpa kami berdua menyangka dibulan keduabelas pernikahan akhirnya saya hamil. Tantangan selanjutnya pun hadir. Di sebuah kamar kos yang kecil dengan perabotan yang terbatas, saya menjalani kehamilan pertama saya sendiri. Meski diliputi rasa sedih, saya harus kuat dan tabah demi janin dalam kandungan saya.
“Hari ini muntah nggak, Sayang?”
“Muntah, banyak banget sampai ke lantai…”
“Ya Allaah, trus ini sekarang badannya gimana? Lemes ya?”
“Lemes banget. Perutku juga kerasa agak kenceng tadi habis RJP pasien. Lupa kalau lagi hamil, hehe.”
“Istirahat ya, Sayang. Jangan sampai kecapekan…”

September, 2016
                Bandara Adi Soemarmo menjadi saksi kesedihan saya saat itu. Setelah menjalani kehamilan seorang diri di perantauan, kini menjelang persalinan saya justru harus ikhlas melepas kepergian suami ke benua biru. Jarak kami berdua semakin membentang. Perbedaan kota, negara, benua serta zona waktu semakin memisahkan. Ketika beliau berpamitan, mengecup kedua pipi saya, kemudian mengusap janin dalam kandungan saya, air mata saya tak terbendung lagi. Saya melihat kesedihan yang sama di wajah suami. Dan kamipun berpelukan lama sekali.

Oktober, 2016
                Ketika memeriksakan kehamilan di bulan kesembilan, saya justru mendapatkan kabar yang mengagetkan. Janin dalam kandungan sudah kekurangan oksigen sehingga harus segera dilahirkan dengan operasi. Saya merasa takut, kaget, cemas dan bingung mendengarnya. Akhirnya saya menelpon suami, meski  disana hari masih pagi buta.
                “Mas, aku harus operasi siang ini…”
                “Astaghfirullaah. Kenapa Sayang?”
                “Dedek kekurangan oksigen, jadi harus dikeluarkan segera. Doain operasinya lancar ya, Mas. Aku juga minta maaf kalau selama ini ada kesalahan sama Mas. I love you.”
                “ Ya Allaah… Bismillaah semoga operasinya lancar ya…I love you more, honey”
 Seusai operasi, suami menelpon ingin mendengar suara saya. Pertama kali saya mendengar suara beliau, tangis saya tumpah. Beliau pun menangis sesenggukan di seberang sana. Tak terlukiskan perasaan kami berdua saat itu Kami berdua menangis bersama.
               
Kembali ke malam ini, tanpa terasa kami sudah mengobrol cukup lama. Mengalirkan rasa sekaligus melepas kerinduan yang selama ini tertahan.
“Nggak kerasa ya, ternyata kita udah hampir dua tahun LDM. Maafin Mas ya, Sayang. Nggak bisa nemenin kamu disana.”
“Iya... Aku juga minta maaf belum bisa mendampingi Mas. Kuliah S2 di negeri orang pasti juga berat ya.”
“ Semoga kita segera bareng lagi ya, Sayang. Aamiin”
“Aamiin. Udah malam banget ternyata. Aku tidur dulu ya, Mas.”
“Oke . Makasih  buat telponnya malam ini ya. I miss you so much honey”
“I miss you too, Mas.”
                Dan sesi video-call kami pun berakhir malam itu.

                Hidup adalah rangkaian pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya. Saat ini, pernikahan jarak jauh adalah pilihan terbaik yang kami punya. Namun kami akan tetap berusaha menjalani pilihan itu dengan bahagia. Lewat inilah kami belajar, bahwa momen bersama pasangan adalah salah satu nikmat yang sangat patut untuk disyukuri. Dan meski berjauhan, cinta itu masih tetap bisa ditumbuhkan. Karena sejatinya, jarak dan waktu tidak akan pernah memisahkan dua hati yang saling peduli. Meski jauh di mata, kami tetap merasa dekat di hati.


-nafsacha-

Sabtu, 17 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 10)

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Tulisan terkahir dari tantantang sepuluh hari Komunikasi Produktif. Alhamdulillaah J

1. Komunikasi Produktif dengan Suami
Setelah hari sebelumnya saya sempat merasakan kesalahan dalam menyampaikan pesan saya kepada suami, saya berusaha memperbaiki hal itu. Suami dan saya sama-sama menyadari bahwa sesi telepon terakhir tidak berakhir dengan cukup baik, dan kami sama-sama tidak nyaman dengan itu. Melalui WA suami saya berusaha menyampaikan yang beliau rasakan. Dan itu menjadi kesempatan bagi saya untuk memperbaiki cara saya menyampaikan pesan itu ke suami juga.

Saya memberikan penjelasan pada suami tentang apa yang tadi kita bahas. Saya juga menyampaikan maksud dari obrolan saya tadi seperti itu, dan respon yang saya inginkan dari suami seperti apa. Alhamdulillaah suami menerima, saya pun juga menerima maksud dari suami. DI akhir sesi kami sama-sama meminta maaf dan saling memaafkan. J

2. Komunikasi Produktif dengan Anak
Pada poin ini masih tentang memberikan “Pilihan”. Saya masih ingin terus belajar memberikan pilihan dan kesempatan pada Akhfiya. Kali ini tentang makanan yang ingin ia makan. Di usia 7 bulan saat ini, saya dibuat kagum dengan kemampuan Akhfiya yang mulai menunjukkan kemauannya, termasuk memilih makanan yang ia inginkan untuk disantap.

Akhfiya biasanya sangat mudah disuapi, apalagi jika makanan itu merupakan masakan bikinan saya sendiri. Tapi sore ini tiba-tiba Akhfiya sangat suliit makan. Saya yang bingung akhirnya mencoba merecall memori saya, dan ternyata selama 3 hari terakhir saya memasak menu yang sama buatnya. Ia bosan ternyata J Akhirnya saya ajak untuk bicara, sambil bertanya menu apa yang ingin ia makan hari ini. Akhfiya menjawab dengan celotehan yang saya sendiri tidak tahu artinya apa hehe. Dan ketika saya dekatkan dengan bubur beras merah, dia ingin sekali meraihnya. Alhamdulillaah sore itu Akhfiya makan lahap dengan bubur beras merah. ^^

Penutup : Setelah sepuluh hari mempraktikkan komunikasi produktif, saya merasa banyak sekali kekurangan dari diri saya. Namun saya bersyukur karena kali ini saya sudah lebih siap dengan panduan komunikasi produktif tersebut. Poin-poin dalam komunikasi produktif tersebut dapat menjadi pengingat dan indikator bagi saya dalam belajar mengamalkan keterampilan tersebut. Kedepannya saya ingin terus berlatih menerapkan poin-poin tersebut, agar dapat menjadi sebuah kebiasaan yang akan saya bawa hingga seterusnya. Aamiin J

#day10
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 




Komunikasi Produktif (Day 9)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Sebuah tulisan mengenai Komunikasi Produktif di hari kesembilan.

1.       Komunikasi Produktif dengan Suami
Pada komunikasi hari ini, saya belajar pentingnya kalimat “I am responsible for my communication result”. Bahwa ternyata apabila penerima pesan tidak bisa menangkap maksud dari pemberi pesan, maka itu tanggung jawab dari pemberi pesan. Setiap komunikator (pemberi pesan) akan bertanggung jawab atas hasil komunikasi yang ia lakukan.

Hari ini pun demikian. Setelah sekian waktu saya dan suami tidak telponan dalam jangka waktu dan kualitas yang cukup baik, kami bisa telponan kembali di malam hari. Awalnya pembicaraan ini berlangsung lancar, masing-masing merasa senang bisa mengalirkan perasaannya. Namun menjelang akhir, ada satu topik yang saya bahas dan ternyata saya tidak mendapatkan respon yang baik dari suami. Saya yang sedikit menahan kecewa dan sedih akhirnya terdiam cukup lama. Suami juga demikian. Akhirnya kami menelpon sesi telepon hari itu dengan perasaan yang masih mengganjal :’(.

2.       Komunikasi Produktif dengan Anak
Pada hari ini, masih tentang memberikan “Pilihan” pada anak. Saya berusaha terus mengaplikasikan cara memberikan pilihan ke Akhfiya dengan baik. Apapun aktivitas yang akan ia lakukan saya berusaha memberikan dan menanyakan ke Akhfiya. Meski mungkin ia belum sepenuhnya mengerti dan hanya memandang balik ke saya sambil tersenyum. Saya biasanya berusaha menerjemahkan bahasa tubuh dan mata si kecil atas pilihan-pilihan yang saya berikan.

Sebagai contoh, saat memilih buku bacaan. Di antara berbagai koleksi buku yang ia miliki, saya mengajaknya memilih buku mana yang ingin ia baca hari itu. Akhfiya sudah memiliki satu buku favorit sejak kecil, dan ia selalu suka melihat gambar-gambar di buku itu. Saya menghormati pilihannya dan kembali membacakan buku itu dengan gembira J

#day9
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Komunikasi Produktif (Day8)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Tulisan tentang Komunikasi Produktif hari kedelapan.

1.       Komunikasi Produktif dengan Suami
Komunikasi Produktif dengan suami kali ini mulai menginjak di poin selanjutnya yakni. “Intensity of Eye Contact”. Pada poin ini seperti poin 7-38-55 saya tidak bisa mempraktikkannya secara maksimal karena saya dan suami sedang berjauhan. Kondisi kami yang sedang LDM membuat kami kesulitan mempraktikkannya. Namun Alhamdulillaah ada nikmat teknologi, kami masih bisa bervideo-call saat berkomunikasi.

Melalui video call saya berusaha menjalin kontak mata dengan suami. Hal ini agak sulit dilakukan, mengingat ketika video call saya seringnya sambil menggendong anak atau mengerjakan aktivitas lainnya. Tapi saat hari bervideo call dengan suami, saya berusaha sebisa mungkin untuk menatap mata beliau. Saya harus meluangkan waktu khusus untuk video call agar tidak terganggu oleh aktivitas lainnya. Alhamdulillaah kali ini berjalan cukup lancar.

2.       Komunikasi Produktif dengan Anak
Pada hari ini saya ingin beranjak pada poin selanjutnya yakni “Memberi Pilihan”. Pada poin ini saya berusaha untuk  memberikan pilihan pada Akhfiya. Meski ia masih sangat kecil, saya berusaha untuk mengajaknya bicara. Memberikan pilihan buat si kecil dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti ketika akan memilih baju. Saat akan mandi, saya gendong dia untuk ke lemari pakaiannya sambil mengajaknya bicara. Saya tanya, “Akhfiya mau pakai baju apa hari ini?”. Sambil bertanya saya bantu dia melihat baju-bajunya. Akhfiya tampak senang ketika saya ajak memilih bajunya J

#day8
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 



Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 7)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Sebuah tulisan tentang komunikasi produktif di hari ketujuh. Mari langsung kita bahas ya J

1.       Komunikasi Produktif dengan Suami
Setelah hari sebelumnya kaidah 7-38-55 belum bisa saya praktikkan dengan maksimal, hari ini saya akan berlatih untuk mempraktikkannya. Hari ini saya bertekad ketika suami menelpon, apapun kondisi yang sedang saya hadapi di rumah saya akan berusaha untuk menggunakan intonasi suara yang ceria dan menyenangkan saat menerimanya. Salah satu trik saya untuk melakukannya adalah berusaha tersenyum terlebih dahulu sebelum menerima telepon dari suami. Alhamdulillaah ternyata cara ini cukup berhasil untuk saya.

Dan ternyata ketika saya mampu menjaga kondisi hati saya tetap bahagia saat telpon dengan suami, perasaan bahagia itu akan tergandakan. Saya pun bisa menularkan kebahagiaan saya dengannya meski beliau hanya mendengar suara saya. Suami saya cukup sensitif untuk mengetahui perasaan yang sedang menggelayuti hati saya ketika sedang telponan. Saya pun demikian. Karena kondisi berjauhan seperti ini kami hanya bisa menebak perasaan pasangan dari kata-kata dan suara yang di perdengarkan. Alhamdulillaah sejauh ini kami terus berusaha untuk maksimal dalam mempraktikkannya J

2.       Komunikasi Produktif dengan Anak
Saya hari ini masih ingin belajar untuk menunjukkan empati pada anak. Setelah kemarin saya berusaha untuk memahami perasaan Akhfiya, kini saya ingin ia juga belajar berempati pada sesama. Buat saya untuk mengasah empati anak, maka kita pun juga harus menunjukkan empati kita. Meski mungkin sepele, ternyata dari hal-hal kecil itulah ia akan belajar untuk berempati.

Hari ini seperti biasa, Akhfiya bermain bersama kakak sepupunya, kak Khansa dan mas Raffa. Seperti biasa ketika bermain, pasti anak-anak akan saling berebut mainan, atau tidak sengaja memukul karena asyik bermain. Begitupun AKhfiya. Ketika ia sedang asyik dengan mainannya, tanpa sengaja tangannya bergerak sehingga memukul kak Khansa tanpa sengaja. Kak Khansa mengadu pada saya, dan saya yang melihat itu segera meresponnya. Saya melihat ke kak Khansa apakah dia baik-baik saja, setelah itu saya berusaha memberikan pengertian bahwa dek Akhfiya tidak sengaja melakukannya, dan meminta maaf pada Kak Khansa. Saya juga mengajarkan pada Akhfiya untuk meminta maaf pada kakaknya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Alhamdulillaah Kak Khansa mau memaafkan, Akhfiya pun juga tampak senang.

Saat ini Akhfiya masih berusia 7 bulan. Meski mungkin ia belum sepenuhnya memahami, saya akan berusaha terus untuk mengasah empatinya untuk sesama. Dan ternyata semua itu bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana, cara-cara yang dekat dengan keseharian kita .  J

#day7
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Senin, 12 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 6)

Bismilillaahirrahmaaniraahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Setelah vakum beberapa hari, kini saatnya kembali menulis tentang update tantangan di level 1 Kelas Bunda Sayang. Yuk mari langsung saja,
1.       Komunikasi Produktif dengan Suami
Setelah beberapa waktu menjalani komunikasi produktif dengan suami dan menerapkan dua poin yakni “Choose the right time” dan “Clear and clarify”, kini saya ingin beralih ke poin selanjutnya. Poin selanjutnya yang saya pilih adalah “Kaidah 7-38-55”. Pada poin ini dibahas bahwasanya dalam melakukan komunikasi produktif bahasa tubuh kebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara, dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata.

Sebenarnya saya kesulitan dalam menjalani poin ini karena saat ini saya sedang berjauhan dengan suami. Jarak yang membentang menjadikan saya kesulitan mempraktikkan poin ini. Karena selama ini komunikasi kami hanya via video call atau telepon saja. Saya tidak bisa menunjukkan bahasa tubuh, dan tidak juga bisa melihat bahasa tubuh suami dalam berkomunikasi. Dalam komunikasi kami, hanya dua hal yang bisa maksimal : kata-kata dan intonasi suara.

Hari pertama mempraktikkan kaidah ini saya merasa gagal. Hal ini karena ketika menerima telpon dari suami saya sedang belum siap. Saat itu saya sedang menyuapi si kecil sehingga saya tidak bisa leluasa berbincang. Nada dan intonasi saya pun masih biasa aja, tidak maksimal. Saya merasa masih harus belajar banyak dalam poin ini. Terutama ketika saya merasa tidak enak hati saat menerima telepon karena situasi yang sedang tidak mendukung, missal sedang mengantuk, lapar, bad mood dsb. Sebuah tantangan bagi saya untuk bisa mempertahankan intonasi saya agar tetap terdengar baik di telinga suami. Insyaa Allah besok akan saya coba kembali.

2.       Komunikasi Produktif dengan Anak
Di bagian komunikasi produktif dengan anak, saya memilih poin selanjutnya yakni, “Menunjukkan Empati”. Entah mengapa saya merasa saat Akhfiya sakit kali ini dia menjadi jauh lebih rewel dibandingkan sakit demam yang sebelumnya. Akhfiya sangat mudah menangis dan tidak mau lepas dari saya. Ketika saya tinggal sebentar saja, ia sudah menangis. Apalagi terkadang tante Ufa (adik saya) senang sekali menggoda Akhfiya. Membuat ia jadi tambah gampang menangis.

Hal ini membuat saya ingin belajar untuk lebih memahami perasaannya. Saya coba melihat kedalam matanya, dan mengajaknya bicara. Saya coba menenangkan dan menghibur hati Akhfiya saat ia menangis. Saya berusaha menunjukkan empati saya ke Akhfiya dengan sebaik mungkin. Saya merasa dengan demikian ia akan merasa bahwa ia tidak sendiri, dan ia tak perlu khawatir karena ada Miya nya yang selalu menemaninya.  J


#day6
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Kamis, 08 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 5)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Menginjak hari kelima pada tantangan 10 hari mempraktikkan Komunikasi Produktif. Mari kita bahas J

1.       Komunikasi Produktif pada Suami
Pada hari ini kembali saya masih ingin belajar untuk mempraktikkan poin “Clear and clarify”. Namun berbeda dengan hari sebelumnya dimana saya yang mempraktikan, kini saya belajar menjadi partner berlatih komunikasi suami. Saya mempersilakan (meski tidak bilang pada beliau) untuk menggunakan poin ini ketika bercerita, dan saya akan mengklarifikasi dan merespon beliau sebaik yang saya bisa.

Kami seperti biasa memulai sesi telponan kami dengan bertanya kabar hari ini. Saya memancing suami dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk membiarkannya mengalirkan perasaannya. Ketika saya tanya bagaimana perasaannya hari ini, beliau memulai ceritanya. Ujian semester genap sudah menjelang, dan beliau merasa sangat cemas sekaligus khawatir dengan ujian tersebut. Dengan runtut suami menjelaskan persiapannya masih terasa kurang, di tambah soal-soal dan rumus yang dikerjakan sebagai latihan ujian juga cukup sulit. Suami merasa sangat takut dengan ujian kali ini. Dan saya berusaha mendengarkannya mengalirkan perasaannya.

Setelah suami selesai bercerita, giliran saya untuk merespon beliau. Saya tanya sudah sejauh mana persiapan yang ia lakukan. Apa saja hal-hal yang membuatnya cemas dan khawatir. Saya juga mengklarifikasi perasaan takut beliau,kira-kira bersumber dari mana. Lalu saya bantu beliau untuk mengcounter perasaan tersebut dengan optimisme. Bahwa ia sudah belajar dengan baik, dan melakukan persiapan jauh-jauh hari. Selain itu saya berusaha menenangkan hati beliau, dengan berkata bahwa do’a saya selalu ada untuknya. Semoga ujian yang akan beliau hadapi akan berjalan lancar dan memuaskan. Aamiin.

Alhamdulillaah suami saya bisa menerima respon dan masukan dari saya dengan terbuka dan baik J

2.       Komunikasi Produktif pada Anak
Hari ini poin “ Mengatakan yang Diinginkan” masih ingin saya praktikkan. Kali ini, setelah paginya  imunisasi, Akhfiya mendadak demam siang harinya. Saya berusaha mengobservasi kondisinya dengan sebaik mungkin. Namun menjelang sore hari panas Akhfiya tak kunjung turun. Akhirnya saya memutuskan untuk memberikannya penurun panas. Ketika di gendong dengan kain jarik, dan diposisikan untuk diminumi obat Akhfiya sudah berontak. Ia menangis sambil meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya. Dengan sedikit terpaksa, akhirnya obat itu diminumkan. Hasilnya, justru ia menangis dan muntah banyak. Duh sedih sekali perasaan saya saat itu.

Malamnya, panas Akhfiya tak kunjung turun  lagi. Saya yang cemas akhirnya memutuskan untuk memberikan penurun panas kembali. Alhamdulillaah, Akhfiya saat itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya, sehingga saya tidak perlu membangunkannya. Saya ajak ngobrol Akhfiya sebentar, kemudian saya katakana padanya bahwa kita akan minum obat, agar panas Akhfiya cepat turun. Dan betapa saya membutuhkan kerjasamanya untuk itu. Saya tidak memilih untuk meminumkan obat dengan cara sebelumnya karena khawatir ia akan trauma. Maka saya memilih untuk meletakkannya di kursi makan, sambil saya berikan sesendok kecil air putih terlebih dahulu. Sembari menikmati, sedikit-sedikit saya masukkan obat sesuai takaran dalam sendok tersebut. Hasilnya, Akhfiya bisa habis minum obat, tanpa paksaan dan tangisan. Alhamdulillah ^^.

#day5
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Rabu, 07 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 4)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Hari keempat melakukan praktik Komunikasi Produktif dengan suami dan anak. Langsung saja yuk kita bahas,

1.       Komunikasi Produktif dengan Suami
Hari ini saya masih tetap ingin melaksanakan poin “Clear and clarify”. Saat kondisi berjauhan dengan suami seperti ini, yang bisa saya lakukan untuk mengalirkan rasa hanya via suara atau video call saja. Namun itu tak menghalangi kami untuk tetap berkomunikasi secara intens dan berkualitas. Seperti yang sudah diceritakan pada hari sebelumnya, kemarin saya curhat pada suami tentang permasalahan di rumah, yang berujung pada surat cinta dari suami untuk saya J

Saya berusaha mempraktikkan nasihat dari suami sebaik mungkin. Namun, tampaknya saya gagal menjalankan nasihat dari beliau. Permasalahan yang saya hadapi bertambah pelik. Setelah menangis, saya berusaha menghubungi suami via WA dan meninggalkan pesan yang menyatakan bahwa saya ingin sekali ngobrol dengan beliau. Siangnya, saat suami sudah membaca pesan saya (karena disana baru pagi hari), kami pun telponan kembali.

Saya mengawali diskusi dengan bertanya, apakah beliau sedang sibuk karena ini menjelang ujian semester genap. Alhamdulillaah di tengah rutinitas kuliah beliau disana, suami selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan obrolan saya. Ia mempersilakan cerita saya dan mendengarkannya dengan seksama.

Saya meminta maaf karena tenyata saya belum sanggup mempraktikkan nasihat dari beliau, meski saya tahu itu sangatlah benar. Saya menyesal dan sedih sekali saat itu. Hati saya terluka karena permasalahan yang sedang saya hadapi, sehingga saya sering sekali terbawa perasaan ketika membahas itu dengan suami. Isak tangis, suara sesenggukan mewarnai telpon saya siang itu. Suami saya begitu sabar mendengar uraian saya, sambil sesekali meresponnya. Akhirnya kami pun berdiskusi kembali dan menetapkan sebuah keputusan yang terbaik untuk saat ini. Sebuah keputusan yang insyaa Allaah menjadi jalan tengah dari permasalahan yang saya hadapi saat ini.

Sungguh saya teramat bersyukur memiliki suami yang selalu ada untuk saya, meski jarak terasa menjauhkan kami. Beliau selalu berkata, bahwa apapun yang ingin saya sampaikan padanya adalah hal penting. Tidak ada yang tidak penting untuknya bila menyangkut diri saya dan Akhfiya. Hati saya teramat berbahagia ketika mendengarnya. Alhamdulillaah.

Hari ini saya belajar, bahwa ternyata ketika saya mampu mengungkapkan perasaan saya dengan jelas dan tepat, saya akan merasa damai dan tenang. Setelah berdiskusi dengan suami, saya merasa hati saya lebih enteng dan tentram. Permasalahan yang awalnya terasa amat berat bagi saya, kini terasa lebih ringan.

2.       Komunikasi Produkti dengan Anak
Hari ini saya masih ingin membahas poin “Mengatakan yang Diinginkan” bersama Akhfiya. Ternyata terasa menyenangkan ketika saya berusaha mengajak bicara Akhfiya. Saya selalu berusaha untuk meminta izin dan memberikan pengertian kepadanya ketika saya ingin melalukan sesuatu. Semisal, saya ingin pergi sebentar ke swalayan dekat rumah, saya izin Akhfiya.

“Nak, Miya mau pergi sebentar ya beli susu untuk sahur nanti. Akhfiya di rumah dulu ya sama mbak Ami, baik-baik di rumah ya Miya cuma sebentar aja kok”

Dan saya mengakhir kalimat saya dengan senyuman dan kecupan untuknya. Alhamdulillaah, Akhfiya ikut tersenyum melihat saya tersenyum. Saya pun merasa tenang ketika meninggalkannya sebentar.

Ketika pulang dari swalayan, saya disambut oleh senyuman darinya yang teramat manis. Setelah mencuci tangan, saya segera menggendongnya kembali. Ia tampak sangat senang ketika saya gendong dan cium. Alhamdulillaah J


#day4
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Komunikasi Produktif (Day 3)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Seperti sebelumnya, pada postingan kali ini saya kembali akan membahas tentang tugas tantangan Game Level 1 di kelas Bunda Sayang. Hari ini adalah hari ketiga ya, yuk kita bahas J

1.       Komunikasi Produktif pada Suami
Hari ini saya masih berkutat dengan poin “Clear and clarify”. Setelah pembahasan mengenai visa UK kemarin usai, hari ini kami berdiskusi tentang sebuah masalah internal keluarga di rumah. Masalah yang cukup menyita hati saya, karena membuat saya merasa tidak nyaman dengannya. Saya mengawali sesi telpon malam itu dengan bertanya terlebih dahulu apakah beliau disana baik-baik saja, apa yang sedang ia rasakan hari ini, dan apakah ia sedang sibuk? Well, karena saya ingin membahas sesuatu yang membutuhkan konsentrasi beliau. Beliau pun menyanggupinya.

Saya kemudian berusaha terbuka tentang masalah yang sedang saya hadapi di rumah. Apa yang sebenarnya masih saya rasakan, kekecewaan, rasa sedih, gundah, dan sakit hati. Saya dengan jelas memberikan gambaran akan suasana hati saya saat itu. Saya katakan pada beliau, betapa saya membutuhkan kehadiran beliau saat ini, nasihat, serta pelukan untuk saya. Setiap perasaan yang saya rasakah teralirkan dengan alami. Beliau pun merespon dengan cukup baik, berusaha mendengarkan terlebih dahulu apa yang sedang saya rasakan, baru setelah itu mulai bertanya, dan memberikan masukan.

Alhamdulillaah, saya tutup sesi telepon malam itu dengan permintaan kepada beliau berupa nasihat dan masukan bagi saya atas permasalahan yang sedang saya hadapi. Ia tidak harus menasihati saya langsung saat itu, karena memang waktu terbatas untuk menelpon. Ia bisa memberikan saya nasihat kapanpun ia siap, dan saya teramat menantikannya. Dan betapa saya merasa terharu, ketika saya terbangun, saya sudah mendapatkan surat cinta dari suami di WA. Suami menuliskan nasihat dengan begitu indah, begitu menyentuh hati saya. Saya bisa merasakan cinta yang dalam dan kebaikan yang ia inginkan untuk saya dalam tulisannya. Nasihat yang menyentuh hati saya, dan mengisi relung-relungnya dengan rasa cinta.
 
bagian awal surat cinta suami
2.       Komunikasi Produktif pada Anak
Hari ini setelah dua hari praktik melakukan poin “Intonasi dan Suara yang Ramah” pada anak, saya sudah merasakan perubahan yang cukup signifikan pada Akhfiya. Kali ini saya ingin beranjak pada poin selanjutnya, yakni “ Mengatakan yang Diinginkan”. Agak sulit memang mempraktikkan ini pada anak usia 7 bulan yang masih belum bisa berbicara. Namun, saya percaya apapun pesan yang akan saya sampaikan, meski ia tidak bisa menjawab , ia sebenarnya memahami itu.

Saya berusaha mengajaknya bicara ketika akan melakukan sesuatu. Mengajaknya mandi, makan, bermain dan aktivitas lainnya. Saya berusaha meminta izin dan melakukan pendekatan (sounding) tentang apa yang ingin saya lakukan, termasuk didalamnya adalah tentang puasa. Saya izin kepadanya untuk berpuasa, dan meminta maaf jika nanti ASI yang ia minum akan sedikit berkurang. Namun saya berjanji untuk mengganti kebutuhan ASI nya dimalam hari ketika sudah berbuka. Meski ia belum menjawab dengan kata-kata, ia merespon dengan pandangan mata yang menyejukkan hati saya. Saya belajar, bahwa di usia sekecil itu Akhfiya ternyata terus dan terus belajar untuk memahami dan merespon apapun yang saya sampaikan kepadanya. Alhamdulillaah J

#day3
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 


Selasa, 06 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas hari kedua di Game Level 1. Langsung saja ya,

1.       Komunikasi Produktif pada Suami
Pada hari kedua berlatih komunikasi produktif pada suami, saya mencoba beralih ke poin selanjutnya yakni, “Clear and clarify”. Karena pada poin “Choose the Right Time” saya sudah memperoleh perubahan yang cukup signifikan. Namun bukan berarti poin “Choose the Right Time” kemudian saya tinggalkan. Sambil terus mempraktikkan untuk berkomunikasi di waktu yang tepat, saya akan belajar untuk menginjak pada poin selanjutnya.

Hari ini komunikasi yang saya lakukan dengan suami sudah pada waktu yang tepat. Alhamdulillaah kami dapat berkomunikasi dengan cukup lancar dan berkualitas. Masalah yang saya bahas bersama suami masih sama, tentang urusan visa UK. Urusan ini betul-betul menguras hati dan pikiran kami berdua, karena memang pengurusan visa ke UK sangat melelahkan. Setelah pengajuan visa kemarin ditolak, kami sudah rugi uang, waktu dan tenaga untuk proses pengajuan visa kemarin.
 
catatan perbandingan rencana
Lanjutan catatan perbandingan rencana



Saat berdiskusi dengan suami, saya berusaha sebisa mungkin menyampaikan poin-poin yang saya maksud sejelas mungkin. Bahkan saya sampai membuat catatan tertulis sebelum menelpon suami. Ketika berkomunikasi dengan suami, saya mengirimkan catatan itu via WA ke suami, kemudian kami membahas poin demi poin secara runtut. Setelahnya, saya memberikan kesempatan pada suami untuk bertanya, dan menyampaikan pendapatnya. Saya juga sangat terbuka dengan pertimbangan-pertimbangan yang ia berikan. Proses diskusi tentang visa ini berjalan berkelanjutan hingga akhirnya kami sama-sama puas dengan hasil diskusi  dan solusi yang kami sepakati bersama. Alhamdulillaah.

2.       Komunikasi Produktif pada Anak
Pada anak, saya masih ingin tetap berada pada poin “ Intonasi dan Suara yang Ramah”. Karena tampaknya ini masih harus terus saya latih. Saya terkadang merasa lupa untuk menggunakan intonasi dan suara yang ramah pada anak, apalagi jika kondisi hati saya sedang sempit, karena kabar visa ke UK yang di tolak itu. Namun, alhamdulillaah di hari kedua mempraktikannya saya berhasil menggunakan intonasi dan suara yang ramah pada Akhfiya. Saya melihat banyak senyuman di wajah Akhfiya. Saat proses menyuapi makanan pun terasa jauh lebih menyenangkan dan asyik. Akhfiya makan dengan sangat lahap dan bersemangat. Alhamdulillaah.


#day2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 
                           


Senin, 05 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah  The Most Gracious The Most Merciful

Alhamdulillaah setelah menjalani kelas Matrikulasi IIP, saya berhasil lulus dan masuk ke kelas selanjutnya, yakni kelas Bunda Sayang. Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan tantangan hari pertama pada Game Level 1 Kelas Bunda Sayang.

Pada game kali ini, berisikan tantangan tentang Komunikasi Produktif. Setelah mendapatkan materi mengenai Komunikasi Produktif, maka tantangan 10 hari yang dimaksud tentunya adalah belajar untuk mempraktikannya. Komunikasi Produktif bisa dilakukan baik pada pasangan, maupun pada anak.Masing-masing terdapat poin komunikasi yang bisa dilatih untuk dilakukan.

Pada tantangan 10 hari kali ini, saya akan belajar untuk melakukan Komunikasi Produktif pada pasangan dan anak. Meski saat ini saya dan suami sedang menjalani Long Distance Marriage, namun bukan berarti tidak bisa menjalani Komunikasi Produktif. Berikut uraian hari pertama saya, tanggal 3 Juni 2017.

1.       Komunikasi Produktif pada Suami
Saya memilih poin “ Choose the Right Time” untuk mengawali komunikasi produktif saya dengan suami. Kenapa poin ini? Karena saya dan suami saat ini sedang terpisah jarak dan waktu akibat beda negara dan benua. Tentunya poin memilih untuk berkomunikasi di waktu yang tepat menjadi sangat penting bagi kami berdua.

Hari pertama mempraktikannya, saya mendapatkan kabar bahwa pengajuan visa saya dan Akhfiya ke UK di tolak. Awalnya rencana saya akan menyusul suami selepas Lebaran nanti. Tapi qoddarallaah, rencana ternyata terpaksa berubah. Berat sekali hati saya ketika mengetahui bahwa saya dan suami harus LDM lebih lama lagi. But Allaah knows best. Rencana Allaah pasti berkali lipat lebih indah dari keinginan kami berdua.

Ketika mencoba mengkomunikasikan dengan suami, saya memilih waktu yang tepat agar bisa diskusi dengan nyaman. Kami hanya telponan singkat di awal, namun karena sinyal di rumah mertua tidak bersahabat, dan kondisi suami sedang mengantuk karena disana pagi buta, maka kami tunda diskusi kami di waktu yang lain. Meski sebenarnya di dalam hati saya galau luar biasa, saya meminta suami istirahat terlebih dahulu. Saya juga izin kepada mertua untuk pulang lebih awal ke rumah mama agar mendapatkan sinyal yang baik untuk menelpon suami. Ya, saya memilih untuk berkomunikasi di waktu yang tepat. Karena jika tidak, kami pasti tidak bisa diskusi dengan nyaman. Apalagi setelah mendengar kabar yang tidak mengenakkan seperti itu. Bila salah memilih waktu yang tepat, kami justru bisa saling menyalahkan. Apalagi kondisi kami sedang berjauhan.

Setelah saya sudah di rumah mama, dan suami sudah cukup istirahat, kami pun meluangkan waktu kembali untuk menelpon. Kali ini waktunya benar-benar tepat. Akhfiya sudah tertidur lelap sehingga diskusi kami juga tidak terganggu dengan tangisan si kecil. Alhamdulillaah, malam itu kami bisa saling mengalirkan perasaan, saling menghibur sekaligus mencarikan solusi terbaik untuk permasalahan kami. Kami pun menutup sesi telpon kami dengan perasaan dan hati yang jauh lebih enteng dan bahagia. Alhamdulillaah.


2.       Komunikasi produktif pada Anak.
Untuk komunikasi pada anak, saya memilih poin “Intonasi dan Suara yang Ramah”. Hal ini karena anak saya masih berusia 7 bulan sehingga saya lebih mudah mengaplikasikan ini terlebih dulu. Perubahan yang saya lakukan di hari pertama adalah saya memilih menggunakan intonasi dan suara yang ramah ketika menyapa dan mengajaknya ngobrol. Akhfiya tampak sangat senang ketika mendengar suara dan melihat wajah saya. Dari mulai bangun tidur, hingga akan kembali terlelap saya berusaha untuk terus menggunakan intonasi dan suara yang ramah padanya. Alhamdulillaah hasilnya pun terasa meski baru sehari saya praktikkan. Akhfiya jadi lebih ceria dan mudah sekali tersenyum. Selain itu, momen menyuapi makanan juga menjadi jauh lebih menyenangkan. Alhamdulillaah.

                                                                                                                          



#day1 
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 
                                


                

Sabtu, 25 Maret 2017

NHW#9_Nafsa Muthmainna_Solo

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

Pada kesempatan kali ini saya diminta untuk belajar membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat sesuai dengan passion (ketertarikan minat) saya.  Untuk melakukannya maka saya diminta mengisi bagan sebagai berikut :


MINAT HOBI
KETERTARIKAN
HARD SKILL
SOFT SKILL
ISU SOSIAL
MASYARAKAT
IDE SOSIAl
Kesehatan
Pemeriksaan Pasien, Komunikasi Terapetik, Kemampuan Diagnosis dan Terapi Penyakit
Banyak masyarakat tidak bisa menjamah pelayanan kesehatan yang baik
Keluarga, Msayarakat sekitar, masyarakat yang tidak mampu
Membangun klinik khusus dhuafa dengan biaya nol rupiah (gratis), Membangun pusat kesehatan untuk masyarakat tidak mampu

Bagan tersebut adalah salah satu dari salah satu minat ketertarikan saya. Namun saya juga memiliki minat ketertarikan di bidang lain yang sesuai di NHW sebelumnya.

Sabtu, 25 Maret 2017 pukul 10.05
dr. Nafsa Muthmainna