In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ketika engkau mendapati tidak ada seorangpun selain Allohu Ta'ala bersamamu, maka ketahuilah bahwasanya Allohu Ta'ala sudah lebih dari cukup dibandingkan segalanya.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.." (As-Suusiy)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhainya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku.." (Al-Fajr : 27-30)

Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label my mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my mind. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2015

kembali lagi :)

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful





Yap, Setelah sekian lama vakum karena berbagai alasan. Kini saya siap kembali menulis di blog.. berbagi manfaat dan pengalaman dengan teman-teman semuanya.. tunggu yaa :)



 -nm-

Sabtu, 02 November 2013

Tentang Sebentuk Cinta. Harapan. Penawaran.

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful





Bertanya dalam diam.
Padanya, pada mereka.
Yang dengan gagah berani telah maju.

Sungguh, tak pernah terbayangkan.
Cinta, harapan, dan penawaran kalian yang teramat sungguh kuhargai ketulusannya.

Padahal aku mungkin tak mengenalmu.
Jarak pun telah menjadi penghalang bagi kita untuk bertemu.
Dan meskipun berbagai macam sarana dan celah telah ada.
Kalian, tetap dengan sepenuh hati.
Menjagaku.

Terimakasih.
Atas keterbukaan kalian.
Atas cinta, harapan, dan penawaran kalian.

Sungguh, kurasakan betul rasa yang kalian redam itu.
Murni karena mengharap ridho-Nya semata.

Semoga Allaahu Ta'ala senantiasa menjaga kalian.
Serta memudahkan setiap ikhtiar kalian.

-nm-

Sabtu, 18 Mei 2013

nikmat yang tak ternilai



Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful..


Karena seperti biasanya, seorang manusia baru akan merasakan indahnya sebuah nikmat ketika nikmat itu dicabut darinya.

Dan itu terjadi pada saya.


Alhamdulillaahi alladzi bini’matihi tatimmush shalihaat.

Merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa masuk diantara teman-teman yang diberikan kesempatan untuk ikut koas gelombang pertama. Saya tidak perlu menunggu beberapa pekan untuk memasuki rotasi klinis di rumah sakit. Selain dengan harapan cepat lulus, saya juga berharap hal tersebut dapat menjadi penghibur hati Mama saya, yang telah bekerja keras sepenuh hati mencari nafkah untuk biaya sekolah putrinya *semoga Allaahu Ta’ala merahmati Mama selalu.. *

Namun, ditengah euforia koas gelombang pertama, ada satu nikmat yang terasa betul saya rasakan. Yang ketika koas nikmat tersebut sedikit berkurang karena rutinitas yang tiada henti berdatangan.




Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no 5933)

Yah. Nikmat berupa waktu luang. 

Masyaa Allaah, saya sungguh tahu bagaimana rasanya terlilit oleh kesibukan rutinitas yang mendera. Dari pagi menjelang, hingga malam di peraduan. Waktu saya tersita oleh kegiatan akademik dalam rangka “mencari kompetensi dokter setinggi mungkin” ini. Mungkin karena awal masuk koas saya sudah ditakdirkan masuk ke stase yang cukup menyita waktu. Insyaa Allaah cerita tentang stase ini akan saya tuliskan di cerita selanjutnya ya. *smile*

Dan setelah stase itu berakhir, saya mendapatkan kesempatan untuk libur sepekan. Alhamdulillaah..

Satu pekan yang terasa betul saya maksimalkan untuk mengganti waktu yang hilang selama sebulan.

Saya benar-benar bahagia menjalani waktu sepekan ini. Saya bisa dengan mudahnya datang ke majlis ilmu, berkumpul bersama sahabat-sahabat yang saya cintai karena Allaah, mengajar TPA, menulis,,membaca,mengerjakan pekerjaan rumah, serta menyelesaikan amanah yang sempat tertunda.

Sepekan yang kini hampir berakhir. Dan ditengah penghujung libur ini, semakin hari saya menjadi semakin bersedih. Waktu luang saya akan segera berakhir, dan digantikan dengan rutinitas dunia koas lagi di pekan depan.

Namun, tiba-tiba saya teringat sebuah kalimat yang berulang kali saya ucapkan pada diri sendiri.. Yang membuat saya terdiam, merenung cukup lama..

“Sungguh, jangan sampai kesibukan itu menjadi alasan untuk menjauh dari Allaah”




Kamar kosan, 8 Rajab 1434 H
menjelang akhir liburan yang menyenangkan.


-muthmainnafs-




Rabu, 03 Oktober 2012

Untukmu, hati.

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Untukmu, hati.
Wahai hatiku, sekian lama aku selalu mencoba berdamai denganmu. Memahamimu sepenuhnya, mengajakmu berbicara dalam renungan panjang yang tak pernah ku tinggalkan. Namun, meski jabatan padamu terus ku lakukan, hingga saat ini tetap saja tak kuasa aku melihatmu berubah arah. Terombang-ambing.

Aku menyadari, hati jauh lebih licin dari apapun. Bahkan dari belut sawah yang kupegang di tanganpun, engkau jauh lebih licin. Engkau sangat mudah berubah arah, duhai hatiku. Disatu  waktu aku  melihatmu teguh dalam kebenaran menjaga agama. Namun di sisi lain, kulihat kau pun lalai karena maksiat yang tak kau sadari sendiri. Apa maumu?

Ketika aku mendapatimu tegas pada mereka, lawan jenismu. Kekagumanku padamu bertambah. Betapa engkau berusaha menutup seluruh celah yang akan membuatmu ternoda. Memerintahkan para pasukanmu untuk waspada setiap saat. Mata yang menunduk, lisan yang berkata benar, dan kaki yang melangkah dalam kebaikan. Semua atas perintahmu. Karena engkau ibarat raja dalam jasadku yang lemah ini. Ketika engkau baik, jasadku pun akan baik.

Namun, sering pula kilihat kau lalai. Berpanjang angan untuk sesuatu yang belum tentu terjadi. Berpikir hal yang tak sepantasnya dipikirkan oleh seorang muslimah. Hasad, khianat, prasangka buruk, dan semua musuh dari syaithan seakan siap menyerbumu kapanpun kau lalai. Kau baru menyadarinya ketika hitam mulai memenuhi pekatmu. Futur. Mengeras dan ternoda.

Hatiku.
Aku mengerti. Sungguh mengerti. Betapa engkau sering gelisah dan risau mengingat janji-Nya tentang pasangan hidup. Penasaran, ingin tahu, tak sabar, semua seakan menjadi satu rasa yang sulit kau ungkapkan. Banyak caramu mengalihkan perhatian untuk urusan ini. Namun, saat teman-teman di sekitarmu mengungkitnya, kau mudah sekali lemah. Bertanya, dan mulai berpanjang angan. Siapa ya?

Hatiku, yang kuinginkan dalam kebaikan selalu.
Satu pintaku padamu. Bersabarlah. Tidakkah engkau percaya, Alloh-lah Sang Maha Menepati Janji? Tiadalah Ia berjanji, kecuali Ia akan menepatinya. Tak perlu gelisah, risau, gundah dan gulana. Alloh sudah mengatur semuanya. Bersabarlah dalam penantianmu. Karena kelak ketika berbuka, akan kau rasakan manisnya penantianmu selama ini. Nikmat yang berbalut ridho-Nya. Halal yang di berkahi-Nya. Menyenangkan bukan? Tak maukah dirimu merasakannya?

Sekarang hatiku.
Mari kita berusaha bersama memperbaiki diri. Aku dan kamu. Kita mesti seirama. Seiring dengan aliran darah dalam jasadku, aku berharap kita selalu dalam kebenaran yang nyata. Menjemput setiap ilmu yang ada. Memuroja’ah pelajaran yang kita dapatkan bersama. Mengulang-ulang hafalan alqur’an dan hadits yang sering terlupa. Serta ilmu dunia yang tak boleh dilalaikan juga. Bersamamu hati. Mari kita berusaha.

-bersabarlah wahai jiwa, sungguh penantian ini tak akan lama-

 muthmainnafs
101111

Sabtu, 07 Juli 2012

Terimakasih, Puskesmas Wates!

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Menjalani tahun ketiga di bangku kedokteran itu rasanya seperti sekelebat saja. Cepat sekali. Kemarin baru saja berkenalan dengan teman-teman baru di Tutorial 26 dan tak terasa hari Kamis kemarin menjadi tutorial terakhir kami di tahun ketiga.

Satu hal yang paling saya suka selama tahun ketiga ini adalah ketika saya diberi kesempatan untuk mencari ilmu secara langsung di Puskesmas Wates. Puskesmas Wates, menjadi tempat kami “main” selama 3 bulan terakhir ini. Menempuh waktu sekitar 50 menit dari kampus, kami akhirnya tiba di Puskesmas yang terletak di pinggir jalan dan dikelilingi oleh sawah hijau nan terhampar luas.



Beberapa kali menjalani tugas di Puskesmas Wates, banyaak sekali pengalaman berharga yang saya peroleh. Alhamdulillah bi ni’matihi thathimusshalihaat. Saya berkesempatan mendapatkan beberapa kompetensi yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Dengan bimbingan dan supervisi dari dua dokter di puskesmas, dr. Norma dan dr. Dian yang sangat baik dan penyabar. Serta beberapa staf dan perawat yang saya kenal, saya mendapatkan banyak hal tak terlupa disini.

Di Puskesmas ini, saya belajar untuk berinteraksi langsung dengan pasien. Pasien, yang juga merupakan guru bagi para dokter merupakan seseorang yang hendaknya diperlakukan dengan penuh empati. Saya belajar berkomunikasi dengan bahasa jawa dan memahami secara mendalam keluhan pasien. Terkadang saya geli mendengar cerita pasien yang lucu. Terkadang saya dan pasien yang sudah sepuh bisa tertawa bersama karena sama-sama bingung. Hehe. Pasiennya bingung saya tanya apa, saya bingung pasien jawab apa. Akhirnya kami tertawa bersama. Asyik sekali. Alhamdulillah.


Saya juga belajar melihat realita kondisi kesehatan Indonesia secara langsung. Memahami bahwasanya tugas dokter itu cukup berat. Tak hanya periksa pasien kemudian habis perkara. Edukasi, follow up pengobatan dan lifestyle tak boleh terlupa. Dan tentu saja dalam setiap prosedurnya kami harus senantiasa memakai jubah empati. Tersenyum, sabar dan telaten menyelesaikan permasalahan kesehatan pasien kami.

Pengalaman tak terlupa yang saya pernah lakukan di Puskesmas Wates adalah untuk pertama kalinya saya berkesempatan menjahit luka irisan pada pasien. Waktu itu, saya dan teman saya sedang di Balai Pengobatan, kemudian tiba-tiba ada seorang ibu datang dengan tangan kanan berdarah banyaak sekali. Ternyata pasien tersebut mengalami sobekan diantara jempol dan telunjuk karena terkena gelas yang pecah saat mencuci piring. Akhirnya, saya dan seorang teman ikut membantu perawat merawat luka pasien. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menyuntikkan obat bius lokal pada pasien, dan menjahit 2 jahitan luka tersebut. Pengalaman ini sungguh tak terlupa, karena selama ini saya hanya berlatih menjahit luka di manekin kulit, dan kali ini di kulit yang sebenarnya.


Pengalaman lain yang pernah saya dapatkan adalah saya diberi kesempatan untuk melakukan Rectal Toucher di anus pasien. Saat itu, datang seorang pasien dengan keluhan sulit kencing dan buang air besar. Diagnosis dokter saat itu adalah pasien mengalami Benign Prostat Hypertophy atau dengan bahasa lebih mudah dipahami adalah ada perbesaran pada kelenjar prostat pasien. Di akhir pemeriksaan, saya bertanya pada dr. Dian, bukankah biasanya pasien dengan BPH akan dilakukan Rectal Touche? Yakni prosedur memasukkan jari dokter ke dalam anus pasien untuk memeriksa ukuran kelenjar prostat pasien. Dr. Dian pun menyetujui dan akhirnya mempersilakan saya untuk melakukan prosedur tersebut dengan hati-hati (karena ini baru pertama kalinya saya melakukan RT). Alhamdulillah, segalanya berjalan cukup lancar.

Selain dua pengalaman tersebut, saya juga mendapatkan banyaaak sekali pengalaman. Memasang EKG, mengambil darah pasien, melakukan nebulizer, perawatan luka, pemeriksaan fisik, telinga, mata, dan lain-lain. Alhamdulillah, senang sekali rasanya ilmu yang telah saya pelajari bisa terasa manfaatnya. Satu hal yang menggelitik benak saya saat itu adalah kelompok kami disebut dengan kelompok yang overnergy oleh dr. Dian. Kami tampak sangat bersemangat dalam menjalani proses pembelajaran di Puskesmas Wates ini dibandingkan kelompok lain yang juga belajar disana.

Saya sendiri merasa, selama proses pembelajaran ini saya bisa dibilang cukup aktif meminta tindakan. Beberapa kali saya mengajukan diri untuk membantu perawat dan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Karena saya sukaaa sekali dengan proses belajar yang seperti ini. Tidak membosankan, asyik, dan tidak akan mudah terlupakan. Namun, bukan berarti saya gila kompetensi dan menguasai semuanya sendiri. Saya juga mempersilakan teman saya untuk turut mencoba, dan setelahnya kami akan berdiskusi bersama.

Hal yang membahagiakan saya adalah ketika dr. Dian pernah berbisik pada saya “ Silakan diperiksa pasiennya ya, saya sudah percaya dengan pemeriksaan fisik kamu, pemeriksaan fisik kamu ke pasien cukup bagus”. Alhamdulillah, bahagia saya mendengarnya. Tidak ada sama sekali maksud sombong atau berbesar hati. Namun bagi saya, ucapan itu motivasi hebat bagi saya untuk terus aktif dalam belajar. Bahwa tidak sia-sia selama ini saya aktif bertanya ini itu pada beliau. Alhamdulillah :)

Namun, diakhir perjalanan di Puskesmas Wates, renungan mendalam pasti memenuhi benak saya. Saya harus belajar jauh dan jauh lebih rajin untuk menjadi seorang dokter yang baik. Masyarakat sungguh masih teramat memerlukan dokter yang bermanfaat ilmunya. Dan ini menjadi cambuk bagi saya untuk terus rajin belajar setiap harinya. Semoga Allahu Ta’ala senantiasa memudahkan saya dan teman-teman untuk terus belajar ilmu yang bermanfaat ya. Aamiin.


Special thanks to :
Keluarga Besar Puskesmas Wates, Yogyakarta.
Terutama untuk dr. Norma dan dr. Dian.
Jazakumullahu khairan katsiran.
:)
 -nm-

Selasa, 05 Juni 2012

catatan kecil di tahun ketiga - end


Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Garcious The Most Merciful

Catatan kecil di tahun ketiga – end


Sudah baca cerita nafsa di “catatan kecil di tahun ketiga” kah? Jika belum, mungkin bisa baca itu dulu ya, biar nggak bingung dengan alur ceritanya. Yuk, mari disimak dan diambil manfaatnya (semoga).

Kami Waria!
Nah, perjalanan panjang dari Monjali ke Bank Indonesia pun akhirnya berakhir dengan sebuah diskusi kecil dengan para waria yang sedang “nyebong” di kawasan Bank Indonesia. Saat itu, ada sekitar belasan waria yang datang menghampiri kami untuk berdiskusi. Sejujurnya, saya tak nyaman melihat mereka. Berpakaian minim, dan menarik mata. Dengan tangan terus saja memegang rokok yang sepertinya tidak habis-habis di hisap. Duh, ini sungguh bukan kondisi yang nafsa bisa mudah terbiasa.

Tapi, sepertinya para waria itu mengerti ketidaknyamanan kami. Beberapa dari mereka bergeser ke pinggir ketika merokok, dan mendekat ketika tidak merokok. Alhamdulillah. Diskusi pun berlangsung seru, dan asyik. Beberapa dari kami sempat menanyakan berbagai macam pertanyaan, dan para waria pun tak bosan menjawab pertanyaan kami. Kebetulan kami sudah kenal dengan salah satu waria yang juga Koordinator Lapangan di LSM tersebut. Hal ini membuat kami merasa lebih nyaman untuk bertanya apapun tentang kehidupan para waria.

Waria sendiri, adalah singkatan dari Wanita Pria, dalam bahasa Inggris mereka biasa disebut dengan “Shemale”. Para waria ini biasa menyambung hidup dari pekerjaan yang biasa mereka lakukan, yang terkadang masih berkutat dengan dunia malam. Ada yang mengamen, menjadi pegawai salon, atau justru menjadi pekerja seks komersial. Mengapa mereka masih terjun di dunia malam? Alasannya klasik : kesulitan uang untuk menyambung hidup.

Apa yang bisa kita lakukan?
Setelah sesi diskusi bersama para waria, kami pun melakukan diskusi kecil sekelompok. Program apa yang akan kami bawa untuk mereka? Heumm. Banyak sekali hal yang bisa kami gali dari diskusi tersebut. Pertama adalah masalah kesehatan. Para waria ini sangat erat hidupnya dengan seks bebas dan seks tidak sehat. Tentu saja akibatnya kejadian penyakit seks menular pun menjadi hal biasa yang dijumpai para komunitas mereka. Bahkan, para waria ini juga sudah hafal nama penyakitnya karena sudah seringkali mendapatkan penyuluhan mengenai masalah ini. Karena kondisinya demikian, masalah pertama tidak akan kami angkat menjadi program kelompok ini.

Masalah kedua adalah rokok. Dunia waria betul-betul dipenuhi asap rokok yang tiada berhenti berkepul. Entah mengapa, para waria ini meski hidupnya tidak berkecukupan masih saja bisa menyediakan uang untuk membeli rokok  dalam jumlah besar. Namun, karena para waria pun sudah terlalu sering mendapatkan penyuluhan mengenai rokok, kami pun tidak menjadikan masalah ini sebagai dasar dari pembuatan program. Kami pun bingung. Apa yang bisa kita lakukan?

Para waria itu butuh uang
Setelah sering berdiskusi dengan teman-teman, akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah program yang melenceng cukup jauh dari bidang kami. Kami akan membuat sebuah Talk Show tentang Wirausaha dengan para pembicara yang kompeten di bidangnya. Kenapa kami membuat program ini? Heumm, karena kami melihat bahwasanya para waria ini masih sangat kekurangan uang untuk menyambung hidup. Dan untuk mencegah mereka terus saja menjadi pekerja seks komersial, kami ingin wawasan mereka terbuka untuk berwirausaha. Sehingga secara tidak langsung mereka juga akan berhenti dari dunia malam. Selain itu, kami juga berusaha mengubah pola pikir para waria yang materialistis untuk lebih paham akan prioritas kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Saatnya berusaha, teman!
Nah, untuk merealisasikan program kami, kami membutuhkan dana yang cukup banyak. Sekitar 1 juta lebih yang harus kami cari dalam waktu kurang dari sebulan. Awalnya, kami beriuran terlebih dahulu untuk menutup kekurangan dana. Namun, setelahnya kami pun berpikir untuk berusaha mencari dana dengan cara menjadi agen fotocoy buku di angkatan. Alhamdulillah, dana pun terkumpul. Usaha kami setiap hari menawarkan buku ke teman-teman seangkatan sukses besar. Bahkan nilai untungnya terbilang cukup banyak untuk sebuah usaha awal. Kelompok kami pun terkenal dengan sebutan kelompok yang rajin jualan. Hihi.

Selain berjualan, kami pun membentuk kepanitiaan kecil untuk program ini. Alhamdulillah, teman-teman kelompok nafsa, TNK 26 sangat kompak dan mau bekerja bersama. Bahkan satu hari sebelumnya kami berkumpul di rumah ketua untuk simulasi acara dan rapat bersama. Sungguh menyenangkan bekerja bersama mereka. Oh iya, karena acara kami sedikit menyimpang dari bidang kesehatan, akhirnya nafsa dan seorang teman berusaha melobi LSM Quit Tobacco Indonesia. LSM ini bekerja di bidang upaya anti rokok. Kami pun mendapatkan izin untuk membagikan flyer, kalender dan sticker anti merokok di acara kami. Selain itu, di tengah sesi istirahat akan diputarkan video anti rokok yang diharapkan mampu menyadarkan para waria tentang bahaya merokok.

This is it! BINARAGA : Bincang Wira Usaha dengan Waria
Akhirnya hari H pun tiba. Kami pun bersiap dengan acara ini. Sertifikat, snak dan hal-hal terkait acara ini sudah siap. LCD proyektor dan sound system pun sudah ada. Salut! Teman-teman saya memang luar biasa! Akhirnya, pada tanggal 18 Maret 2012 tepat pukul 13.00  acara pun di mulai. Sesi pertama di di isi oleh pembicara dari Fakultas Psikologi UGM yang akan membawakan materi motivasi bagi para waria untuk berwirausaha. Sedangkan sesi kedua diisi oleh pembicara dari Fakultas Ekonomi UGM, yang berisi tentang tips dan trik bagi para waria untuk berwirausaha. Di akhir sesi ada pula diskusi kecil dengan seorang waria yang sudah sukses berwirausaha.

Para waria tampak asyik menikmati acara ini. Mereka tampak antusias dan bersemangat mengikuti acara ini.  Setelah acara ini selesai kami pun mengadakan follow up untuk memfasilitasi waria yang memang benar-benar serius untuk berwirausaha. Kami mengadakan sebuah focus group discussion untuk para waria berminat berwirausaha untuk lebih leluasa tanya jawab dengan para narasumber yang ada. Setelah program kami usai, kami pun berpamitan dengan LSM tersebut. Kami juga berterimakasih pada para pengurus LSM yang selama ini membantu kami untuk menjalankan program tersebut dengan baik.

Manis itu terasa di akhir, ternyata..
Alhamdulillah, acara kami pun usai. Dan ternyata Alloh menghargai usaha kami selama ini dengan cara yang luar biasa. Proposal yang kami ajukan ke bagian Skills Lab untuk mendapatkan dana telah disetujui. Selain itu, kelompok kami mendapatkan pujian dari bagian Skills Lab dan LSM KEBAYA sebagai kelompok terbaik yang mengadakan tugas “Integrated Patient Management” di angkatan 2009. Kyaa. Dan ternyata, selepas acara ini usai, kami juga mendapatkan sertifikat khusus dari fakultas atas usaha kami yang sukses ini. Alhamdulillah bi ni’matihi tatimusshalihaat..^^



Begitulah catatan kecil nafsa di tahun ketiga. Semoga bisa diambil manfaatnya ya.

Special thanks to :
Allohu Ta’ala, yang berkenan memberikan pengalaman luar biasa ini.

Kelompok TNK 26 : Acha, Alex, Eka, Ova, Aria, Tara, Febi, Elpha, Adhit, Ima dan Nusantara..
terimakasih untuk kerjasama yang tak terlupa..Senang menjadi bagian dari kalian..^^

Skills Lab FK UGM yang telah berbaik hati menyetujui proposal kami..

LSM Kebaya, atas partisipasi dan keterbukaannya mengikuti program ini..

Alhamdulillah..


-nm-

Minggu, 20 Mei 2012

m.a.s.a.l.a.h

bismillahirrahmaanirrahiim 
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful 

Setiap orang pasti memiliki masalah. Dan terkadang tanpa sadar merekalah yang menjadi sumber masalah. Bagaimanapun kita hidup di dunia ini pasti takkan pernah lepas dari yang namanya masalah. Masalah, yang semakin kedepan terasa semakin berat untuk dipikul, namun juga menempa kita untuk menjadi lebih tangguh dari sebelumnya.

Jika teringat masa kecil dulu, ketika kita masih dalam hitungan bulan yang awal, masalah kita sangat terasa simple untuk orang dewasa. Belajar berjalan. Tertatih-tatih, terantuk, terjatuh, menjadi hal biasa dalam permasalahan masa kecil kita. Bahkan kadangkala kita ditertawakan oleh para dewasa yang menganggapnya sebagai hiburan yang asyik ditonton. Tanpa mereka tahu,  untuk menggerakan langkah kecil ini terasa seperti memindahkan gunung. Mudah teorinya, tapi prakteknya sungguh tak seperti teorinya.

Namun. Apakah kita jaman kecil dulu menyerah?
Semakin terjatuh, justru semakin asyik rasanya belajar berjalan. Meski tubuh sudah dihiasi berbagai macam goresan dan kepala sudah tak terhitung berapa kali terbentur, langkah kaki kecil ini tak pernah berhenti. Menendang, tak tentu arah. Bergeliat. Ingin berlari meski harus jatuh lagi. Biarlah orang dewasa itu tertawa, karena bagi kita tawa mereka tak ada artinya. Justru terdengar seperti penyemangat untuk terus menapak. Sedikit demi sedikit.

Dan lihatlah. Waktu lah yang akan menjadi obat dari setiap masalah. Ditemani dengan usaha yang tiada henti dan keteguhan hati. Kaki kecil ini mulai bisa menapak mandiri. Yang tertawa terdiam. Takjub. Kemudian memeluk hangat dan memberikan senyuman selamat. Sakit yang dirasa badan seolah menghilang, hanya tersisa kegembiraan. Dan tak hanya menapak, namun sekarang kita sudah siap untuk sebuah masalah baru. Berlari. Merasakan hembusan angin yang menggoyangkan rambut. Melompat, meniru katak kecil di empang sebelah rumah. Tak sabar lagi.



Karena kata bernama "masalah" itu tak akan pernah berakhir. 
Namun selalu ada, untuk sebuah pembelajaran hidup yang tak ternilai.



-nm-

Minggu, 15 April 2012

catatan kecil di tahun ketiga

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Sebuah catatan kecil di tahun ketiga.


Tahun ketiga dibangku kedokteran, saya ditakdirkan masuk di sebuah kelompok tutorial yang paling berwarna selama ini. Setiap pribadi memiliki karakter khas masing-masing yang dominan. Tak ada yang serupa. Tentu saja hal ini menjadi sebuah pengalaman tersendiri bagi seorang nafsa. Di tahun ketiga ini, ada satu kisah tak terlupa. Terasa berat di awal, namun kemudian menjadikan banyak sekali hikmah yang mendalam untuk di petik ranumnya.

Sebuah tugas yang mengaburkan semangat.
Pesan singkat dari seorang teman membuat semangat saya drop. Tak terhingga. Sebuah tugas ke LSM yang saya pikir akan sangat menyenangkan, terasa seperti sembilu di hati. Awalnya, saya membayangkan kami satu kelompok akan pergi ke sebuah LSM idaman saya. LSM yang mengurusi tentang ibu dan anak, atau mungkin tentang lansia. Namun terkadang kenyataan memang tak seperti harapan. Qodarulloh, saya dan teman-teman di tugaskan ke sebuah LSM yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebuah LSM yang paling saya takuti untuk di datangi. LSM yang berfokus pada permasalahan waria.

Heboh. Pasti. Kami sekelompok tak menyangka akan pergi kesana. Apalagi melihat kelompok lain yang nampaknya enak dengan LSM mereka. Kami, atau lebih tepatnya seorang nafsa merasa gentar dengan tugas kali ini. Saya tak pernah sekalipun memiliki pengalaman dengan para waria. Bagi saya, meski menantang tapi saya sungguh tak punya persiapan. Persiapan hati lebih tepatnya, karena bagi saya di dunia ini hanya ada dua jenis kelamin. Pria dan Wanita. Tak lebih.

Berusahalah!
Ditengah-tengah rasa enggan yang menyelimuti hati. Seorang teman saya dengan penuh semangat terus mengajak kami untuk berusaha bersama. Awalnya, saya masih tak bersemangat. Namun melihat teman saya yang masih bisa ceria dan gembira dengan tugas ini, saya pun mulai merubah pola pikir saya selama ini. Jalani saja. Jangan dipikirkan. Karena jika dipikirkan terus menerus tak ubahnya berjalan di tempat. Tak ada progress, hanya menguras fisik dan hati. Maka selepas itulah saya ikut bersama dengan teman-teman mulai menyusun rencana apa yang akan kami lakukan di LSM tersebut. Kami ingin sebuah program yang unik, dan tak biasa. Dan jika bisa, dapat mengubah pandangan mereka.

Kunjungan Pertama
Kunjungan kami ke LSM tersebut untuk pertama kalinya berjalan cukup lancar. Berdiskusi dengan Mami yang ada di sana, kami semakin memiliki gambaran mengenai LSM ini. Kami pun jadi mengerti, bahwa kebanyakan dari para waria menggantungkan hidupnya dari dunia malam semata. Meski ada beberapa yang juga mengamen atau berwirausaha, namun rata-rata lebih memilih menjadi pekerja malam dalam konotasi negatif. Sebuah pertanyaan besar muncul di otak saya saat itu. “Kira-kira siapa pelanggannya ya?”

Menjelang subuh, di sudut kota Yogyakarta
Pukul setengah empat pagi kami sekelompok berkumpul di kos seorang teman. Kami sudah menyusun rencana. Pagi ini kami akan bertemu para waria dunia malam selepas mereka bekerja. Maka dengan semangat tinggi, kami mengayuh sepeda bersama. Menyusuri jalan Monjali menuju Bank Indonesia di tengah kota. Seru, asyik dan tak terlupa. Apalagi banyak adegan tak terduga yang muncul. Ketika seroang teman tertinggal karena ban yang mendadak kempes. Perjalanan pun terhenti sebentar, meski akhirnya tetap dilanjutkan.

Menjelang subuh, kami akhirnya bertemu para waria. Saya kaget, tak percaya dalam hati. Para waria ini cantik. Dalam artian, untuk seorang nafsa yang jarang bertemu waria mereka terlihat berbeda. Kebanyakan waria yang pernah ditemui adalah mereka yang mengamen, dengan silikon yang tak berbentuk memenuhi tubuh. Tapi, waria pekerja malam ini berbeda. Kaki jenjang, rok mini, rambut panjang, high-heels. Heumm. Saya sendiri sampai tak bisa berkata-kata.

~ to be continued





-nm-

Sabtu, 07 April 2012

manusia setengah hati

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful



Terkadang, kita memang perlu berhenti dan menengok masa lalu. Sebuah pemastian. Bahwa langkah yang selama ini kita tempuh memang pada jalur yang sesuai. Tidak menyimpang, berbelok atau justru kembali memutar kepada kesalahan yang sama.

Satu hal yang menggelitik adalah melihat kondisi hati saat ini. Banyak sekali peristiwa yang terlewati, ratusan hari terlampaui, dan jutaan detik yang menjadi saksi. Namun semuanya tak bisa dengan pasti menggambarkan kondisi hati. Hanya Ia Sang Pemilik Hati-lah yang paling mengerti.

Setengah hati.
Tandanya, belum sepenuhnya bisa memahami. Belum sepenuhnya bisa menjalani. Belum sepenuhnya bisa mengerti, bahwa semua ini tidaklah ada untuk sebuah kesia-siaan. Ada hikmah yang selalu saja datang pada waktu yang tepat. Membuka tabir yang selama ini tertutup rapat.

Manusia setengah hati.
Manusia yang merasa apa yang sudah dilakukannya masihlah separuh dari hati yang tercerai berai. Belum ada yang maksimal, belum ada yang memuaskan. Semua terasa setengah-setengah. Terasa tak ada gairah. Hanya di awal, kemudian terkaburkan.

Padahal, itu MIMPI. Itu CITA-CITA. Itu HARAPAN.
Bagaimana mungkin diraih dengan hati yang masih setengah-setengah?!

Lantas bagaimana caranya merubah hati yang separuh itu menjadi utuh?
Satu kuncinya : Luruskan Niat! Jika semua itu kau lakukan karena-Nya. Sungguh tak akan ada rasa berat, beban, gelisah, dan gundah yang menyertai.

Tapi sekali lagi, meluruskan niat itu lebih mudah dituliskan dibandingkan diamalkan. Butuh keteguhan dan kesabaran untuk senantiasa menjaganya kembali lurus. Dan jangan pernah berharap kehidupan akan semanis madu di film-film atau novel fiksi. Ini realita. Bukan dunia maya. Kau ada, untuk sebuah tanggung jawab. Dan tidaklah tanggung jawab akan terselesaikan dengan indah, melainkan dengan keutuhan hati dalam menjalaninya.


"maka  jangan jadi manusia setengah hati!"


 -nm-

Minggu, 01 April 2012

luka bakar dan embun penyejuk

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful 

Ditengah rutinitas yang cukup menyibukkan ini, nafsa tiba-tiba teringat akan sebuah cerita di komik masa kecil. Saat itu, sang tokoh kecil berucap, 
"jangan menyentuh ikan dengan tangan langsung..dinginkan dulu tanganmu dengan air, karena suhu badan kita bisa menjadi luka bakar baginya". 

Bagi nafsa, kata-kata itu punya makna tersendiri.
Apalagi, ketika seringkali berinteraksi dengan teman-teman yang ditemui hampir setiap harinya.

Berpikir.
Jangan-jangan, selama ini tak sengaja diri ini telah menjadi luka bakar bagi orang lain.
Bukan pada fisik, raga dan jasmani.
Tapi luka bakar dihati.

Bukankah kita tak pernah tahu?
Bisa saja, kata-kata yang kita anggap biasa..terasa sangat menghujam hati saudara kita.
Perbuatan yang kita anggap sepele..menjadi pelecut dendam di hati orang lain.
Atau obrolan tak penting kita..terdengar seperti sindiran di telinga mereka.

Merenungi sikap selama ini.
Sungguh, takut jika demikian adanya.

Bagaimana jika mereka kelak meminta pertanggung-jawabanku di akhirat sana?
Tanpa sempat aku meminta maaf pada mereka didunia.
Sungguh, merugilah aku.
Amalku saja masih tak cukup membawaku ke syurga.

Maka, berhati-hatilah.
Dalam berniat, berkata, dan bersikap.
Mohonlah petunjuk, agar Ia selalu membimbing jalan kita.
Hingga setiap langkah, bukanlah menjadi luka bakar bagi orang lain.
Melainkan menjadi embun, yang meyejukkan hati setiap insan.




-nm-

Rabu, 07 Maret 2012

just for You

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Lelah?
Aku juga.
Sibuk?
Yap, begitupula aku.
Tapi setidaknya balaslah sms ku.
Sesulit itukah?

Kalimat ini beberapa hari ini memenuhi ruang pikiranku. Saat dimana kesibukan terasa menghimpit jiwa dan raga. Tak perlu kusebutkan, tapi yang jelas fisik ini lama kelamaan terasa berat untuk menjalaninya. Setiap bangun pagi, badan tak pernah sesegar yang lalu. Capek yang terakumulasi. Letih yang tertumpuk. Hak tubuh yang sering tertunaikan dengan cara yang tidak sempurna.

Tak apa. Ini pilihan yang harus dijalani. Bukankah sudah menjadi prinsip, untuk menyelesaikan dengan baik apa yang telah dimulai? Tak perlu ada rasa berat, mengeluh, merutuk. Nikmatilah sebagai sebuah coretan yang tergores dalam catatan hidup. Jalani dengan hati yang ikhlas, dan penuh semangat. Tunggu tanggal mainnya, pasti ada yang istimewa menunggu masa.

Ruwet? Sangat. Apalagi saat orang-orang yang dulu kita pilih mulai berubah haluan. Kata-kata pembuka itu menjadi buktinya. Hanya kesabaran, dan terus berbaik sangka menjadi obat sakit saat ini. Kala hati mulai mengeruh oleh karat-karat tak tersadarkan. Hanya do’a pada-Nya lah yang menjadi penguat. Untuk senantiasa meluruskan niat dan tekad.

Maka, kata-kata selanjutnya menjadi penghibur hati yang tak terbatas. Seringkali menggumamkan kata ini dalam hari. Setiap pagi menjelang, kala pundak memberat, waktu senyum terasa berat untuk terkulum, saat menuju peraduan malam.

“If it is not for You, then for who?”
Jalani lah semua karena-Nya. Inginku, semua ini tak hanya berbuah di didunia. Akhiratpun turut serta. Karena ATP yang terkuras untuk semua ini akan sama. Namun hasilnya akan berbeda jika niatnya berbeda. Apa yang membedakannya? Yap. Pahala. Dan keridhoaan-Nya.

Jika bukan untuk-Nya, untuk siapa lagi? Jika bukan karena-Nya, karena siapa lagi?
Alloh mengerti sejauh mana engkau berusaha cha.
Sahabat itu hilang timbul, keluarga pun memiliki masa tersendiri.
Tapi Ia. Selalu ada. Alloh, selalu ada.




-nm-

Jumat, 17 Februari 2012

ilmuku hilang kemana?

bismillahirrahmaanirrahiim
 In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful



Sedikit cerita tentang kuliah saya.

Libur sudah menjelang pergi. Membayangkan semester depan yang akan datang rasanya akan lebih berat dibandingkan sebelumnya. Banyak urusan yang harus terpenuhi. Banyak janji dan amanah menyertai. Namun tak boleh mengeluh, harus tetap semangat! ^^

Nah, selama libur ini banyak sekali hal yang saya renungkan. Tentang ibadah, mama, bapak, keluarga, serta teman-teman dan banyak hal yang harus diluruskan sebelum terlambat. Satu yang menggelitik saya, adalah merenungkan tentang ilmu yang saya dapatkan selama saya duduk di bangku kedokteran ini. Betapa saya merasa ilmu hilang tiada berbekas. Padahal saya sudah ikat dengan catatan yang menumpuk, bahkan kadang beberapa teman sampai mengcopy catatan saya meski saya tak yakin bisa dibaca (tulisan saya aneh soalnya). Namun, setelah ujian blok usai, ilmupun seakan hilang entah kemana. Sudah berapa ujian blok terlewati, namun tetap saja rasa sedih selepasnya menyertai.


Sedih. Saya khawatir, seperti biasanya ilmu saya hilang. Mengapa sulit sekali mengikat ilmu di hati. Baru beberapa bulan lalu saya mendapat satu materi tentang penyakit itu, sekarang sudah lupa. Anatomi hilang, skills terlupa, fisiologi tak ingat sama sekali, patologi tak yakin. Mau jadi dokter macam apa kau nafsaa! >.<. Tidak selamanya bisa beralasan "Maaf, saya masih semester 1 belum dapat materi itu semua". Sekarang waktu sudah beranjak cepat, tiba-tiba sudah duduk di semester 6, masak mau pake alasan sama --'?

Sedih. Sedih. Sedih.

Namuuun,
saya mendapatkan jawabannya.
Taraaa!

Silakan dibaca yaa.

Pertanyaan.Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya, “Saya seorang yang mempunyai keinginan untuk menuntut ilmu dan ingin memberi manfaat kepada orang lain. Akan tetapi problem yang dihadapi adalah selalu lupa dan tidak teringat sedikitpun dalam pikiran saya akan ilmu yang saya dengar. Apakah nasehat Syaikh kepada saya ? Semoga subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan antum ya Syaikh.


Jawaban
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, manusia berbeda-beda dalam menuntut ilmu, tidak setiap penuntut ilmu menghafal ilmu yang telah ia dengarkan. Akan tetapi (ia tentu) hafal sedikit dari ilmu yang ia dengar. Ilmu itu diperoleh sedikit demi sedikit. Jika terus menerus diulang maka akan hafal. Saya menasehati agar berusaha dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Qur’an. Karena menghafal itu adalah suatu tabiat, dengan menghafal dan mengulang-ulangi, maka hafalan akan terus bertambah dan akan semakin kuat.Barangsiapa bersungguh-sungguh ia akan dapati bahwa dengan menghafal Al-Qur’an akan memulai jalan untuk membuka “daya hafalannya”. 


Jika penanya belum hafal Al-Qur’an, hendaklah menghafal Al-Qur’an. Oleh karena itu sejumlah ulama pada masa lalu tatkala seorang penuntut ilmu masuk ke masjid ingin berguru dan menuntut ilmu kepada para syaikh setiap hari, sedangkan ia belum hafal Al-Qur’an, maka para syaikh tersebut berkata kepadanya,”Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu! Setelah hafal kembalilah kepada kami! (yang demikian itu) karena menghafal Al-Qur’an akan membukakan “kekuatan untuk mengingat”.Oleh karena seseorang yang telah mencoba menghafal Al-Qur’an, misalnya ia menghafal 10 juz, butuh waktu 8 jam untuk menghafalkannya. Ia pun harus mengulangnya kala itu. Akan tetapi setelah pada 20 juz yang terakhir, akan mudah dan mudah (sekali), hingga barangkali ia hafal 3/8 dari ½ juz dalam waktu antara maghrib dan isya atau sesudah subuh. Ini adalah suatu kenyataan, karena daya ingat akan terus bertambah jika selalu dilatih dan dipraktekkan. 


Oleh karena itu saya menasehatinya agar menghafal Al-Qur’an dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, karena ilmu akan bertambah dengan izin Allah Jalla Jalaluhu dan hafalan akan datang insya Allah.[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 02 Dzulqo'dah 1423/Januari 2003. Diterbitkan : Ma'had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar Muda 45 Surabaya]***
Artikel muslimah.or.id

Jleb jleb! Ini nasihatnya benar mengena. Sungguh. 
Tak ada lagi alasan.
#henshin!

-nm-

Selasa, 14 Februari 2012

karena cinta itu sederhana

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Merciful

Karena cinta itu sederhana.



Sungguh, cinta itu sederhana adanya. Hanya saja ketika ia mulai tercampur dengan berbagai macam keinginan manusia ia menjadi rumit layaknya benang wol yang kusut tak tahu ujung dan akhirnya. Terkadang, yang kita perlukan adalah mencoba melihat nya dari sudut pandang yang berbeda dari kebiasaan manusia. Gunakanlah hati. Gunakanlah rasa. Karena kesederhaan cinta itu ada. Simaklah..

Sebuah subuh, ketika seorang suami hendak bepergian jauh. Sang suami mesra berpamitan dengan istri tercinta. Mencium kening sang istri, ia berucap “Sayang, oleh-oleh apa yang ingin kubawakan untukmu?”. Sang istri tersenyum, berat melepaskan kepergian suami. “ Bagiku, engkau pulang dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun sudah jauh lebih dari cukup. “.

Inilah kesederhanaan cinta. Tak menuntut apapun. Karena bagi seorang istri, keberadaan seorang suami di sisinya sudah lebih dari cukup dibandingkan buah tangan terindah apapun.

Suatu malam. Sang suami terpaksa pulang malam. Istri dirumah pun cemas menunggu. Beberapa jam terlewati, sang suami yang ditunggu tak kunjung datang. Makan malam buatan sang istri belum tersentuh sama sekali. Sang istri khawatir, suami belumlah makan malam hingga ia menunggu suami untuk makan bersama. Cemas tak tertahankan. Malam pun sudah teramat larut. Istri yang keletihan menunggu pun tertidur di samping pintu rumah. Berharap, jika sang suami mengetuk pintu, ia dapat segera mendengar dan membukanya untuk suami tercinta. Sang suami akhirnya pulang ke rumah. Dengan perut kosong, ia yakin sang istri telah memasakkan makan malam untuknya malam itu. Namun, ketika mendapati waktu telah beranjak larut saat pulang, ia tak tega mengetuk pintu. Kasihan, sang istri pasti sudah tertidur. Menunggu pagi tiba, ia keletihan. Tertidur di depan pintu rumah. Sepasang suami istri itu sama-sama tak tahu, bahwa mereka hanya dipisahkan oleh pintu depan rumah mereka. Dengan kondisi yang sama, menahan lapar, menanti pasangannya.

Inilah kesederhanaan cinta. Setia, tanpa diminta. Menyayangi tak hanya lewat lisan,namun juga dalam kehidupan keseharian. Tak menanti balasan.

Ketika sang suami telah dihadapan istri, ia mencium kembali kening istrinya. Istripun bahagia tiada terkira. Melihat suami yang keletihan, ia segera mempersilakan suami untuk beristirahat. Senyum bahagia terpancar dari wajah sang istri. Suami yang juga tersenyum, malu-malu memberikan sesuatu untuk istri. Sebuah buah tangan, bukan tas bermerk, sepatu mahal atau bahkan perhiasan. Namun sepotong pakaian baru untuk sang istri. Sederhana, namun manis. Sang suami menyadari betul, sang istri tak pernah meminta dibelikan apapun. Ia hanya ingin, istri bahagia dengan pakaian barunya. Karena istrinya selama ini telah bekerja keras menyediakan keperluannya. Serta menjaga buah hatinya dengan penuh cinta. Istri yang tak menyangka suaminya membawa buah tangan sangat bahagia. Sungguh, suaminya penuh perhatian padanya. Tanpa ia minta pun, suami mengerti. Pakaian rumahnya saat itu sudah penuh tambalan disana-sini. Betapa suaminya memperhatikannya.

Inilah kesederhaan cinta. Perhatian kecil dari suami yang patut dipuji. Ia memahami, tanpa kata. Ia peduli tanpa banyak bicara. Baginya, sebuah senyum yang terpancar dari wajah istrinya sudah cukup untuk membahagiakan hatinya.

Kata orang, dalam kehidupan berumah tangga ada dua hal yang tak boleh lepas. Yakni sabar, dan syukur. Suami yang sabar akan kepribadian istrinya. Menyadari bahwa wanita diciptakan lebih lemah dari lak-laki. Suami yang sabar pada istrinya, akan memahami terkadang wanita memang adakalanya “bengkok” layaknya rusuk pertama. Suami yang sabar, akan memahami, terkadang istri tidak membutuhkan solusi, ia hanya membutuhkan teman berbagi. Betapa banyak cerita suami yang tak sabar pada sang istri. Pukul sana, pukul sini, bentakan, caci maki dan ucapan kasar terus menyertai kehidupan rumah tangganya. Sungguh, tak pantas bagi seorang suami untuk berbuat demikian. Tidakkah ia mengingat bahwa..

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162. Lihat Ash-Shahihah no. 284)

Selanjutnya..

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).

Sedangkan sifat yang harus dimiliki seorang istri adalah syukur. Bersyukur dengan apapun yang diberikan oleh suaminya. Bersyukur atas kehidupan rumah tangganya. Ia tak pernah melirik rumah tangga lain, dengan penuh kemewahan dan cerita yang ada didalamnya. Ia mensyukuri, apapun yang diberikan suami haruslah dihargai. Betapa ia menyadari suaminya telah berpayah-payah mencari nafkah bagi penghidupan rumah tangganya. Istri yang bersyukur pada suami, istri yang beruntung. Karena ia mampu memahami bahwa kehidupan dunia tak abadi. Kebahagiaan sejati, bukan pada harta, kedudukan dan rupa yang dimiliki oleh suami. Namun pada bagaimana ia menata hati dan mensyukuri. Banyak cerita istri yang tak mampu mensyukuri suaminya. Menjadi seorang isti yang tunjuk sana-tunjuk sini. Ingin ini, ingin itu. Membandingkan rumah tangganya dengan rumah tangga orang lain. Merasa suami belumlah mampu memenuhi kebutuhannya. Sungguh, sudah seharusnya ia mengingat, bahwasanya..

Rasulullah shollallohu ‘alaih wa sallam bersabda, “Saya melihat  kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari keluarga dan kebaikan-kebaikan suami. Jika sekiranya engkau berbuat baik kepadanya, lalu ia melihat sedikit kekurangan darimu, maka ia berkata: ‘Saya tidak melihat suatu kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Al-Bukhari No. 29 dan Muslim No. 907)

Percayalah. Cinta itu sederhana.



Further reading :


-nm-

Sabtu, 11 Februari 2012

dalam diam


Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful



Merenungi. Dalam diam.
Terjebak. Tak berujung.
Letih. Lelah. Aku bosan
Sudah cukup. Hentikan.

Dulu.
Berbincang tentang masa depan.
Selalu mengasyikkan.
Sekarang.
Menyeramkan.
Terlena dalam dekapan angan.

Sedih. Pasti.
Senang. Tak terkirakan.
Alloh mengerti.
Bertahan.


Karena memang hanya sang waktu, yang berbaik hati mengobati kesedihan.  Dan terkadang untuk membuat seseorang menyadari apa yang ia rasakan, justru cara terbaik adalah melalui hal-hal yang menyakitkan –sbr-

Maka berhati-hatilah!
Ketika meletakkan dan memberi harapan pada waktu dan tempat yang salah.
Karena tidaklah seseorang berharap, kecuali ia telah terlebih dahulu diberi harapan.