In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ketika engkau mendapati tidak ada seorangpun selain Allohu Ta'ala bersamamu, maka ketahuilah bahwasanya Allohu Ta'ala sudah lebih dari cukup dibandingkan segalanya.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.." (As-Suusiy)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhainya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku.." (Al-Fajr : 27-30)

Recent Posts

Sabtu, 23 September 2017

Jauh di Mata. Dekat di Hati

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful



Dering suara handphone membuyarkan lamunanku. Tampak foto profil suamiku terlihat di layar. Aku segera mengangkat video-call darinya.
“Assalaamu’alaykum, Sayang…”
“Wa’alaykumussalaam, Mas...”
“Maaf ya, teleponnya jadi kemalaman. Disana udah hampir jam 12 malam ya?”
“Iya gapapa, belum ngantuk kok. Lagi mikirin sesuatu ini...”
“Mikirin apa, Sayang?”
“Tentang kita, Mas…”
Seketika pikiranku terbang mengingat memori  dua tahun terakhir ini. Kenangan peristiwa yang mewarnai pasang surut kehidupan pernikahan kami berdua.
November, 2015
                Kisah pernikahan jarak jauh kami dimulai di bulan kedelapan pernikahan kami. Ketika saya mengikuti program Internship Dokter Indonesia di Jogja, sedangkan suami bekerja sebagai Engineer di Cikampek. Meski sedang berjauhan, ikhtiar kami berdua untuk segera memiliki keturunan tak lantas berhenti. Namun,menginjak bulan kesebelas pernikahan, tanda kehamilan belum muncul juga.
                “Mas, aku dapat haidh lagi...”
                “Gapapa Sayang, insyaa Allaah bulan depan kita coba lagi ya...”
“Aku udah capek, Mas. Setiap bulan aku pusing ngotak-atik jadwal jaga biar kita bisa ketemu.”
“Iya, sayang.Mas paham banget perasaanmu. Kita santai saja ya. Insyaa Allaah kalau udah waktunya Allaah pasti akan ngasih buah hati. Sabar ya sayang...”
“Iya, Mas. Kayanya aku harus lebih belajar pasrah sama Allaah...”

Februari, 2016
                “Sayang, aku mau cerita...”
                “Kenapa, Sayang?”
“Alhamdulillaah aku positif hamil, Mas.  Itu hasil testpack 3 hari terakhir, aku kirimin gambarnya ya”
                “Saayaaaaaang…Mas terharu bangeeeett...ya Allaah Alhamdulillaah…”
                “Aku pingin peluk Mas...”
                “Heeem…Mas juga pingin banget peluk kamu, Sayang...”
Tanpa kami berdua menyangka dibulan keduabelas pernikahan akhirnya saya hamil. Tantangan selanjutnya pun hadir. Di sebuah kamar kos yang kecil dengan perabotan yang terbatas, saya menjalani kehamilan pertama saya sendiri. Meski diliputi rasa sedih, saya harus kuat dan tabah demi janin dalam kandungan saya.
“Hari ini muntah nggak, Sayang?”
“Muntah, banyak banget sampai ke lantai…”
“Ya Allaah, trus ini sekarang badannya gimana? Lemes ya?”
“Lemes banget. Perutku juga kerasa agak kenceng tadi habis RJP pasien. Lupa kalau lagi hamil, hehe.”
“Istirahat ya, Sayang. Jangan sampai kecapekan…”

September, 2016
                Bandara Adi Soemarmo menjadi saksi kesedihan saya saat itu. Setelah menjalani kehamilan seorang diri di perantauan, kini menjelang persalinan saya justru harus ikhlas melepas kepergian suami ke benua biru. Jarak kami berdua semakin membentang. Perbedaan kota, negara, benua serta zona waktu semakin memisahkan. Ketika beliau berpamitan, mengecup kedua pipi saya, kemudian mengusap janin dalam kandungan saya, air mata saya tak terbendung lagi. Saya melihat kesedihan yang sama di wajah suami. Dan kamipun berpelukan lama sekali.

Oktober, 2016
                Ketika memeriksakan kehamilan di bulan kesembilan, saya justru mendapatkan kabar yang mengagetkan. Janin dalam kandungan sudah kekurangan oksigen sehingga harus segera dilahirkan dengan operasi. Saya merasa takut, kaget, cemas dan bingung mendengarnya. Akhirnya saya menelpon suami, meski  disana hari masih pagi buta.
                “Mas, aku harus operasi siang ini…”
                “Astaghfirullaah. Kenapa Sayang?”
                “Dedek kekurangan oksigen, jadi harus dikeluarkan segera. Doain operasinya lancar ya, Mas. Aku juga minta maaf kalau selama ini ada kesalahan sama Mas. I love you.”
                “ Ya Allaah… Bismillaah semoga operasinya lancar ya…I love you more, honey”
 Seusai operasi, suami menelpon ingin mendengar suara saya. Pertama kali saya mendengar suara beliau, tangis saya tumpah. Beliau pun menangis sesenggukan di seberang sana. Tak terlukiskan perasaan kami berdua saat itu Kami berdua menangis bersama.
               
Kembali ke malam ini, tanpa terasa kami sudah mengobrol cukup lama. Mengalirkan rasa sekaligus melepas kerinduan yang selama ini tertahan.
“Nggak kerasa ya, ternyata kita udah hampir dua tahun LDM. Maafin Mas ya, Sayang. Nggak bisa nemenin kamu disana.”
“Iya... Aku juga minta maaf belum bisa mendampingi Mas. Kuliah S2 di negeri orang pasti juga berat ya.”
“ Semoga kita segera bareng lagi ya, Sayang. Aamiin”
“Aamiin. Udah malam banget ternyata. Aku tidur dulu ya, Mas.”
“Oke . Makasih  buat telponnya malam ini ya. I miss you so much honey”
“I miss you too, Mas.”
                Dan sesi video-call kami pun berakhir malam itu.

                Hidup adalah rangkaian pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya. Saat ini, pernikahan jarak jauh adalah pilihan terbaik yang kami punya. Namun kami akan tetap berusaha menjalani pilihan itu dengan bahagia. Lewat inilah kami belajar, bahwa momen bersama pasangan adalah salah satu nikmat yang sangat patut untuk disyukuri. Dan meski berjauhan, cinta itu masih tetap bisa ditumbuhkan. Karena sejatinya, jarak dan waktu tidak akan pernah memisahkan dua hati yang saling peduli. Meski jauh di mata, kami tetap merasa dekat di hati.


-nafsacha-

Sabtu, 17 Juni 2017

Komunikasi Produktif (Day 10)

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Tulisan terkahir dari tantantang sepuluh hari Komunikasi Produktif. Alhamdulillaah J

1. Komunikasi Produktif dengan Suami
Setelah hari sebelumnya saya sempat merasakan kesalahan dalam menyampaikan pesan saya kepada suami, saya berusaha memperbaiki hal itu. Suami dan saya sama-sama menyadari bahwa sesi telepon terakhir tidak berakhir dengan cukup baik, dan kami sama-sama tidak nyaman dengan itu. Melalui WA suami saya berusaha menyampaikan yang beliau rasakan. Dan itu menjadi kesempatan bagi saya untuk memperbaiki cara saya menyampaikan pesan itu ke suami juga.

Saya memberikan penjelasan pada suami tentang apa yang tadi kita bahas. Saya juga menyampaikan maksud dari obrolan saya tadi seperti itu, dan respon yang saya inginkan dari suami seperti apa. Alhamdulillaah suami menerima, saya pun juga menerima maksud dari suami. DI akhir sesi kami sama-sama meminta maaf dan saling memaafkan. J

2. Komunikasi Produktif dengan Anak
Pada poin ini masih tentang memberikan “Pilihan”. Saya masih ingin terus belajar memberikan pilihan dan kesempatan pada Akhfiya. Kali ini tentang makanan yang ingin ia makan. Di usia 7 bulan saat ini, saya dibuat kagum dengan kemampuan Akhfiya yang mulai menunjukkan kemauannya, termasuk memilih makanan yang ia inginkan untuk disantap.

Akhfiya biasanya sangat mudah disuapi, apalagi jika makanan itu merupakan masakan bikinan saya sendiri. Tapi sore ini tiba-tiba Akhfiya sangat suliit makan. Saya yang bingung akhirnya mencoba merecall memori saya, dan ternyata selama 3 hari terakhir saya memasak menu yang sama buatnya. Ia bosan ternyata J Akhirnya saya ajak untuk bicara, sambil bertanya menu apa yang ingin ia makan hari ini. Akhfiya menjawab dengan celotehan yang saya sendiri tidak tahu artinya apa hehe. Dan ketika saya dekatkan dengan bubur beras merah, dia ingin sekali meraihnya. Alhamdulillaah sore itu Akhfiya makan lahap dengan bubur beras merah. ^^

Penutup : Setelah sepuluh hari mempraktikkan komunikasi produktif, saya merasa banyak sekali kekurangan dari diri saya. Namun saya bersyukur karena kali ini saya sudah lebih siap dengan panduan komunikasi produktif tersebut. Poin-poin dalam komunikasi produktif tersebut dapat menjadi pengingat dan indikator bagi saya dalam belajar mengamalkan keterampilan tersebut. Kedepannya saya ingin terus berlatih menerapkan poin-poin tersebut, agar dapat menjadi sebuah kebiasaan yang akan saya bawa hingga seterusnya. Aamiin J

#day10
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip 




Komunikasi Produktif (Day 9)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful

Sebuah tulisan mengenai Komunikasi Produktif di hari kesembilan.

1.       Komunikasi Produktif dengan Suami
Pada komunikasi hari ini, saya belajar pentingnya kalimat “I am responsible for my communication result”. Bahwa ternyata apabila penerima pesan tidak bisa menangkap maksud dari pemberi pesan, maka itu tanggung jawab dari pemberi pesan. Setiap komunikator (pemberi pesan) akan bertanggung jawab atas hasil komunikasi yang ia lakukan.

Hari ini pun demikian. Setelah sekian waktu saya dan suami tidak telponan dalam jangka waktu dan kualitas yang cukup baik, kami bisa telponan kembali di malam hari. Awalnya pembicaraan ini berlangsung lancar, masing-masing merasa senang bisa mengalirkan perasaannya. Namun menjelang akhir, ada satu topik yang saya bahas dan ternyata saya tidak mendapatkan respon yang baik dari suami. Saya yang sedikit menahan kecewa dan sedih akhirnya terdiam cukup lama. Suami juga demikian. Akhirnya kami menelpon sesi telepon hari itu dengan perasaan yang masih mengganjal :’(.

2.       Komunikasi Produktif dengan Anak
Pada hari ini, masih tentang memberikan “Pilihan” pada anak. Saya berusaha terus mengaplikasikan cara memberikan pilihan ke Akhfiya dengan baik. Apapun aktivitas yang akan ia lakukan saya berusaha memberikan dan menanyakan ke Akhfiya. Meski mungkin ia belum sepenuhnya mengerti dan hanya memandang balik ke saya sambil tersenyum. Saya biasanya berusaha menerjemahkan bahasa tubuh dan mata si kecil atas pilihan-pilihan yang saya berikan.

Sebagai contoh, saat memilih buku bacaan. Di antara berbagai koleksi buku yang ia miliki, saya mengajaknya memilih buku mana yang ingin ia baca hari itu. Akhfiya sudah memiliki satu buku favorit sejak kecil, dan ia selalu suka melihat gambar-gambar di buku itu. Saya menghormati pilihannya dan kembali membacakan buku itu dengan gembira J

#day9
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip