In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ketika engkau mendapati tidak ada seorangpun selain Allohu Ta'ala bersamamu, maka ketahuilah bahwasanya Allohu Ta'ala sudah lebih dari cukup dibandingkan segalanya.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.." (As-Suusiy)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhainya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku.." (Al-Fajr : 27-30)

Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label sekelumit aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekelumit aku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

#3 : Stase Saraf, Saatnya Belajar Menata Hati

bismillahirrahmaanirrahiim
 In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

 Alhamdulilllah akhirnya tiba di stase ketiga saya.. Selamat datang di Stase Saraf :))



Stase saraf stase yang teramat berkesan. Di stase ini banyak cerita tak terlupakan yang bisa dibagikan. Ada duka, tapi lebih banyak suka nya. Alhamdulillaah, acha belajar banyak dari stase ini.

Awal masuk stase saraf, saya dan teman-teman dibagi menjadi kelompok kecil dan diberikan seorang residen untuk mendampingi kami selama di stase saraf. Saya termasuk beruntung mendapatkan pemimbing seorang residen yang pandai sekali. Sebut saja nama beliau dr. D. Saya diajari banyak hal oleh dr.D dari mulai teori, hingga pemeriksaan fisik kepada pasien. 

Kisah pertama yang ingin saya bagi adalah ketika saya bertugas untuk memiliki tanggung jawab kepada seorang pasien, sebut saja Bp.S. Bapak S di diagnosis sebagai penderita stroke hemorrhagik dan iskemik luas dengan GCS beliau hanya mencapai 3 poin. Saat mengelola Bp.S, saya diajari banyak hal oleh dr.D, termasuk bagaimana memeriksa pasien dengan kecurigaan mati batang otak seperti Bp.S. Pemeriksaan tes  batang otak pun dilakukan, dan karena pusat pernapasan Bp.S sudah terkena, maka praktis Bp.S harus menggunakan alat bantu berupa respirator untuk membantu pernapasan beliau. Untuk itulah beliau tidak dirawat di bangsal, namun di IGD kemudian dipindah ke IMC (Intermediate Care).

Setelah beberapa hari memeriksa Bp.S,  akhirnya keluarga bersedia menandatangani keputusan untuk dilakukan withdrawal pada beliau. Withdrawal artinya menarik terapi yang sudah diberikan kepada pasien  karena prognosis pada pasien sangat rendah, dan sudah terjadi kematian batang otak. Pada kasus ini, Bp.S akan dilepaskan dari respirator yang membantu beliau untuk bernapas. Saya belajar bagaimana caranya memberikan penjelasan yang baik kepada keluarga Bp.S. Tentunya hal ini tidak mudah bagi seorang dokter, untuk menjelaskan kondisi pasien yang sudah teramat buruk.

Akhirnya, respirator pun diangkat. Saya tak kuasa melihat tubuh Bp.S yang bergoncang sebagai tanda asfiksia pada beliau. Monitor pun memperlihatkan denyut nadi Bp.S yang mulai menurun, hingga rekam jantungnya menjadi datar sempurna. Saya menahan airmata saat itu, sungguh rasanya tidak kuat melihatnya. Namun ketika saya melihat ke dr.D, beliau sangat tenang dan berusaha menghibur keluarga pasien dengan bijak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un.

Dalam perjalanan pulang menuju bangsal,dr. D bertanya pada saya, "Gimana menurutmu, Naf? ". Saya hanya  tersenyum sembari menjawab "Saya nggak tahu e dok.." Perasaan saya berkecamuk hebat saat itu.Membayangkan saya ada di posisi keluarga pasien, atau bahkan di posisi pasien itu sendiri. Wallaahu a'lam.

Kisah kedua saya, adalah ketika saya bertugas jaga malam dihari terakhir saya di stase saraf. Ada satu pasien saat itu yang kondisinya sudah kritis. Saya harus memeriksa kondisi beliau setiap 30 menit, bahkan 15 menit sekali. Saat kembali bertugas memeriksa beliau, saya dengan seksama mengecek tanda vital pada beliau. Mulai dari nadi, pernapasan, tekanan darah, dan tingkat saturasi oksigen pada pasien yang sudah tidak sadarkan diri tersebut. 

Saat akan memeriksa saturasi oksigen di jempol kaki pasien, alat tersebut tidak berfungsi, tidak ada angka yang muncul dari monitornya. Padahal tadi di jempol tangan alat tersebut masih berfungsi. Teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya memeriksa pasien lain datang membantu saya. Hm, saya pikir mungkin alat nya sudah rusak,karena memang beberapa kali sempat seperti itu ketika digunakan. Akhirnya saya meminta tolong teman saya untuk memanggil residen yang bertugas. Sambil menunggu residen, saya coba pindahkan alat tersebut ke jempol kaki yang lain. Masih tak berfungsi. Saya berpikir sesaat,kemudian saya sadar. Saya tidak lagi mendengar suara napas pada pasien tersebut. Code Blue! Saya teriak memanggil bantuan. Ketika residen datang dan sempat dilakukan bantuan hidup,  ternyata pasien tersebut sudah dinyatakan meninggal dunia.

Saya tertegun. Kurang dari lima menit yang lalu saya masih dapat meraba nadi pasien, mengukur tekanan darah pasien, dan mendengar suara napas beliau. Dan kini, setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung beliau, praktis tidak ada irama disana. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un. Sungguh kematian terasa amat dekat dan cepat.

Kisah ketiga saya, saat memeriksa seorang pasien dengan nyeri pinggang karena ada Hernia Nucleus Pulposus pada tulang belakangnya. Saat masuk dan mengucapkan salam, beliau sebut saja Bp.B menjawab salam saya dengan antusias. Melihat sekeliling, ternyata tak ada yang menemani beliau di kamar, melainkan beberapa buku bacaan agama,koran dan sebuah alquran. Bapak B sangat kooperatif ketika diperiksa, beliau juga sangat antusias ketika tahu saya pernah ikut kajian di tempat beliau biasa kajian. Menawarkan beberapa rekaman kajian yang ada di HP beliau dan becerita pengalaman beliau. Saat saya berusaha menghibur beliau akan sakitnya, beliau tampak bahagia, tidak ada raut sedih diwajahnya. Bahkan beliau sempat berkata bahwa beliau menikmati sakit beliau dan bersyukur, karena dengan demikian beliau jadi lebih sering mengingat Allaah.

Cless, Serasa ada embun penyejuk menetes di hati saya saat itu. Betapa indahnya hati Bp.B sampai bisa  begitu santun menyikapi takdir dari Allaah.. Masyaa Allaah.. :)

Begitulah stase saraf. Stase yang teramat berkesan. Banyak cerita lain, tapi diantaranya tiga kisah ini yg paling berkesan. Ohya di stase saraf ini saya juga mendapatkan banyak sekali kemudahan. Apalagi ketika ujian bersama dr.I, subhanallaah beliau konsulen yang luaar biasa baiknya.. Saya ngefans sekali dengan beliau. Saat ujian  saya lebih banyak membahas topik selain ujian, seperti batik, jilbab,dokter dan pasien dsb. Inspiratif sekali. Sampai sekarang pun kalau saya sapa ketika bertemu beliau juga tersenyum menyenangkan. Alhamdulillaah.. ^^

Heumm.. Stase saraf mungkin akan  menjadi salah satu stase favorit saya.. Hehe. Karena saat melewati stase ini saya seperti diajak bercengkrama dengan hati saya sendiri. Memaknai semua dengan hati, dan terus berupaya mensyukuri. Alhamdulillaah.

Nah, bagaimana dengan anda?
:)




 -nm-

Rabu, 03 Oktober 2012

Untukmu, hati.

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Untukmu, hati.
Wahai hatiku, sekian lama aku selalu mencoba berdamai denganmu. Memahamimu sepenuhnya, mengajakmu berbicara dalam renungan panjang yang tak pernah ku tinggalkan. Namun, meski jabatan padamu terus ku lakukan, hingga saat ini tetap saja tak kuasa aku melihatmu berubah arah. Terombang-ambing.

Aku menyadari, hati jauh lebih licin dari apapun. Bahkan dari belut sawah yang kupegang di tanganpun, engkau jauh lebih licin. Engkau sangat mudah berubah arah, duhai hatiku. Disatu  waktu aku  melihatmu teguh dalam kebenaran menjaga agama. Namun di sisi lain, kulihat kau pun lalai karena maksiat yang tak kau sadari sendiri. Apa maumu?

Ketika aku mendapatimu tegas pada mereka, lawan jenismu. Kekagumanku padamu bertambah. Betapa engkau berusaha menutup seluruh celah yang akan membuatmu ternoda. Memerintahkan para pasukanmu untuk waspada setiap saat. Mata yang menunduk, lisan yang berkata benar, dan kaki yang melangkah dalam kebaikan. Semua atas perintahmu. Karena engkau ibarat raja dalam jasadku yang lemah ini. Ketika engkau baik, jasadku pun akan baik.

Namun, sering pula kilihat kau lalai. Berpanjang angan untuk sesuatu yang belum tentu terjadi. Berpikir hal yang tak sepantasnya dipikirkan oleh seorang muslimah. Hasad, khianat, prasangka buruk, dan semua musuh dari syaithan seakan siap menyerbumu kapanpun kau lalai. Kau baru menyadarinya ketika hitam mulai memenuhi pekatmu. Futur. Mengeras dan ternoda.

Hatiku.
Aku mengerti. Sungguh mengerti. Betapa engkau sering gelisah dan risau mengingat janji-Nya tentang pasangan hidup. Penasaran, ingin tahu, tak sabar, semua seakan menjadi satu rasa yang sulit kau ungkapkan. Banyak caramu mengalihkan perhatian untuk urusan ini. Namun, saat teman-teman di sekitarmu mengungkitnya, kau mudah sekali lemah. Bertanya, dan mulai berpanjang angan. Siapa ya?

Hatiku, yang kuinginkan dalam kebaikan selalu.
Satu pintaku padamu. Bersabarlah. Tidakkah engkau percaya, Alloh-lah Sang Maha Menepati Janji? Tiadalah Ia berjanji, kecuali Ia akan menepatinya. Tak perlu gelisah, risau, gundah dan gulana. Alloh sudah mengatur semuanya. Bersabarlah dalam penantianmu. Karena kelak ketika berbuka, akan kau rasakan manisnya penantianmu selama ini. Nikmat yang berbalut ridho-Nya. Halal yang di berkahi-Nya. Menyenangkan bukan? Tak maukah dirimu merasakannya?

Sekarang hatiku.
Mari kita berusaha bersama memperbaiki diri. Aku dan kamu. Kita mesti seirama. Seiring dengan aliran darah dalam jasadku, aku berharap kita selalu dalam kebenaran yang nyata. Menjemput setiap ilmu yang ada. Memuroja’ah pelajaran yang kita dapatkan bersama. Mengulang-ulang hafalan alqur’an dan hadits yang sering terlupa. Serta ilmu dunia yang tak boleh dilalaikan juga. Bersamamu hati. Mari kita berusaha.

-bersabarlah wahai jiwa, sungguh penantian ini tak akan lama-

 muthmainnafs
101111

Sabtu, 07 Juli 2012

Terimakasih, Puskesmas Wates!

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Menjalani tahun ketiga di bangku kedokteran itu rasanya seperti sekelebat saja. Cepat sekali. Kemarin baru saja berkenalan dengan teman-teman baru di Tutorial 26 dan tak terasa hari Kamis kemarin menjadi tutorial terakhir kami di tahun ketiga.

Satu hal yang paling saya suka selama tahun ketiga ini adalah ketika saya diberi kesempatan untuk mencari ilmu secara langsung di Puskesmas Wates. Puskesmas Wates, menjadi tempat kami “main” selama 3 bulan terakhir ini. Menempuh waktu sekitar 50 menit dari kampus, kami akhirnya tiba di Puskesmas yang terletak di pinggir jalan dan dikelilingi oleh sawah hijau nan terhampar luas.



Beberapa kali menjalani tugas di Puskesmas Wates, banyaak sekali pengalaman berharga yang saya peroleh. Alhamdulillah bi ni’matihi thathimusshalihaat. Saya berkesempatan mendapatkan beberapa kompetensi yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Dengan bimbingan dan supervisi dari dua dokter di puskesmas, dr. Norma dan dr. Dian yang sangat baik dan penyabar. Serta beberapa staf dan perawat yang saya kenal, saya mendapatkan banyak hal tak terlupa disini.

Di Puskesmas ini, saya belajar untuk berinteraksi langsung dengan pasien. Pasien, yang juga merupakan guru bagi para dokter merupakan seseorang yang hendaknya diperlakukan dengan penuh empati. Saya belajar berkomunikasi dengan bahasa jawa dan memahami secara mendalam keluhan pasien. Terkadang saya geli mendengar cerita pasien yang lucu. Terkadang saya dan pasien yang sudah sepuh bisa tertawa bersama karena sama-sama bingung. Hehe. Pasiennya bingung saya tanya apa, saya bingung pasien jawab apa. Akhirnya kami tertawa bersama. Asyik sekali. Alhamdulillah.


Saya juga belajar melihat realita kondisi kesehatan Indonesia secara langsung. Memahami bahwasanya tugas dokter itu cukup berat. Tak hanya periksa pasien kemudian habis perkara. Edukasi, follow up pengobatan dan lifestyle tak boleh terlupa. Dan tentu saja dalam setiap prosedurnya kami harus senantiasa memakai jubah empati. Tersenyum, sabar dan telaten menyelesaikan permasalahan kesehatan pasien kami.

Pengalaman tak terlupa yang saya pernah lakukan di Puskesmas Wates adalah untuk pertama kalinya saya berkesempatan menjahit luka irisan pada pasien. Waktu itu, saya dan teman saya sedang di Balai Pengobatan, kemudian tiba-tiba ada seorang ibu datang dengan tangan kanan berdarah banyaak sekali. Ternyata pasien tersebut mengalami sobekan diantara jempol dan telunjuk karena terkena gelas yang pecah saat mencuci piring. Akhirnya, saya dan seorang teman ikut membantu perawat merawat luka pasien. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menyuntikkan obat bius lokal pada pasien, dan menjahit 2 jahitan luka tersebut. Pengalaman ini sungguh tak terlupa, karena selama ini saya hanya berlatih menjahit luka di manekin kulit, dan kali ini di kulit yang sebenarnya.


Pengalaman lain yang pernah saya dapatkan adalah saya diberi kesempatan untuk melakukan Rectal Toucher di anus pasien. Saat itu, datang seorang pasien dengan keluhan sulit kencing dan buang air besar. Diagnosis dokter saat itu adalah pasien mengalami Benign Prostat Hypertophy atau dengan bahasa lebih mudah dipahami adalah ada perbesaran pada kelenjar prostat pasien. Di akhir pemeriksaan, saya bertanya pada dr. Dian, bukankah biasanya pasien dengan BPH akan dilakukan Rectal Touche? Yakni prosedur memasukkan jari dokter ke dalam anus pasien untuk memeriksa ukuran kelenjar prostat pasien. Dr. Dian pun menyetujui dan akhirnya mempersilakan saya untuk melakukan prosedur tersebut dengan hati-hati (karena ini baru pertama kalinya saya melakukan RT). Alhamdulillah, segalanya berjalan cukup lancar.

Selain dua pengalaman tersebut, saya juga mendapatkan banyaaak sekali pengalaman. Memasang EKG, mengambil darah pasien, melakukan nebulizer, perawatan luka, pemeriksaan fisik, telinga, mata, dan lain-lain. Alhamdulillah, senang sekali rasanya ilmu yang telah saya pelajari bisa terasa manfaatnya. Satu hal yang menggelitik benak saya saat itu adalah kelompok kami disebut dengan kelompok yang overnergy oleh dr. Dian. Kami tampak sangat bersemangat dalam menjalani proses pembelajaran di Puskesmas Wates ini dibandingkan kelompok lain yang juga belajar disana.

Saya sendiri merasa, selama proses pembelajaran ini saya bisa dibilang cukup aktif meminta tindakan. Beberapa kali saya mengajukan diri untuk membantu perawat dan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Karena saya sukaaa sekali dengan proses belajar yang seperti ini. Tidak membosankan, asyik, dan tidak akan mudah terlupakan. Namun, bukan berarti saya gila kompetensi dan menguasai semuanya sendiri. Saya juga mempersilakan teman saya untuk turut mencoba, dan setelahnya kami akan berdiskusi bersama.

Hal yang membahagiakan saya adalah ketika dr. Dian pernah berbisik pada saya “ Silakan diperiksa pasiennya ya, saya sudah percaya dengan pemeriksaan fisik kamu, pemeriksaan fisik kamu ke pasien cukup bagus”. Alhamdulillah, bahagia saya mendengarnya. Tidak ada sama sekali maksud sombong atau berbesar hati. Namun bagi saya, ucapan itu motivasi hebat bagi saya untuk terus aktif dalam belajar. Bahwa tidak sia-sia selama ini saya aktif bertanya ini itu pada beliau. Alhamdulillah :)

Namun, diakhir perjalanan di Puskesmas Wates, renungan mendalam pasti memenuhi benak saya. Saya harus belajar jauh dan jauh lebih rajin untuk menjadi seorang dokter yang baik. Masyarakat sungguh masih teramat memerlukan dokter yang bermanfaat ilmunya. Dan ini menjadi cambuk bagi saya untuk terus rajin belajar setiap harinya. Semoga Allahu Ta’ala senantiasa memudahkan saya dan teman-teman untuk terus belajar ilmu yang bermanfaat ya. Aamiin.


Special thanks to :
Keluarga Besar Puskesmas Wates, Yogyakarta.
Terutama untuk dr. Norma dan dr. Dian.
Jazakumullahu khairan katsiran.
:)
 -nm-

Rabu, 13 Juni 2012

belajar dari mama

bismillahirrahmaanirrahiimt
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Setiap cobaan itu hakikatnya adalah sebuah cara bagi Allah untuk menguji keimanan kita. Baik cobaan dalam artian kususahan yang menghimpit, maupun dalam kegembiraan yang seperti tak ada habisnya. Menguji. Apakah kita tetap teguh bersabar dalam kesusahan, dan tak henti bersyukur dalam kegembiraan. 

Satu hal yang paling aku syukuri dalam hidupku adalah mengenalmu, mama..

Sulit menuliskan semua hal tentangmu. Karena banyak dan begitu banyak pelajaran berharga kupetik dari sosokmu. Lisan pasti kan lelah, dan kata pun seakan tak cukup mengungkapkannya. Namun, semua itu terekam jelas dalam hippocampus ku. Memori setiap peristiwa yang ku lalui bersamamu. Mama.

Mama tak pernah banyak mengeluh. Tak pernah. Karena satu prinsip mama yang sangat aku kagumi adalah menjauh dari mengeluh pada makhluk-Nya. Mama selalu berkata, untuk apa kita berkeluh kesah pada manusia? Jika kita memiliki Ia, yang tiada pernah bosan mendengar keluh kesah kita? Bagimu, mama..lebih baik meluangkan sepertiga malam terakhir untuk berinteraksi dengan-Nya, dibandingkan cerita tiada arah pada manusia. Bahagiamu mama, setiap kali meneteskan air mata pada-Nya, tergugu dalam sujud dan do'amu dibandingkan mencurahkan segala gundah pada manusia.

Tentang syukur. Aku belajar banyak dari mu, mama. Mama senantiasa mengajarkan arti syukur kepadaku dengan cara sederhana tapi mengena. Betapa Allah telah menyayangi kita dengan sebegitu sempurna. Bagimu mama, syukur itu tak perlu semua orang tahu. Cukuplah ucapan, sikap dan hati kita menjadi bukti rasa syukur kita pada-Nya. Untuk seorang mama, mampu membiayai keempat anaknya bersekolah itu sebuah hal yang teramat sangat disyukuri. Tak usah muluk-muluk dengan harta dan duniawi semata. Karena kebahagiaan itu letaknya ada dalam hati kita.

Berpikir sederhana. Pelajaran itu pun ku dapatkan darimu. Kata mama, seorang wanita itu fitrahnya dirumah. Tak perlu muluk-muluk dengan dunia, jika kelak ridho Allah ada di tangan suami. Kata mama, wanita itu harus memahami. Bahwa ia adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Mama selalu mengingatkanku, untuk senantiasa menyadari, ada hal-hal yang tak bisa dilakukan seorang wanita. Dan ada pula hal-hal yang memang harus dilakukan seorang wanita. Sederhana saja. Tak perlu merumitkannya dengan bahasan feminisme, liberalisme dsb. Bagi mama, apa yang telah Allah perintahkan bagimu. Taatilah, dengan seluruh kemampuan yang kau punya.

Tentang kesabaran. Aku pun mengambil banyak hikmah dari mama. Penelitian telah membuktikan, bahwasanya pemicu stress terbesar dalam kehidupan adalah ketika seseorang di tinggal mati oleh pasangan. Bagiku, mama contoh nyata wanita penuh kesabaran. Mama, dengan bantuan dan izin Allah hingga saat ini terus bisa bertahan. Bersabar, menahan rindu pada suami yang telah tiada. Bersabar, membesarkan keempat anaknya seorang diri. Bersabar, dan terus bersabar untuk menerima setiap ketetapan yang telah Ia berikan pada hamba-Nya.

Masih banyak hal berharga ku dapat darimu ma. Tak terhitung. Tak terhingga. Dan setiap momen pulang seperti inilah aku menyukainya. Kala aku kembali meluruskan niat, menyadari posisi diri. Memahami bahwa perjuangan mama di kota ini terasa amat berat seorang diri.

"nduk, mama di do'akan ya. .semoga mama kuat..bismillah, semoga Allah meridhai.."


 -nm-




Minggu, 12 Februari 2012

momen pulang

bismillahirrahmaanirrahiim 
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

Sebagai seorang pelajar yang merantau dari orangtuanya, ada momen tersendiri ketika pulang ke rumah. Jarak yang tak terlalu jauh, hanya satu jam perjalanan menggunakan kereta api atau dua jam menumpang bis menjadi cerita yang tak pernah lepas setiap bulannya. Karena itulah, hampir setiap pekan momen pulang menjadi sesuatu kebiasaan yang tak terlewatkan.

Pulang. Selalu menyimpan cerita.

Perjalanan
Perjalanan pulang menjadi satu hal yang harus dilalui sebelum merebahkan diri di hangatnya kasur rumah. Sang ular kuning atau pink yang berbaik hati mengantarku menyeberang kota telah menjadi teman setia setiap pekannya. Hanya satu kali bis menjadi alternatif pilihan kala pulang. Sisanya, duduk di dalam lambung ular panjang yang membelah persawahan batas kota menjadi sarana yang mengasyikkan.

Pemandangan alam, selalu saja tak membosankan. Sudah kesekian kali melewati jalan yang sama. Alam yang disajikan pun sama. Tapi tak pernah sekalipun bosan menggelayuti hati kala menatap langit biru yang menyegarkan, atau sawah yang menyejukkan mata. Apalagi momen setiap kali melewati pegunungan di sebelah selatan, mata ini sungguh enggan terpejam. Tak bosan dan puas untuk terus menatapnya. Bertanya dalam hati, kapan bisa menjelajahnya. Karena dari jendela kaca kereta, pegunungan ini tampak hanya sepelemparan batu. Dekat. Megah. Menantang.

Membayar Hutang
Pulang bagiku merupakan salah satu cara membayar hutang yang tertunda. Hutang kewajiban berbakti pada mama, menjadi adik untuk kakak, menjadi kakak untuk adik, serta menyelesaikan kewajiban menjadi bagian keluarga. Tak ada dalam kamus saat pulang menjadi sarana bermanja ria. Ini waktuku membayar hutang yang selama ini tak bisa kutunaikan selama di kota perantauan. Kewajiban membantu mama, menceritakan kisah sepekan yang belum tersampaikan. Mendengar celoteh adik perempuanku hingga larut malam. Mengantar adik lelaki berbelanja keperluannya di pondok. Menjadi pendengar cerita kakak yang tak bosan diulang-ulang. Menyadarkan hati, untuk terus mendo'akan ayahanda yang menanti bakti  seorang putri.

Menata Hati
Yap! Pulang menjadi sarana menata hati. Meninggalkan hiruk pikuk perkuliahan di kota seberang. Berjanji dalam perjalanan pulang, setelah ini dirumah harus lebih banyak tersenyum. Melupakan sejenak penatnya kesibukan. Momen pulang pun menjadi tempat kala belajar memahami banyak hal. Perbedaan yang dirasakan sejak dahulu. Mandiri, seperti biasanya, sejak jamanku kecil dulu. Tak perlu diperhatikan atau membutuhkan perhatian. Mengingatkan diri sendiri, tak perlu memikirkan apa yang orang lain berikan untukmu, namun apa yang bisa kau berikan untuk orang lain. 

Perbaikan Gizi
Saatnya pulang, saatnya banyak makan. Setelah di perantauan jarang memperhatikan pola makan, momen pulang seakan menjadi cara tersendiri untuk mengganti kebutuhan. PGAK ( Perbaikan Gizi Anak Kos) menjadi program yang tak lupa dilakukan. Apalagi jika ada acara keluarga besar. Yes! Banyak makanan bertebaran. Kadangkala sesama sepupu yang merantau saling tertawa ketika sedang mengambil makanan. Porsi anak kosan, bolak-balik ambil makanan. ^^

Mengisi Semangat
Pulang adalah momen mengisi semangat yang mulai tercerai berai di kota Pelajar. Kala melihat perjuangan mama, membesarkan keempat anaknya seorang diri. Malu menggelayuti. Bagaimanakah diri ini bisa malas belajar, malas kajian, malas-malasan,  sedang mama selama ini terus berjuang? Pantaskah lisan ini mengeluh atas beban kesibukan sedangkan mama jauh lebih sibuk? Yap! Suka sekali bagian pulang yang ini. Kala harus menyadari, bahwa ada tanggung jawab yang harus dipikul. Dalam setiap langkahku, ada bulir keringat mama yang berjuang, airmata mama dalam pengharapan, serta do'a mama yang terucap lirih di akhir sepertiga malam. Pulang, adalah momen mengisi semangat terbesar. Semangat untuk terus berjuang menjadi seorang yang jauh lebih baik.

Setiap pulang, selalu ada janji pada diri sendiri. 
Janji untuk menyediakan hati, telinga dan senyuman yang lebih banyak untuk mereka.
Keluarga tercinta.

-nm-

Sabtu, 12 Maret 2011

menundukkan pandangan..


Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

Menundukkan pandangan..
Hal yang semakin sulit dilakukan saat ini.
Dulunya, ketika SMA,saat lingkungan begitu mendukung, mudah sekali.
Tapi kini?
Ketika interaksi dengan lawan jenis semakin tak berbatas tegas..
Sulit..