In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ketika engkau mendapati tidak ada seorangpun selain Allohu Ta'ala bersamamu, maka ketahuilah bahwasanya Allohu Ta'ala sudah lebih dari cukup dibandingkan segalanya.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.." (As-Suusiy)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhainya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku.." (Al-Fajr : 27-30)

Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label ibroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibroh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

karena cinta itu sederhana

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Merciful

Karena cinta itu sederhana.



Sungguh, cinta itu sederhana adanya. Hanya saja ketika ia mulai tercampur dengan berbagai macam keinginan manusia ia menjadi rumit layaknya benang wol yang kusut tak tahu ujung dan akhirnya. Terkadang, yang kita perlukan adalah mencoba melihat nya dari sudut pandang yang berbeda dari kebiasaan manusia. Gunakanlah hati. Gunakanlah rasa. Karena kesederhaan cinta itu ada. Simaklah..

Sebuah subuh, ketika seorang suami hendak bepergian jauh. Sang suami mesra berpamitan dengan istri tercinta. Mencium kening sang istri, ia berucap “Sayang, oleh-oleh apa yang ingin kubawakan untukmu?”. Sang istri tersenyum, berat melepaskan kepergian suami. “ Bagiku, engkau pulang dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun sudah jauh lebih dari cukup. “.

Inilah kesederhanaan cinta. Tak menuntut apapun. Karena bagi seorang istri, keberadaan seorang suami di sisinya sudah lebih dari cukup dibandingkan buah tangan terindah apapun.

Suatu malam. Sang suami terpaksa pulang malam. Istri dirumah pun cemas menunggu. Beberapa jam terlewati, sang suami yang ditunggu tak kunjung datang. Makan malam buatan sang istri belum tersentuh sama sekali. Sang istri khawatir, suami belumlah makan malam hingga ia menunggu suami untuk makan bersama. Cemas tak tertahankan. Malam pun sudah teramat larut. Istri yang keletihan menunggu pun tertidur di samping pintu rumah. Berharap, jika sang suami mengetuk pintu, ia dapat segera mendengar dan membukanya untuk suami tercinta. Sang suami akhirnya pulang ke rumah. Dengan perut kosong, ia yakin sang istri telah memasakkan makan malam untuknya malam itu. Namun, ketika mendapati waktu telah beranjak larut saat pulang, ia tak tega mengetuk pintu. Kasihan, sang istri pasti sudah tertidur. Menunggu pagi tiba, ia keletihan. Tertidur di depan pintu rumah. Sepasang suami istri itu sama-sama tak tahu, bahwa mereka hanya dipisahkan oleh pintu depan rumah mereka. Dengan kondisi yang sama, menahan lapar, menanti pasangannya.

Inilah kesederhanaan cinta. Setia, tanpa diminta. Menyayangi tak hanya lewat lisan,namun juga dalam kehidupan keseharian. Tak menanti balasan.

Ketika sang suami telah dihadapan istri, ia mencium kembali kening istrinya. Istripun bahagia tiada terkira. Melihat suami yang keletihan, ia segera mempersilakan suami untuk beristirahat. Senyum bahagia terpancar dari wajah sang istri. Suami yang juga tersenyum, malu-malu memberikan sesuatu untuk istri. Sebuah buah tangan, bukan tas bermerk, sepatu mahal atau bahkan perhiasan. Namun sepotong pakaian baru untuk sang istri. Sederhana, namun manis. Sang suami menyadari betul, sang istri tak pernah meminta dibelikan apapun. Ia hanya ingin, istri bahagia dengan pakaian barunya. Karena istrinya selama ini telah bekerja keras menyediakan keperluannya. Serta menjaga buah hatinya dengan penuh cinta. Istri yang tak menyangka suaminya membawa buah tangan sangat bahagia. Sungguh, suaminya penuh perhatian padanya. Tanpa ia minta pun, suami mengerti. Pakaian rumahnya saat itu sudah penuh tambalan disana-sini. Betapa suaminya memperhatikannya.

Inilah kesederhaan cinta. Perhatian kecil dari suami yang patut dipuji. Ia memahami, tanpa kata. Ia peduli tanpa banyak bicara. Baginya, sebuah senyum yang terpancar dari wajah istrinya sudah cukup untuk membahagiakan hatinya.

Kata orang, dalam kehidupan berumah tangga ada dua hal yang tak boleh lepas. Yakni sabar, dan syukur. Suami yang sabar akan kepribadian istrinya. Menyadari bahwa wanita diciptakan lebih lemah dari lak-laki. Suami yang sabar pada istrinya, akan memahami terkadang wanita memang adakalanya “bengkok” layaknya rusuk pertama. Suami yang sabar, akan memahami, terkadang istri tidak membutuhkan solusi, ia hanya membutuhkan teman berbagi. Betapa banyak cerita suami yang tak sabar pada sang istri. Pukul sana, pukul sini, bentakan, caci maki dan ucapan kasar terus menyertai kehidupan rumah tangganya. Sungguh, tak pantas bagi seorang suami untuk berbuat demikian. Tidakkah ia mengingat bahwa..

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162. Lihat Ash-Shahihah no. 284)

Selanjutnya..

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).

Sedangkan sifat yang harus dimiliki seorang istri adalah syukur. Bersyukur dengan apapun yang diberikan oleh suaminya. Bersyukur atas kehidupan rumah tangganya. Ia tak pernah melirik rumah tangga lain, dengan penuh kemewahan dan cerita yang ada didalamnya. Ia mensyukuri, apapun yang diberikan suami haruslah dihargai. Betapa ia menyadari suaminya telah berpayah-payah mencari nafkah bagi penghidupan rumah tangganya. Istri yang bersyukur pada suami, istri yang beruntung. Karena ia mampu memahami bahwa kehidupan dunia tak abadi. Kebahagiaan sejati, bukan pada harta, kedudukan dan rupa yang dimiliki oleh suami. Namun pada bagaimana ia menata hati dan mensyukuri. Banyak cerita istri yang tak mampu mensyukuri suaminya. Menjadi seorang isti yang tunjuk sana-tunjuk sini. Ingin ini, ingin itu. Membandingkan rumah tangganya dengan rumah tangga orang lain. Merasa suami belumlah mampu memenuhi kebutuhannya. Sungguh, sudah seharusnya ia mengingat, bahwasanya..

Rasulullah shollallohu ‘alaih wa sallam bersabda, “Saya melihat  kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari keluarga dan kebaikan-kebaikan suami. Jika sekiranya engkau berbuat baik kepadanya, lalu ia melihat sedikit kekurangan darimu, maka ia berkata: ‘Saya tidak melihat suatu kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Al-Bukhari No. 29 dan Muslim No. 907)

Percayalah. Cinta itu sederhana.



Further reading :


-nm-

Jumat, 13 Januari 2012

Ustadzah S

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

Sebuah kisah tentang muslimah. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik.

Tahun 2009. Selepas pengumuman ujian masuk universitas dan menanti pengumuman ujian nasional SMA, tak banyak yang kulakukan. Selain karena sudah mendapatkan tempat di salah satu universitas –alhamdulillah, bi idznillah-, aku pun tak diperbolehkan bapak ikut SNMPTN. Maka sembari menunggu pengumuman ujian nasional, mama sering mengajakku bersama beliau untuk pengajian. Dalam sepekan, ada beberapa pengajian yang rutin kami datangi. Namun, dari kesekian itu, ada satu yang teramat berkesan dalam hatiku.

Ustadzah S. Sebut saja demikian. Pertama kali bertemu beliau rasanya teramat asing. Tak seperti kajian yang sering ku datangi sebelumnya. Kali ini aku bisa melihat pengajarnya langsung. Tanpa hijab. Bisa dengan mudah berkontak mata dan memperhatikan beliau. Kesanku saat itu, luar biasa. Kenapa? Teruslah membaca, kawan..

Karena yang kudapat saat itu, bukanlah seseorang yang kubayangkan. Dalam benakku akan kutemukan seorang ustadzah dengan cadar dan jilbab hitam menjuntai tubuhnya. Namun yang kudapati adalah seorang wanita yang sudah tampak lanjut usia. Perkiraanku, usia beliau saat itu sudah mencapai dekade keenam. Namun wajahnya tampak masih segar, bersinar. Dan  ditambah dengan senyuman khas yang menenangkan, serta jabatan tangan yang hangat.

Jika tak melihat tangan putihnya yang mulai berkeriput, serta kedua bola matanya yang tampak memburam, aku pasti akan lupa jika beliau sudah lanjut usia. Kadangkala kudapati tangan beliau bergetar kala memegang buku atau gelas ketika minum. Tremor. Begitulah istilah medis untuk menjelaskan getaran tangan yang tak disengaja itu. Dan itu, hanya sekelumit cerita tentangnya. Masih ingin tahu? Teruskan membaca..karena ceritaku belumlah usai sampai disini.

Sering menghadiri pengajian dirumah beliau saat itu, aku menjadi semakin jatuh cinta pada beliau. Begitupun mama. Tak pernah kulihat mama serajin itu mengikuti kajian selama ini. Mama bahkan sudah membeli beberapa buku kecil khusus untuk kajian. Setiap jadwal hari kajian, mama telah menyediakan  satu buku. Karena setiap hari materinya akan berbeda. Hari ini materi tentang fikih, hari lain akan ada materi tentang yang lain. Begitulah. Bahkan seringkali aku ditinggal mama karena terlalu lama bersiap diri. Pagi-pagi mama sudah bersiap untuk berangkat mengaji. Takut terlambat. Kata mama, sayang sekali jika terlambat mengikuti pengajian beliau.

Dan semakin lama, aku mengerti kenapa mama bisa jatuh cinta pada beliau sebegitu dalamnya. Ustadzah S ini berbeda dari ustadzah-ustadzah lain yang pernah kutemui sebelumnya. Setiap nasihatnya berisi. Karena beliau sudah makan asam garam kehidupan yang bergantian menemaninya. Setiap kata yang beliau keluarkan dari lisannya, maknanya sungguh dalam. Yang paling aku suka adalah setiap kajian beliau seakan menjabat hati kami satu persatu. Menyelisik hati, membuat kami tergugah dengan sendirinya.

Permasalahan yang beliau ajarkan pada kami, tak serta merta idealis. Beliau senantiasa mendekatkan kami pada realita yang ada pada masyarakat. Membenarkan setiap sikap kami dengan cara halus, namun tegas. Mungkin, awalnya akan terasa tersindir. Namun, seiring berjalannya waktu justru ketagihan mendengar untaian kalimat beliau yang begitu dalam menyentuh kalbu.

Dan yang membuatku terkagum-kagum adalah, beliau senantiasa berusaha menerapkan ilmunya untuk diri sendiri terlebih dahulu. Meski beliau tak pernah mengungkap langsung, namun banyak cerita yang kudengar dari mama. Kenyataan bahwa beliau dulu pernah bercerai dengan suami karena perbedaan prinsip agama. Kesulitan beliau dalam menghidupi anak-anak seorang diri. Serta keteguhan hati beliau untuk menjalani kehidupan dengan penuh sabar dan syukur.

Selain itu ibadah beliau pun tak kuragukan. Tak kutemui televisi dalam rumah beliau yang mungil. Hanya ada radio, itupun untuk mendengarkan Al-Qur’an. Selepasnya, beliau isi sisa umur dengan mengajarkan ilmu agama pada ibu-ibu disekitarnya. Setiap harinya, ada jadwal materi yang berbeda. Saat mengajarpun, beliau hafal nama dan nomor surat yang disebutkan. Sering kali ketika membahas suatu masalah, beliau meminta kami membuka surat ini, nomor ini, ayat sekian. Persis seperti yang sudah beliau sebutkan. Yang membuatku bertambah kagum lagi  adalah, hingga usianya sekarang, beliau masih rutin menjalani puasa Daud. Subhanallah!

Pantas saja, mama begitu jatuh hati pada beliau.

Kini, setelah hampir 3 tahun di Yogya, jarang aku bisa menghadiri kajian di rumah beliau. Hanya setiap akhir pekan ketika pulang, bersama mama, adik dan kakak, kami menyempatkan diri. Meskipun demikian, bagiku beliau sosok seorang muslimah yang luar biasa. Karena dalam kesederhanaan, beliau mampu  bersinar. Mengayomi, membimbing dan mengajarkan ilmu dengan semangat yang luar biasa. Usia nya yang lanjut pun tak menjadikannya lemah dalam beribadah. Subhanallah.

“Barokallahu fiik, ustadzah..”
Semoga Allohu Ta’ala membalas setiap kebaikan Ustadzah dengan kebaikan yang lebih banyak
Serta mengumpulkan Ustadzah kelak bersama orang-orang sholih dalam syurga-Nya.
Aamiin.


 -nm-