Tampilkan postingan dengan label cerita dari jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dari jogja. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Maret 2014
#3 : Stase Saraf, Saatnya Belajar Menata Hati
bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Alhamdulilllah akhirnya tiba di stase ketiga saya.. Selamat datang di Stase Saraf :))
Stase saraf stase yang teramat berkesan. Di stase ini banyak cerita tak terlupakan yang bisa dibagikan. Ada duka, tapi lebih banyak suka nya. Alhamdulillaah, acha belajar banyak dari stase ini.
Awal masuk stase saraf, saya dan teman-teman dibagi menjadi kelompok kecil dan diberikan seorang residen untuk mendampingi kami selama di stase saraf. Saya termasuk beruntung mendapatkan pemimbing seorang residen yang pandai sekali. Sebut saja nama beliau dr. D. Saya diajari banyak hal oleh dr.D dari mulai teori, hingga pemeriksaan fisik kepada pasien.
Kisah pertama yang ingin saya bagi adalah ketika saya bertugas untuk memiliki tanggung jawab kepada seorang pasien, sebut saja Bp.S. Bapak S di diagnosis sebagai penderita stroke hemorrhagik dan iskemik luas dengan GCS beliau hanya mencapai 3 poin. Saat mengelola Bp.S, saya diajari banyak hal oleh dr.D, termasuk bagaimana memeriksa pasien dengan kecurigaan mati batang otak seperti Bp.S. Pemeriksaan tes batang otak pun dilakukan, dan karena pusat pernapasan Bp.S sudah terkena, maka praktis Bp.S harus menggunakan alat bantu berupa respirator untuk membantu pernapasan beliau. Untuk itulah beliau tidak dirawat di bangsal, namun di IGD kemudian dipindah ke IMC (Intermediate Care).
Setelah beberapa hari memeriksa Bp.S, akhirnya keluarga bersedia menandatangani keputusan untuk dilakukan withdrawal pada beliau. Withdrawal artinya menarik terapi yang sudah diberikan kepada pasien karena prognosis pada pasien sangat rendah, dan sudah terjadi kematian batang otak. Pada kasus ini, Bp.S akan dilepaskan dari respirator yang membantu beliau untuk bernapas. Saya belajar bagaimana caranya memberikan penjelasan yang baik kepada keluarga Bp.S. Tentunya hal ini tidak mudah bagi seorang dokter, untuk menjelaskan kondisi pasien yang sudah teramat buruk.
Akhirnya, respirator pun diangkat. Saya tak kuasa melihat tubuh Bp.S yang bergoncang sebagai tanda asfiksia pada beliau. Monitor pun memperlihatkan denyut nadi Bp.S yang mulai menurun, hingga rekam jantungnya menjadi datar sempurna. Saya menahan airmata saat itu, sungguh rasanya tidak kuat melihatnya. Namun ketika saya melihat ke dr.D, beliau sangat tenang dan berusaha menghibur keluarga pasien dengan bijak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un.
Dalam perjalanan pulang menuju bangsal,dr. D bertanya pada saya, "Gimana menurutmu, Naf? ". Saya hanya tersenyum sembari menjawab "Saya nggak tahu e dok.." Perasaan saya berkecamuk hebat saat itu.Membayangkan saya ada di posisi keluarga pasien, atau bahkan di posisi pasien itu sendiri. Wallaahu a'lam.
Kisah kedua saya, adalah ketika saya bertugas jaga malam dihari terakhir saya di stase saraf. Ada satu pasien saat itu yang kondisinya sudah kritis. Saya harus memeriksa kondisi beliau setiap 30 menit, bahkan 15 menit sekali. Saat kembali bertugas memeriksa beliau, saya dengan seksama mengecek tanda vital pada beliau. Mulai dari nadi, pernapasan, tekanan darah, dan tingkat saturasi oksigen pada pasien yang sudah tidak sadarkan diri tersebut.
Saat akan memeriksa saturasi oksigen di jempol kaki pasien, alat tersebut tidak berfungsi, tidak ada angka yang muncul dari monitornya. Padahal tadi di jempol tangan alat tersebut masih berfungsi. Teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya memeriksa pasien lain datang membantu saya. Hm, saya pikir mungkin alat nya sudah rusak,karena memang beberapa kali sempat seperti itu ketika digunakan. Akhirnya saya meminta tolong teman saya untuk memanggil residen yang bertugas. Sambil menunggu residen, saya coba pindahkan alat tersebut ke jempol kaki yang lain. Masih tak berfungsi. Saya berpikir sesaat,kemudian saya sadar. Saya tidak lagi mendengar suara napas pada pasien tersebut. Code Blue! Saya teriak memanggil bantuan. Ketika residen datang dan sempat dilakukan bantuan hidup, ternyata pasien tersebut sudah dinyatakan meninggal dunia.
Saya tertegun. Kurang dari lima menit yang lalu saya masih dapat meraba nadi pasien, mengukur tekanan darah pasien, dan mendengar suara napas beliau. Dan kini, setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung beliau, praktis tidak ada irama disana. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un. Sungguh kematian terasa amat dekat dan cepat.
Kisah ketiga saya, saat memeriksa seorang pasien dengan nyeri pinggang karena ada Hernia Nucleus Pulposus pada tulang belakangnya. Saat masuk dan mengucapkan salam, beliau sebut saja Bp.B menjawab salam saya dengan antusias. Melihat sekeliling, ternyata tak ada yang menemani beliau di kamar, melainkan beberapa buku bacaan agama,koran dan sebuah alquran. Bapak B sangat kooperatif ketika diperiksa, beliau juga sangat antusias ketika tahu saya pernah ikut kajian di tempat beliau biasa kajian. Menawarkan beberapa rekaman kajian yang ada di HP beliau dan becerita pengalaman beliau. Saat saya berusaha menghibur beliau akan sakitnya, beliau tampak bahagia, tidak ada raut sedih diwajahnya. Bahkan beliau sempat berkata bahwa beliau menikmati sakit beliau dan bersyukur, karena dengan demikian beliau jadi lebih sering mengingat Allaah.
Cless, Serasa ada embun penyejuk menetes di hati saya saat itu. Betapa indahnya hati Bp.B sampai bisa begitu santun menyikapi takdir dari Allaah.. Masyaa Allaah.. :)
Begitulah stase saraf. Stase yang teramat berkesan. Banyak cerita lain, tapi diantaranya tiga kisah ini yg paling berkesan. Ohya di stase saraf ini saya juga mendapatkan banyak sekali kemudahan. Apalagi ketika ujian bersama dr.I, subhanallaah beliau konsulen yang luaar biasa baiknya.. Saya ngefans sekali dengan beliau. Saat ujian saya lebih banyak membahas topik selain ujian, seperti batik, jilbab,dokter dan pasien dsb. Inspiratif sekali. Sampai sekarang pun kalau saya sapa ketika bertemu beliau juga tersenyum menyenangkan. Alhamdulillaah.. ^^
Heumm.. Stase saraf mungkin akan menjadi salah satu stase favorit saya.. Hehe. Karena saat melewati stase ini saya seperti diajak bercengkrama dengan hati saya sendiri. Memaknai semua dengan hati, dan terus berupaya mensyukuri. Alhamdulillaah.
Nah, bagaimana dengan anda?
:)
-nm-
Sabtu, 08 Februari 2014
#2 Stase Kulit : Ketika Aku Belajar Lebih Teliti
bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Alhamdulillaah, setelah melewati stase anestesi yang mengasyikkan, perjalanan koas saya pun berlanjut. Kali ini tujuan selanjutnya dari bahtera kami adalah Stase Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Tak banyak sebenarnya yang bisa diceritakan di stase ini. Entah kenapa, stase ini termasuk stase yang berjalan begitu cepat. Hm, saya sendiri juga heran, kenapa di stase ini saya kurang bersemangat untuk menjalankan aktivitas koas. Mungkin karena saya tidak begitu tertarik ya. Tapi bagaimanapun stase ini termasuk stase yang menguras fisik, mental dan hati yang cukup berat. Karena banyak tugas yang harus dikerjakan dalam waktu singkat. Banyak cerita dengan teman yang terasa sembilu di hati. Banyak kisah yang mengaburkan semangat namun justru hikmahnya terasa sangat dekat.
Satu hal yang sangat saya syukuri ketika menjalani stase ini adalah saya belajar untuk menjadi lebih teliti. Alhamdulillaah. Saya yang biasanya kurang teliti dan cermat dalam menjalani sesuatu kini belajar untuk bisa bersikap demikian. Bagaimana tidak? Banyak penyakit kulit yang memiliki penampakan yang serupa tapi tak sama. Maka dari itu saya harus benar-benar cermat melihat gambaran klinis UKK (Ujud Kelainan Kulit) dan keluhan yang dirasakan oleh pasien. Karena meski mirip, jika salah diagnosis saja maka terapinya pun bisa ikutan salah. Duh, kasihan sekali pasiennya kalau sampai demikian. T.T
Stase Kulit dan Kelamin memang tak banyak yang bisa diceritakan. Namun, saya melihat banyak hal yang jauh diluar bayangan saya selama ini. Ketika melihat realita ada pasien dengan penyakit kelamin akibat berhubungan dengan sesama jenis, melihat tampakan klinis penyakit autoimmune yang tak terhindarkan, serta melihat penyakit kulit yang jaraaang sekali dijumpai.. Alhamdulillaah, segala puji hanya bagi Allaah semata..
Yang pasti, saya belajar banyak dari stase ini.
Belajar untuk melihat pasien lebih objektif dan cermat.
Mari kita lanjutkan perjalanan ke stase selanjutnyaa..
^^
-nm-
Sabtu, 18 Mei 2013
nikmat yang tak ternilai
Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most
Gracious The Most Merciful..
Karena seperti biasanya, seorang
manusia baru akan merasakan indahnya sebuah nikmat ketika nikmat itu dicabut
darinya.
Dan itu terjadi pada saya.
Alhamdulillaahi alladzi bini’matihi
tatimmush shalihaat.
Merupakan sebuah kebahagiaan
tersendiri ketika saya bisa masuk diantara teman-teman yang diberikan
kesempatan untuk ikut koas gelombang pertama. Saya tidak perlu menunggu
beberapa pekan untuk memasuki rotasi klinis di rumah sakit. Selain dengan
harapan cepat lulus, saya juga berharap hal tersebut dapat menjadi penghibur
hati Mama saya, yang telah bekerja keras sepenuh hati mencari nafkah untuk
biaya sekolah putrinya *semoga Allaahu Ta’ala merahmati Mama selalu.. *
Namun, ditengah euforia koas
gelombang pertama, ada satu nikmat yang terasa betul saya rasakan. Yang ketika
koas nikmat tersebut sedikit berkurang karena rutinitas yang tiada henti
berdatangan.
Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no 5933)
Yah. Nikmat berupa waktu luang.
Masyaa Allaah, saya sungguh tahu
bagaimana rasanya terlilit oleh kesibukan rutinitas yang mendera. Dari pagi
menjelang, hingga malam di peraduan. Waktu saya tersita oleh kegiatan akademik
dalam rangka “mencari kompetensi dokter setinggi mungkin” ini. Mungkin karena
awal masuk koas saya sudah ditakdirkan masuk ke stase yang cukup menyita waktu.
Insyaa Allaah cerita tentang stase ini akan saya tuliskan di cerita selanjutnya
ya. *smile*
Dan setelah stase itu berakhir, saya
mendapatkan kesempatan untuk libur sepekan. Alhamdulillaah..
Satu pekan yang terasa betul saya
maksimalkan untuk mengganti waktu yang hilang selama sebulan.
Saya benar-benar bahagia menjalani
waktu sepekan ini. Saya bisa dengan mudahnya datang ke majlis ilmu, berkumpul
bersama sahabat-sahabat yang saya cintai karena Allaah, mengajar TPA, menulis,,membaca,mengerjakan pekerjaan rumah, serta menyelesaikan amanah yang sempat tertunda.
Sepekan yang kini hampir berakhir.
Dan ditengah penghujung libur ini, semakin hari saya menjadi semakin bersedih.
Waktu luang saya akan segera berakhir, dan digantikan dengan rutinitas dunia
koas lagi di pekan depan.
Namun, tiba-tiba saya teringat sebuah
kalimat yang berulang kali saya ucapkan pada diri sendiri.. Yang membuat saya
terdiam, merenung cukup lama..
“Sungguh, jangan sampai kesibukan itu menjadi
alasan untuk menjauh dari Allaah”
Kamar kosan, 8
Rajab 1434 H
menjelang akhir
liburan yang menyenangkan.
-muthmainnafs-
Sabtu, 07 Juli 2012
Terimakasih, Puskesmas Wates!
bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Menjalani tahun ketiga di bangku kedokteran itu rasanya seperti
sekelebat saja. Cepat sekali. Kemarin baru saja berkenalan dengan teman-teman
baru di Tutorial 26 dan tak terasa hari Kamis kemarin menjadi tutorial terakhir
kami di tahun ketiga.
Satu hal yang paling saya suka selama tahun ketiga ini adalah ketika
saya diberi kesempatan untuk mencari ilmu secara langsung di Puskesmas Wates.
Puskesmas Wates, menjadi tempat kami “main” selama 3 bulan terakhir ini.
Menempuh waktu sekitar 50 menit dari kampus, kami akhirnya tiba di Puskesmas
yang terletak di pinggir jalan dan dikelilingi oleh sawah hijau nan terhampar
luas.
Beberapa kali menjalani tugas di Puskesmas Wates, banyaak sekali
pengalaman berharga yang saya peroleh. Alhamdulillah bi ni’matihi
thathimusshalihaat. Saya berkesempatan mendapatkan beberapa kompetensi yang
sebelumnya belum pernah saya lakukan. Dengan bimbingan dan supervisi dari dua
dokter di puskesmas, dr. Norma dan dr. Dian yang sangat baik dan penyabar.
Serta beberapa staf dan perawat yang saya kenal, saya mendapatkan banyak hal
tak terlupa disini.
Di Puskesmas ini, saya belajar untuk berinteraksi langsung dengan
pasien. Pasien, yang juga merupakan guru bagi para dokter merupakan seseorang
yang hendaknya diperlakukan dengan penuh empati. Saya belajar berkomunikasi
dengan bahasa jawa dan memahami secara mendalam keluhan pasien. Terkadang saya
geli mendengar cerita pasien yang lucu. Terkadang saya dan pasien yang sudah
sepuh bisa tertawa bersama karena sama-sama bingung. Hehe. Pasiennya bingung
saya tanya apa, saya bingung pasien jawab apa. Akhirnya kami tertawa bersama. Asyik
sekali. Alhamdulillah.
Saya juga belajar melihat realita kondisi kesehatan Indonesia secara
langsung. Memahami bahwasanya tugas dokter itu cukup berat. Tak hanya periksa
pasien kemudian habis perkara. Edukasi, follow up pengobatan dan lifestyle tak
boleh terlupa. Dan tentu saja dalam setiap prosedurnya kami harus senantiasa
memakai jubah empati. Tersenyum, sabar dan telaten menyelesaikan permasalahan
kesehatan pasien kami.
Pengalaman tak terlupa yang saya pernah lakukan di Puskesmas Wates
adalah untuk pertama kalinya saya berkesempatan menjahit luka irisan pada
pasien. Waktu itu, saya dan teman saya sedang di Balai Pengobatan, kemudian
tiba-tiba ada seorang ibu datang dengan tangan kanan berdarah banyaak sekali.
Ternyata pasien tersebut mengalami sobekan diantara jempol dan telunjuk karena
terkena gelas yang pecah saat mencuci piring. Akhirnya, saya dan seorang teman
ikut membantu perawat merawat luka pasien. Alhamdulillah, saya diberi
kesempatan untuk menyuntikkan obat bius lokal pada pasien, dan menjahit 2
jahitan luka tersebut. Pengalaman ini sungguh tak terlupa, karena selama ini
saya hanya berlatih menjahit luka di manekin kulit, dan kali ini di kulit yang
sebenarnya.
Pengalaman lain yang pernah saya dapatkan adalah saya diberi
kesempatan untuk melakukan Rectal Toucher di anus pasien. Saat itu, datang
seorang pasien dengan keluhan sulit kencing dan buang air besar. Diagnosis
dokter saat itu adalah pasien mengalami Benign Prostat Hypertophy atau dengan
bahasa lebih mudah dipahami adalah ada perbesaran pada kelenjar prostat pasien.
Di akhir pemeriksaan, saya bertanya pada dr. Dian, bukankah biasanya pasien
dengan BPH akan dilakukan Rectal Touche? Yakni prosedur memasukkan jari dokter
ke dalam anus pasien untuk memeriksa ukuran kelenjar prostat pasien. Dr. Dian
pun menyetujui dan akhirnya mempersilakan saya untuk melakukan prosedur
tersebut dengan hati-hati (karena ini baru pertama kalinya saya melakukan RT).
Alhamdulillah, segalanya berjalan cukup lancar.
Selain dua pengalaman tersebut, saya juga mendapatkan banyaaak sekali
pengalaman. Memasang EKG, mengambil darah pasien, melakukan nebulizer,
perawatan luka, pemeriksaan fisik, telinga, mata, dan lain-lain. Alhamdulillah,
senang sekali rasanya ilmu yang telah saya pelajari bisa terasa manfaatnya.
Satu hal yang menggelitik benak saya saat itu adalah kelompok kami disebut
dengan kelompok yang overnergy oleh dr. Dian. Kami tampak sangat bersemangat
dalam menjalani proses pembelajaran di Puskesmas Wates ini dibandingkan
kelompok lain yang juga belajar disana.
Saya sendiri merasa, selama proses pembelajaran ini saya bisa dibilang
cukup aktif meminta tindakan. Beberapa kali saya mengajukan diri untuk membantu
perawat dan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Karena saya sukaaa sekali
dengan proses belajar yang seperti ini. Tidak membosankan, asyik, dan tidak
akan mudah terlupakan. Namun, bukan berarti saya gila kompetensi dan menguasai
semuanya sendiri. Saya juga mempersilakan teman saya untuk turut mencoba, dan
setelahnya kami akan berdiskusi bersama.
Hal yang membahagiakan saya adalah ketika dr. Dian pernah berbisik
pada saya “ Silakan diperiksa pasiennya ya, saya sudah percaya dengan
pemeriksaan fisik kamu, pemeriksaan fisik kamu ke pasien cukup bagus”.
Alhamdulillah, bahagia saya mendengarnya. Tidak ada sama sekali maksud sombong
atau berbesar hati. Namun bagi saya, ucapan itu motivasi hebat bagi saya untuk
terus aktif dalam belajar. Bahwa tidak sia-sia selama ini saya aktif bertanya
ini itu pada beliau. Alhamdulillah :)
Namun, diakhir perjalanan di Puskesmas Wates, renungan mendalam pasti
memenuhi benak saya. Saya harus belajar jauh dan jauh lebih rajin untuk menjadi
seorang dokter yang baik. Masyarakat sungguh masih teramat memerlukan dokter
yang bermanfaat ilmunya. Dan ini menjadi cambuk bagi saya untuk terus rajin
belajar setiap harinya. Semoga Allahu Ta’ala senantiasa memudahkan saya dan
teman-teman untuk terus belajar ilmu yang bermanfaat ya. Aamiin.
Special thanks to :
Keluarga Besar Puskesmas Wates, Yogyakarta.
Terutama untuk dr. Norma dan dr. Dian.
Jazakumullahu khairan katsiran.
:)
-nm-Selasa, 05 Juni 2012
catatan kecil di tahun ketiga - end
Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Garcious The Most Merciful
Catatan kecil di tahun ketiga – end
Sudah baca cerita nafsa di “catatan kecil di tahun ketiga” kah? Jika belum,
mungkin bisa baca itu dulu ya, biar nggak bingung dengan alur ceritanya. Yuk,
mari disimak dan diambil manfaatnya (semoga).
Kami Waria!
Nah, perjalanan panjang dari Monjali ke Bank Indonesia pun akhirnya
berakhir dengan sebuah diskusi kecil dengan para waria yang sedang “nyebong” di
kawasan Bank Indonesia. Saat itu, ada sekitar belasan waria yang datang
menghampiri kami untuk berdiskusi. Sejujurnya, saya tak nyaman melihat mereka.
Berpakaian minim, dan menarik mata. Dengan tangan terus saja memegang rokok
yang sepertinya tidak habis-habis di hisap. Duh, ini sungguh bukan kondisi yang
nafsa bisa mudah terbiasa.
Tapi, sepertinya para waria itu mengerti ketidaknyamanan kami.
Beberapa dari mereka bergeser ke pinggir ketika merokok, dan mendekat ketika
tidak merokok. Alhamdulillah. Diskusi pun berlangsung seru, dan asyik. Beberapa
dari kami sempat menanyakan berbagai macam pertanyaan, dan para waria pun tak
bosan menjawab pertanyaan kami. Kebetulan kami sudah kenal dengan salah satu
waria yang juga Koordinator Lapangan di LSM tersebut. Hal ini membuat kami
merasa lebih nyaman untuk bertanya apapun tentang kehidupan para waria.
Waria sendiri, adalah singkatan dari Wanita Pria, dalam bahasa Inggris
mereka biasa disebut dengan “Shemale”. Para waria ini biasa menyambung hidup
dari pekerjaan yang biasa mereka lakukan, yang terkadang masih berkutat dengan
dunia malam. Ada yang mengamen, menjadi pegawai salon, atau justru menjadi
pekerja seks komersial. Mengapa mereka masih terjun di dunia malam? Alasannya
klasik : kesulitan uang untuk menyambung hidup.
Apa yang bisa kita lakukan?
Setelah sesi diskusi bersama para waria, kami pun melakukan diskusi
kecil sekelompok. Program apa yang akan kami bawa untuk mereka? Heumm. Banyak
sekali hal yang bisa kami gali dari diskusi tersebut. Pertama adalah masalah
kesehatan. Para waria ini sangat erat hidupnya dengan seks bebas dan seks tidak
sehat. Tentu saja akibatnya kejadian penyakit seks menular pun menjadi hal
biasa yang dijumpai para komunitas mereka. Bahkan, para waria ini juga sudah
hafal nama penyakitnya karena sudah seringkali mendapatkan penyuluhan mengenai
masalah ini. Karena kondisinya demikian, masalah pertama tidak akan kami angkat
menjadi program kelompok ini.
Masalah kedua adalah rokok. Dunia waria betul-betul dipenuhi asap
rokok yang tiada berhenti berkepul. Entah mengapa, para waria ini meski
hidupnya tidak berkecukupan masih saja bisa menyediakan uang untuk membeli
rokok dalam jumlah besar. Namun, karena
para waria pun sudah terlalu sering mendapatkan penyuluhan mengenai rokok, kami
pun tidak menjadikan masalah ini sebagai dasar dari pembuatan program. Kami pun
bingung. Apa yang bisa kita lakukan?
Para waria itu butuh uang
Setelah sering berdiskusi dengan teman-teman, akhirnya kami memutuskan
untuk membuat sebuah program yang melenceng cukup jauh dari bidang kami. Kami
akan membuat sebuah Talk Show tentang Wirausaha dengan para pembicara yang
kompeten di bidangnya. Kenapa kami membuat program ini? Heumm, karena kami melihat
bahwasanya para waria ini masih sangat kekurangan uang untuk menyambung hidup.
Dan untuk mencegah mereka terus saja menjadi pekerja seks komersial, kami ingin
wawasan mereka terbuka untuk berwirausaha. Sehingga secara tidak langsung
mereka juga akan berhenti dari dunia malam. Selain itu, kami juga berusaha
mengubah pola pikir para waria yang materialistis untuk lebih paham akan
prioritas kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Saatnya berusaha, teman!
Nah, untuk merealisasikan program kami, kami membutuhkan dana yang
cukup banyak. Sekitar 1 juta lebih yang harus kami cari dalam waktu kurang dari
sebulan. Awalnya, kami beriuran terlebih dahulu untuk menutup kekurangan dana.
Namun, setelahnya kami pun berpikir untuk berusaha mencari dana dengan cara
menjadi agen fotocoy buku di angkatan. Alhamdulillah, dana pun terkumpul. Usaha
kami setiap hari menawarkan buku ke teman-teman seangkatan sukses besar. Bahkan
nilai untungnya terbilang cukup banyak untuk sebuah usaha awal. Kelompok kami
pun terkenal dengan sebutan kelompok yang rajin jualan. Hihi.
Selain berjualan, kami pun membentuk kepanitiaan kecil untuk program
ini. Alhamdulillah, teman-teman kelompok nafsa, TNK 26 sangat kompak dan mau
bekerja bersama. Bahkan satu hari sebelumnya kami berkumpul di rumah ketua
untuk simulasi acara dan rapat bersama. Sungguh menyenangkan bekerja bersama mereka.
Oh iya, karena acara kami sedikit menyimpang dari bidang kesehatan, akhirnya
nafsa dan seorang teman berusaha melobi LSM Quit Tobacco Indonesia. LSM ini
bekerja di bidang upaya anti rokok. Kami pun mendapatkan izin untuk membagikan
flyer, kalender dan sticker anti merokok di acara kami. Selain itu, di tengah
sesi istirahat akan diputarkan video anti rokok yang diharapkan mampu
menyadarkan para waria tentang bahaya merokok.
This is it! BINARAGA : Bincang
Wira Usaha dengan Waria
Akhirnya hari H pun tiba. Kami pun bersiap dengan acara ini.
Sertifikat, snak dan hal-hal terkait acara ini sudah siap. LCD proyektor dan
sound system pun sudah ada. Salut! Teman-teman saya memang luar biasa!
Akhirnya, pada tanggal 18 Maret 2012 tepat pukul 13.00 acara pun di mulai. Sesi pertama di di isi
oleh pembicara dari Fakultas Psikologi UGM yang akan membawakan materi motivasi
bagi para waria untuk berwirausaha. Sedangkan sesi kedua diisi oleh pembicara
dari Fakultas Ekonomi UGM, yang berisi tentang tips dan trik bagi para waria
untuk berwirausaha. Di akhir sesi ada pula diskusi kecil dengan seorang waria
yang sudah sukses berwirausaha.
Para waria tampak asyik menikmati acara ini. Mereka tampak antusias
dan bersemangat mengikuti acara ini.
Setelah acara ini selesai kami pun mengadakan follow up untuk
memfasilitasi waria yang memang benar-benar serius untuk berwirausaha. Kami
mengadakan sebuah focus group discussion untuk para waria berminat berwirausaha
untuk lebih leluasa tanya jawab dengan para narasumber yang ada. Setelah
program kami usai, kami pun berpamitan dengan LSM tersebut. Kami juga
berterimakasih pada para pengurus LSM yang selama ini membantu kami untuk
menjalankan program tersebut dengan baik.
Manis itu terasa di akhir,
ternyata..
Alhamdulillah, acara kami pun usai. Dan ternyata Alloh menghargai
usaha kami selama ini dengan cara yang luar biasa. Proposal yang kami ajukan ke
bagian Skills Lab untuk mendapatkan dana telah disetujui. Selain itu, kelompok
kami mendapatkan pujian dari bagian Skills Lab dan LSM KEBAYA sebagai kelompok
terbaik yang mengadakan tugas “Integrated Patient Management” di angkatan 2009.
Kyaa. Dan ternyata, selepas acara ini usai, kami juga mendapatkan sertifikat
khusus dari fakultas atas usaha kami yang sukses ini. Alhamdulillah bi ni’matihi
tatimusshalihaat..^^
Begitulah catatan kecil nafsa di tahun ketiga. Semoga bisa diambil
manfaatnya ya.
Special thanks to :
Allohu Ta’ala, yang berkenan memberikan pengalaman luar biasa
ini.
Kelompok TNK 26 : Acha, Alex, Eka, Ova, Aria, Tara, Febi,
Elpha, Adhit, Ima dan Nusantara..
terimakasih untuk kerjasama yang tak terlupa..Senang menjadi
bagian dari kalian..^^
Skills Lab FK UGM yang telah berbaik hati menyetujui proposal
kami..
LSM Kebaya, atas partisipasi dan keterbukaannya mengikuti
program ini..
Alhamdulillah..
-nm-
Minggu, 15 April 2012
catatan kecil di tahun ketiga
bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
-nm-
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Sebuah catatan kecil di tahun ketiga.
Tahun ketiga dibangku kedokteran, saya ditakdirkan masuk di sebuah kelompok tutorial yang paling berwarna selama ini. Setiap pribadi memiliki karakter khas masing-masing yang dominan. Tak ada yang serupa. Tentu saja hal ini menjadi sebuah pengalaman tersendiri bagi seorang nafsa. Di tahun ketiga ini, ada satu kisah tak terlupa. Terasa berat di awal, namun kemudian menjadikan banyak sekali hikmah yang mendalam untuk di petik ranumnya.
Sebuah tugas yang mengaburkan semangat.
Pesan singkat dari seorang teman membuat semangat saya drop. Tak terhingga. Sebuah tugas ke LSM yang saya pikir akan sangat menyenangkan, terasa seperti sembilu di hati. Awalnya, saya membayangkan kami satu kelompok akan pergi ke sebuah LSM idaman saya. LSM yang mengurusi tentang ibu dan anak, atau mungkin tentang lansia. Namun terkadang kenyataan memang tak seperti harapan. Qodarulloh, saya dan teman-teman di tugaskan ke sebuah LSM yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebuah LSM yang paling saya takuti untuk di datangi. LSM yang berfokus pada permasalahan waria.
Heboh. Pasti. Kami sekelompok tak menyangka akan pergi kesana. Apalagi melihat kelompok lain yang nampaknya enak dengan LSM mereka. Kami, atau lebih tepatnya seorang nafsa merasa gentar dengan tugas kali ini. Saya tak pernah sekalipun memiliki pengalaman dengan para waria. Bagi saya, meski menantang tapi saya sungguh tak punya persiapan. Persiapan hati lebih tepatnya, karena bagi saya di dunia ini hanya ada dua jenis kelamin. Pria dan Wanita. Tak lebih.
Berusahalah!
Ditengah-tengah rasa enggan yang menyelimuti hati. Seorang teman saya dengan penuh semangat terus mengajak kami untuk berusaha bersama. Awalnya, saya masih tak bersemangat. Namun melihat teman saya yang masih bisa ceria dan gembira dengan tugas ini, saya pun mulai merubah pola pikir saya selama ini. Jalani saja. Jangan dipikirkan. Karena jika dipikirkan terus menerus tak ubahnya berjalan di tempat. Tak ada progress, hanya menguras fisik dan hati. Maka selepas itulah saya ikut bersama dengan teman-teman mulai menyusun rencana apa yang akan kami lakukan di LSM tersebut. Kami ingin sebuah program yang unik, dan tak biasa. Dan jika bisa, dapat mengubah pandangan mereka.
Kunjungan Pertama
Kunjungan kami ke LSM tersebut untuk pertama kalinya berjalan cukup lancar. Berdiskusi dengan Mami yang ada di sana, kami semakin memiliki gambaran mengenai LSM ini. Kami pun jadi mengerti, bahwa kebanyakan dari para waria menggantungkan hidupnya dari dunia malam semata. Meski ada beberapa yang juga mengamen atau berwirausaha, namun rata-rata lebih memilih menjadi pekerja malam dalam konotasi negatif. Sebuah pertanyaan besar muncul di otak saya saat itu. “Kira-kira siapa pelanggannya ya?”
Menjelang subuh, di sudut kota Yogyakarta
Pukul setengah empat pagi kami sekelompok berkumpul di kos seorang teman. Kami sudah menyusun rencana. Pagi ini kami akan bertemu para waria dunia malam selepas mereka bekerja. Maka dengan semangat tinggi, kami mengayuh sepeda bersama. Menyusuri jalan Monjali menuju Bank Indonesia di tengah kota. Seru, asyik dan tak terlupa. Apalagi banyak adegan tak terduga yang muncul. Ketika seroang teman tertinggal karena ban yang mendadak kempes. Perjalanan pun terhenti sebentar, meski akhirnya tetap dilanjutkan.
Menjelang subuh, kami akhirnya bertemu para waria. Saya kaget, tak percaya dalam hati. Para waria ini cantik. Dalam artian, untuk seorang nafsa yang jarang bertemu waria mereka terlihat berbeda. Kebanyakan waria yang pernah ditemui adalah mereka yang mengamen, dengan silikon yang tak berbentuk memenuhi tubuh. Tapi, waria pekerja malam ini berbeda. Kaki jenjang, rok mini, rambut panjang, high-heels. Heumm. Saya sendiri sampai tak bisa berkata-kata.
~ to be continued
-nm-
Kamis, 24 Maret 2011
Pre Examination Stress Disorder
bismillahiirahmaanirrahiim
In The Name of Alloh, The Most Gracious The Most Merciful
ada cerita lucu malam menjelang ujian blok 2.4
ketika membuka twitter, ada timeline lucu dari teman saya. Biasalah, syndrome menjelang ujian blok, karena lucu jadi saya copas disini dengan sedikit perubahan.
check this out!
PPDGJ XXX
Pre Examination Stress Disorder(PSED)
Tergolong dalam Cluster C Gangguan Jiwa
beres-beres kamar kosan yang kayak kapal pecah dulu ah..^^
In The Name of Alloh, The Most Gracious The Most Merciful
ada cerita lucu malam menjelang ujian blok 2.4
ketika membuka twitter, ada timeline lucu dari teman saya. Biasalah, syndrome menjelang ujian blok, karena lucu jadi saya copas disini dengan sedikit perubahan.
check this out!
PPDGJ XXX
Pre Examination Stress Disorder(PSED)
Tergolong dalam Cluster C Gangguan Jiwa
- Sign and Symptom :
- Galau (G2C alias Galau-galau cemas)
- Berdo'a lewat jejaring sosial
- Menghitung mundur waktu ujian
- HSC dan fotokopian soal berserakan, kamar atau ruang pribadi berantakan
- Mencari fotokopi soal sampai ke ujung dunia *lebay*
- Diagnosis dapat di tegakkan jika terdapat 4 gejala dalam 1 pekan terakhir
- PSED harus ditangani dengan tepat
- Pasien yang gagal dalam exam dikhawatirkan akan muncuk schizophrenia
beres-beres kamar kosan yang kayak kapal pecah dulu ah..^^












