In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ketika engkau mendapati tidak ada seorangpun selain Allohu Ta'ala bersamamu, maka ketahuilah bahwasanya Allohu Ta'ala sudah lebih dari cukup dibandingkan segalanya.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.." (As-Suusiy)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhainya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku.." (Al-Fajr : 27-30)

Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label cerita dari jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dari jogja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

#3 : Stase Saraf, Saatnya Belajar Menata Hati

bismillahirrahmaanirrahiim
 In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

 Alhamdulilllah akhirnya tiba di stase ketiga saya.. Selamat datang di Stase Saraf :))



Stase saraf stase yang teramat berkesan. Di stase ini banyak cerita tak terlupakan yang bisa dibagikan. Ada duka, tapi lebih banyak suka nya. Alhamdulillaah, acha belajar banyak dari stase ini.

Awal masuk stase saraf, saya dan teman-teman dibagi menjadi kelompok kecil dan diberikan seorang residen untuk mendampingi kami selama di stase saraf. Saya termasuk beruntung mendapatkan pemimbing seorang residen yang pandai sekali. Sebut saja nama beliau dr. D. Saya diajari banyak hal oleh dr.D dari mulai teori, hingga pemeriksaan fisik kepada pasien. 

Kisah pertama yang ingin saya bagi adalah ketika saya bertugas untuk memiliki tanggung jawab kepada seorang pasien, sebut saja Bp.S. Bapak S di diagnosis sebagai penderita stroke hemorrhagik dan iskemik luas dengan GCS beliau hanya mencapai 3 poin. Saat mengelola Bp.S, saya diajari banyak hal oleh dr.D, termasuk bagaimana memeriksa pasien dengan kecurigaan mati batang otak seperti Bp.S. Pemeriksaan tes  batang otak pun dilakukan, dan karena pusat pernapasan Bp.S sudah terkena, maka praktis Bp.S harus menggunakan alat bantu berupa respirator untuk membantu pernapasan beliau. Untuk itulah beliau tidak dirawat di bangsal, namun di IGD kemudian dipindah ke IMC (Intermediate Care).

Setelah beberapa hari memeriksa Bp.S,  akhirnya keluarga bersedia menandatangani keputusan untuk dilakukan withdrawal pada beliau. Withdrawal artinya menarik terapi yang sudah diberikan kepada pasien  karena prognosis pada pasien sangat rendah, dan sudah terjadi kematian batang otak. Pada kasus ini, Bp.S akan dilepaskan dari respirator yang membantu beliau untuk bernapas. Saya belajar bagaimana caranya memberikan penjelasan yang baik kepada keluarga Bp.S. Tentunya hal ini tidak mudah bagi seorang dokter, untuk menjelaskan kondisi pasien yang sudah teramat buruk.

Akhirnya, respirator pun diangkat. Saya tak kuasa melihat tubuh Bp.S yang bergoncang sebagai tanda asfiksia pada beliau. Monitor pun memperlihatkan denyut nadi Bp.S yang mulai menurun, hingga rekam jantungnya menjadi datar sempurna. Saya menahan airmata saat itu, sungguh rasanya tidak kuat melihatnya. Namun ketika saya melihat ke dr.D, beliau sangat tenang dan berusaha menghibur keluarga pasien dengan bijak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un.

Dalam perjalanan pulang menuju bangsal,dr. D bertanya pada saya, "Gimana menurutmu, Naf? ". Saya hanya  tersenyum sembari menjawab "Saya nggak tahu e dok.." Perasaan saya berkecamuk hebat saat itu.Membayangkan saya ada di posisi keluarga pasien, atau bahkan di posisi pasien itu sendiri. Wallaahu a'lam.

Kisah kedua saya, adalah ketika saya bertugas jaga malam dihari terakhir saya di stase saraf. Ada satu pasien saat itu yang kondisinya sudah kritis. Saya harus memeriksa kondisi beliau setiap 30 menit, bahkan 15 menit sekali. Saat kembali bertugas memeriksa beliau, saya dengan seksama mengecek tanda vital pada beliau. Mulai dari nadi, pernapasan, tekanan darah, dan tingkat saturasi oksigen pada pasien yang sudah tidak sadarkan diri tersebut. 

Saat akan memeriksa saturasi oksigen di jempol kaki pasien, alat tersebut tidak berfungsi, tidak ada angka yang muncul dari monitornya. Padahal tadi di jempol tangan alat tersebut masih berfungsi. Teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya memeriksa pasien lain datang membantu saya. Hm, saya pikir mungkin alat nya sudah rusak,karena memang beberapa kali sempat seperti itu ketika digunakan. Akhirnya saya meminta tolong teman saya untuk memanggil residen yang bertugas. Sambil menunggu residen, saya coba pindahkan alat tersebut ke jempol kaki yang lain. Masih tak berfungsi. Saya berpikir sesaat,kemudian saya sadar. Saya tidak lagi mendengar suara napas pada pasien tersebut. Code Blue! Saya teriak memanggil bantuan. Ketika residen datang dan sempat dilakukan bantuan hidup,  ternyata pasien tersebut sudah dinyatakan meninggal dunia.

Saya tertegun. Kurang dari lima menit yang lalu saya masih dapat meraba nadi pasien, mengukur tekanan darah pasien, dan mendengar suara napas beliau. Dan kini, setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung beliau, praktis tidak ada irama disana. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un. Sungguh kematian terasa amat dekat dan cepat.

Kisah ketiga saya, saat memeriksa seorang pasien dengan nyeri pinggang karena ada Hernia Nucleus Pulposus pada tulang belakangnya. Saat masuk dan mengucapkan salam, beliau sebut saja Bp.B menjawab salam saya dengan antusias. Melihat sekeliling, ternyata tak ada yang menemani beliau di kamar, melainkan beberapa buku bacaan agama,koran dan sebuah alquran. Bapak B sangat kooperatif ketika diperiksa, beliau juga sangat antusias ketika tahu saya pernah ikut kajian di tempat beliau biasa kajian. Menawarkan beberapa rekaman kajian yang ada di HP beliau dan becerita pengalaman beliau. Saat saya berusaha menghibur beliau akan sakitnya, beliau tampak bahagia, tidak ada raut sedih diwajahnya. Bahkan beliau sempat berkata bahwa beliau menikmati sakit beliau dan bersyukur, karena dengan demikian beliau jadi lebih sering mengingat Allaah.

Cless, Serasa ada embun penyejuk menetes di hati saya saat itu. Betapa indahnya hati Bp.B sampai bisa  begitu santun menyikapi takdir dari Allaah.. Masyaa Allaah.. :)

Begitulah stase saraf. Stase yang teramat berkesan. Banyak cerita lain, tapi diantaranya tiga kisah ini yg paling berkesan. Ohya di stase saraf ini saya juga mendapatkan banyak sekali kemudahan. Apalagi ketika ujian bersama dr.I, subhanallaah beliau konsulen yang luaar biasa baiknya.. Saya ngefans sekali dengan beliau. Saat ujian  saya lebih banyak membahas topik selain ujian, seperti batik, jilbab,dokter dan pasien dsb. Inspiratif sekali. Sampai sekarang pun kalau saya sapa ketika bertemu beliau juga tersenyum menyenangkan. Alhamdulillaah.. ^^

Heumm.. Stase saraf mungkin akan  menjadi salah satu stase favorit saya.. Hehe. Karena saat melewati stase ini saya seperti diajak bercengkrama dengan hati saya sendiri. Memaknai semua dengan hati, dan terus berupaya mensyukuri. Alhamdulillaah.

Nah, bagaimana dengan anda?
:)




 -nm-

Sabtu, 08 Februari 2014

#2 Stase Kulit : Ketika Aku Belajar Lebih Teliti

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


   Alhamdulillaah, setelah melewati stase anestesi yang mengasyikkan, perjalanan koas saya pun berlanjut. Kali ini tujuan selanjutnya dari bahtera kami adalah Stase Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.

  Tak banyak sebenarnya yang bisa diceritakan di stase ini. Entah kenapa, stase ini termasuk stase yang berjalan begitu cepat. Hm, saya sendiri juga heran, kenapa di stase ini saya kurang bersemangat untuk menjalankan aktivitas koas. Mungkin karena saya tidak begitu tertarik ya. Tapi bagaimanapun stase ini termasuk stase yang menguras fisik, mental dan hati yang cukup berat. Karena banyak tugas yang harus dikerjakan dalam waktu singkat. Banyak cerita dengan teman yang terasa sembilu di hati. Banyak kisah yang mengaburkan semangat namun justru hikmahnya terasa sangat dekat.

  Satu hal yang sangat saya syukuri ketika menjalani stase ini adalah saya belajar untuk menjadi lebih teliti. Alhamdulillaah. Saya yang biasanya kurang teliti dan cermat dalam menjalani sesuatu kini belajar untuk bisa bersikap demikian. Bagaimana tidak? Banyak penyakit kulit yang memiliki penampakan yang serupa tapi tak sama. Maka dari itu saya harus benar-benar cermat melihat gambaran klinis UKK (Ujud Kelainan Kulit) dan keluhan yang dirasakan oleh pasien. Karena meski mirip, jika salah diagnosis saja maka terapinya pun bisa ikutan salah. Duh, kasihan sekali pasiennya kalau sampai demikian. T.T

  Stase Kulit dan Kelamin memang tak banyak yang bisa diceritakan. Namun, saya melihat banyak hal yang jauh diluar bayangan saya selama ini. Ketika melihat realita ada pasien dengan penyakit kelamin akibat berhubungan dengan sesama jenis, melihat tampakan klinis penyakit autoimmune yang tak terhindarkan, serta melihat penyakit kulit yang jaraaang sekali dijumpai.. Alhamdulillaah, segala puji hanya bagi Allaah semata..


 Yang pasti, saya belajar banyak dari stase ini.
  Belajar untuk melihat pasien lebih objektif dan cermat.
  
Mari kita lanjutkan perjalanan ke stase selanjutnyaa.. 
  ^^

 -nm-

Sabtu, 18 Mei 2013

nikmat yang tak ternilai



Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful..


Karena seperti biasanya, seorang manusia baru akan merasakan indahnya sebuah nikmat ketika nikmat itu dicabut darinya.

Dan itu terjadi pada saya.


Alhamdulillaahi alladzi bini’matihi tatimmush shalihaat.

Merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa masuk diantara teman-teman yang diberikan kesempatan untuk ikut koas gelombang pertama. Saya tidak perlu menunggu beberapa pekan untuk memasuki rotasi klinis di rumah sakit. Selain dengan harapan cepat lulus, saya juga berharap hal tersebut dapat menjadi penghibur hati Mama saya, yang telah bekerja keras sepenuh hati mencari nafkah untuk biaya sekolah putrinya *semoga Allaahu Ta’ala merahmati Mama selalu.. *

Namun, ditengah euforia koas gelombang pertama, ada satu nikmat yang terasa betul saya rasakan. Yang ketika koas nikmat tersebut sedikit berkurang karena rutinitas yang tiada henti berdatangan.




Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no 5933)

Yah. Nikmat berupa waktu luang. 

Masyaa Allaah, saya sungguh tahu bagaimana rasanya terlilit oleh kesibukan rutinitas yang mendera. Dari pagi menjelang, hingga malam di peraduan. Waktu saya tersita oleh kegiatan akademik dalam rangka “mencari kompetensi dokter setinggi mungkin” ini. Mungkin karena awal masuk koas saya sudah ditakdirkan masuk ke stase yang cukup menyita waktu. Insyaa Allaah cerita tentang stase ini akan saya tuliskan di cerita selanjutnya ya. *smile*

Dan setelah stase itu berakhir, saya mendapatkan kesempatan untuk libur sepekan. Alhamdulillaah..

Satu pekan yang terasa betul saya maksimalkan untuk mengganti waktu yang hilang selama sebulan.

Saya benar-benar bahagia menjalani waktu sepekan ini. Saya bisa dengan mudahnya datang ke majlis ilmu, berkumpul bersama sahabat-sahabat yang saya cintai karena Allaah, mengajar TPA, menulis,,membaca,mengerjakan pekerjaan rumah, serta menyelesaikan amanah yang sempat tertunda.

Sepekan yang kini hampir berakhir. Dan ditengah penghujung libur ini, semakin hari saya menjadi semakin bersedih. Waktu luang saya akan segera berakhir, dan digantikan dengan rutinitas dunia koas lagi di pekan depan.

Namun, tiba-tiba saya teringat sebuah kalimat yang berulang kali saya ucapkan pada diri sendiri.. Yang membuat saya terdiam, merenung cukup lama..

“Sungguh, jangan sampai kesibukan itu menjadi alasan untuk menjauh dari Allaah”




Kamar kosan, 8 Rajab 1434 H
menjelang akhir liburan yang menyenangkan.


-muthmainnafs-




Sabtu, 07 Juli 2012

Terimakasih, Puskesmas Wates!

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Menjalani tahun ketiga di bangku kedokteran itu rasanya seperti sekelebat saja. Cepat sekali. Kemarin baru saja berkenalan dengan teman-teman baru di Tutorial 26 dan tak terasa hari Kamis kemarin menjadi tutorial terakhir kami di tahun ketiga.

Satu hal yang paling saya suka selama tahun ketiga ini adalah ketika saya diberi kesempatan untuk mencari ilmu secara langsung di Puskesmas Wates. Puskesmas Wates, menjadi tempat kami “main” selama 3 bulan terakhir ini. Menempuh waktu sekitar 50 menit dari kampus, kami akhirnya tiba di Puskesmas yang terletak di pinggir jalan dan dikelilingi oleh sawah hijau nan terhampar luas.



Beberapa kali menjalani tugas di Puskesmas Wates, banyaak sekali pengalaman berharga yang saya peroleh. Alhamdulillah bi ni’matihi thathimusshalihaat. Saya berkesempatan mendapatkan beberapa kompetensi yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Dengan bimbingan dan supervisi dari dua dokter di puskesmas, dr. Norma dan dr. Dian yang sangat baik dan penyabar. Serta beberapa staf dan perawat yang saya kenal, saya mendapatkan banyak hal tak terlupa disini.

Di Puskesmas ini, saya belajar untuk berinteraksi langsung dengan pasien. Pasien, yang juga merupakan guru bagi para dokter merupakan seseorang yang hendaknya diperlakukan dengan penuh empati. Saya belajar berkomunikasi dengan bahasa jawa dan memahami secara mendalam keluhan pasien. Terkadang saya geli mendengar cerita pasien yang lucu. Terkadang saya dan pasien yang sudah sepuh bisa tertawa bersama karena sama-sama bingung. Hehe. Pasiennya bingung saya tanya apa, saya bingung pasien jawab apa. Akhirnya kami tertawa bersama. Asyik sekali. Alhamdulillah.


Saya juga belajar melihat realita kondisi kesehatan Indonesia secara langsung. Memahami bahwasanya tugas dokter itu cukup berat. Tak hanya periksa pasien kemudian habis perkara. Edukasi, follow up pengobatan dan lifestyle tak boleh terlupa. Dan tentu saja dalam setiap prosedurnya kami harus senantiasa memakai jubah empati. Tersenyum, sabar dan telaten menyelesaikan permasalahan kesehatan pasien kami.

Pengalaman tak terlupa yang saya pernah lakukan di Puskesmas Wates adalah untuk pertama kalinya saya berkesempatan menjahit luka irisan pada pasien. Waktu itu, saya dan teman saya sedang di Balai Pengobatan, kemudian tiba-tiba ada seorang ibu datang dengan tangan kanan berdarah banyaak sekali. Ternyata pasien tersebut mengalami sobekan diantara jempol dan telunjuk karena terkena gelas yang pecah saat mencuci piring. Akhirnya, saya dan seorang teman ikut membantu perawat merawat luka pasien. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menyuntikkan obat bius lokal pada pasien, dan menjahit 2 jahitan luka tersebut. Pengalaman ini sungguh tak terlupa, karena selama ini saya hanya berlatih menjahit luka di manekin kulit, dan kali ini di kulit yang sebenarnya.


Pengalaman lain yang pernah saya dapatkan adalah saya diberi kesempatan untuk melakukan Rectal Toucher di anus pasien. Saat itu, datang seorang pasien dengan keluhan sulit kencing dan buang air besar. Diagnosis dokter saat itu adalah pasien mengalami Benign Prostat Hypertophy atau dengan bahasa lebih mudah dipahami adalah ada perbesaran pada kelenjar prostat pasien. Di akhir pemeriksaan, saya bertanya pada dr. Dian, bukankah biasanya pasien dengan BPH akan dilakukan Rectal Touche? Yakni prosedur memasukkan jari dokter ke dalam anus pasien untuk memeriksa ukuran kelenjar prostat pasien. Dr. Dian pun menyetujui dan akhirnya mempersilakan saya untuk melakukan prosedur tersebut dengan hati-hati (karena ini baru pertama kalinya saya melakukan RT). Alhamdulillah, segalanya berjalan cukup lancar.

Selain dua pengalaman tersebut, saya juga mendapatkan banyaaak sekali pengalaman. Memasang EKG, mengambil darah pasien, melakukan nebulizer, perawatan luka, pemeriksaan fisik, telinga, mata, dan lain-lain. Alhamdulillah, senang sekali rasanya ilmu yang telah saya pelajari bisa terasa manfaatnya. Satu hal yang menggelitik benak saya saat itu adalah kelompok kami disebut dengan kelompok yang overnergy oleh dr. Dian. Kami tampak sangat bersemangat dalam menjalani proses pembelajaran di Puskesmas Wates ini dibandingkan kelompok lain yang juga belajar disana.

Saya sendiri merasa, selama proses pembelajaran ini saya bisa dibilang cukup aktif meminta tindakan. Beberapa kali saya mengajukan diri untuk membantu perawat dan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Karena saya sukaaa sekali dengan proses belajar yang seperti ini. Tidak membosankan, asyik, dan tidak akan mudah terlupakan. Namun, bukan berarti saya gila kompetensi dan menguasai semuanya sendiri. Saya juga mempersilakan teman saya untuk turut mencoba, dan setelahnya kami akan berdiskusi bersama.

Hal yang membahagiakan saya adalah ketika dr. Dian pernah berbisik pada saya “ Silakan diperiksa pasiennya ya, saya sudah percaya dengan pemeriksaan fisik kamu, pemeriksaan fisik kamu ke pasien cukup bagus”. Alhamdulillah, bahagia saya mendengarnya. Tidak ada sama sekali maksud sombong atau berbesar hati. Namun bagi saya, ucapan itu motivasi hebat bagi saya untuk terus aktif dalam belajar. Bahwa tidak sia-sia selama ini saya aktif bertanya ini itu pada beliau. Alhamdulillah :)

Namun, diakhir perjalanan di Puskesmas Wates, renungan mendalam pasti memenuhi benak saya. Saya harus belajar jauh dan jauh lebih rajin untuk menjadi seorang dokter yang baik. Masyarakat sungguh masih teramat memerlukan dokter yang bermanfaat ilmunya. Dan ini menjadi cambuk bagi saya untuk terus rajin belajar setiap harinya. Semoga Allahu Ta’ala senantiasa memudahkan saya dan teman-teman untuk terus belajar ilmu yang bermanfaat ya. Aamiin.


Special thanks to :
Keluarga Besar Puskesmas Wates, Yogyakarta.
Terutama untuk dr. Norma dan dr. Dian.
Jazakumullahu khairan katsiran.
:)
 -nm-

Selasa, 05 Juni 2012

catatan kecil di tahun ketiga - end


Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Garcious The Most Merciful

Catatan kecil di tahun ketiga – end


Sudah baca cerita nafsa di “catatan kecil di tahun ketiga” kah? Jika belum, mungkin bisa baca itu dulu ya, biar nggak bingung dengan alur ceritanya. Yuk, mari disimak dan diambil manfaatnya (semoga).

Kami Waria!
Nah, perjalanan panjang dari Monjali ke Bank Indonesia pun akhirnya berakhir dengan sebuah diskusi kecil dengan para waria yang sedang “nyebong” di kawasan Bank Indonesia. Saat itu, ada sekitar belasan waria yang datang menghampiri kami untuk berdiskusi. Sejujurnya, saya tak nyaman melihat mereka. Berpakaian minim, dan menarik mata. Dengan tangan terus saja memegang rokok yang sepertinya tidak habis-habis di hisap. Duh, ini sungguh bukan kondisi yang nafsa bisa mudah terbiasa.

Tapi, sepertinya para waria itu mengerti ketidaknyamanan kami. Beberapa dari mereka bergeser ke pinggir ketika merokok, dan mendekat ketika tidak merokok. Alhamdulillah. Diskusi pun berlangsung seru, dan asyik. Beberapa dari kami sempat menanyakan berbagai macam pertanyaan, dan para waria pun tak bosan menjawab pertanyaan kami. Kebetulan kami sudah kenal dengan salah satu waria yang juga Koordinator Lapangan di LSM tersebut. Hal ini membuat kami merasa lebih nyaman untuk bertanya apapun tentang kehidupan para waria.

Waria sendiri, adalah singkatan dari Wanita Pria, dalam bahasa Inggris mereka biasa disebut dengan “Shemale”. Para waria ini biasa menyambung hidup dari pekerjaan yang biasa mereka lakukan, yang terkadang masih berkutat dengan dunia malam. Ada yang mengamen, menjadi pegawai salon, atau justru menjadi pekerja seks komersial. Mengapa mereka masih terjun di dunia malam? Alasannya klasik : kesulitan uang untuk menyambung hidup.

Apa yang bisa kita lakukan?
Setelah sesi diskusi bersama para waria, kami pun melakukan diskusi kecil sekelompok. Program apa yang akan kami bawa untuk mereka? Heumm. Banyak sekali hal yang bisa kami gali dari diskusi tersebut. Pertama adalah masalah kesehatan. Para waria ini sangat erat hidupnya dengan seks bebas dan seks tidak sehat. Tentu saja akibatnya kejadian penyakit seks menular pun menjadi hal biasa yang dijumpai para komunitas mereka. Bahkan, para waria ini juga sudah hafal nama penyakitnya karena sudah seringkali mendapatkan penyuluhan mengenai masalah ini. Karena kondisinya demikian, masalah pertama tidak akan kami angkat menjadi program kelompok ini.

Masalah kedua adalah rokok. Dunia waria betul-betul dipenuhi asap rokok yang tiada berhenti berkepul. Entah mengapa, para waria ini meski hidupnya tidak berkecukupan masih saja bisa menyediakan uang untuk membeli rokok  dalam jumlah besar. Namun, karena para waria pun sudah terlalu sering mendapatkan penyuluhan mengenai rokok, kami pun tidak menjadikan masalah ini sebagai dasar dari pembuatan program. Kami pun bingung. Apa yang bisa kita lakukan?

Para waria itu butuh uang
Setelah sering berdiskusi dengan teman-teman, akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah program yang melenceng cukup jauh dari bidang kami. Kami akan membuat sebuah Talk Show tentang Wirausaha dengan para pembicara yang kompeten di bidangnya. Kenapa kami membuat program ini? Heumm, karena kami melihat bahwasanya para waria ini masih sangat kekurangan uang untuk menyambung hidup. Dan untuk mencegah mereka terus saja menjadi pekerja seks komersial, kami ingin wawasan mereka terbuka untuk berwirausaha. Sehingga secara tidak langsung mereka juga akan berhenti dari dunia malam. Selain itu, kami juga berusaha mengubah pola pikir para waria yang materialistis untuk lebih paham akan prioritas kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Saatnya berusaha, teman!
Nah, untuk merealisasikan program kami, kami membutuhkan dana yang cukup banyak. Sekitar 1 juta lebih yang harus kami cari dalam waktu kurang dari sebulan. Awalnya, kami beriuran terlebih dahulu untuk menutup kekurangan dana. Namun, setelahnya kami pun berpikir untuk berusaha mencari dana dengan cara menjadi agen fotocoy buku di angkatan. Alhamdulillah, dana pun terkumpul. Usaha kami setiap hari menawarkan buku ke teman-teman seangkatan sukses besar. Bahkan nilai untungnya terbilang cukup banyak untuk sebuah usaha awal. Kelompok kami pun terkenal dengan sebutan kelompok yang rajin jualan. Hihi.

Selain berjualan, kami pun membentuk kepanitiaan kecil untuk program ini. Alhamdulillah, teman-teman kelompok nafsa, TNK 26 sangat kompak dan mau bekerja bersama. Bahkan satu hari sebelumnya kami berkumpul di rumah ketua untuk simulasi acara dan rapat bersama. Sungguh menyenangkan bekerja bersama mereka. Oh iya, karena acara kami sedikit menyimpang dari bidang kesehatan, akhirnya nafsa dan seorang teman berusaha melobi LSM Quit Tobacco Indonesia. LSM ini bekerja di bidang upaya anti rokok. Kami pun mendapatkan izin untuk membagikan flyer, kalender dan sticker anti merokok di acara kami. Selain itu, di tengah sesi istirahat akan diputarkan video anti rokok yang diharapkan mampu menyadarkan para waria tentang bahaya merokok.

This is it! BINARAGA : Bincang Wira Usaha dengan Waria
Akhirnya hari H pun tiba. Kami pun bersiap dengan acara ini. Sertifikat, snak dan hal-hal terkait acara ini sudah siap. LCD proyektor dan sound system pun sudah ada. Salut! Teman-teman saya memang luar biasa! Akhirnya, pada tanggal 18 Maret 2012 tepat pukul 13.00  acara pun di mulai. Sesi pertama di di isi oleh pembicara dari Fakultas Psikologi UGM yang akan membawakan materi motivasi bagi para waria untuk berwirausaha. Sedangkan sesi kedua diisi oleh pembicara dari Fakultas Ekonomi UGM, yang berisi tentang tips dan trik bagi para waria untuk berwirausaha. Di akhir sesi ada pula diskusi kecil dengan seorang waria yang sudah sukses berwirausaha.

Para waria tampak asyik menikmati acara ini. Mereka tampak antusias dan bersemangat mengikuti acara ini.  Setelah acara ini selesai kami pun mengadakan follow up untuk memfasilitasi waria yang memang benar-benar serius untuk berwirausaha. Kami mengadakan sebuah focus group discussion untuk para waria berminat berwirausaha untuk lebih leluasa tanya jawab dengan para narasumber yang ada. Setelah program kami usai, kami pun berpamitan dengan LSM tersebut. Kami juga berterimakasih pada para pengurus LSM yang selama ini membantu kami untuk menjalankan program tersebut dengan baik.

Manis itu terasa di akhir, ternyata..
Alhamdulillah, acara kami pun usai. Dan ternyata Alloh menghargai usaha kami selama ini dengan cara yang luar biasa. Proposal yang kami ajukan ke bagian Skills Lab untuk mendapatkan dana telah disetujui. Selain itu, kelompok kami mendapatkan pujian dari bagian Skills Lab dan LSM KEBAYA sebagai kelompok terbaik yang mengadakan tugas “Integrated Patient Management” di angkatan 2009. Kyaa. Dan ternyata, selepas acara ini usai, kami juga mendapatkan sertifikat khusus dari fakultas atas usaha kami yang sukses ini. Alhamdulillah bi ni’matihi tatimusshalihaat..^^



Begitulah catatan kecil nafsa di tahun ketiga. Semoga bisa diambil manfaatnya ya.

Special thanks to :
Allohu Ta’ala, yang berkenan memberikan pengalaman luar biasa ini.

Kelompok TNK 26 : Acha, Alex, Eka, Ova, Aria, Tara, Febi, Elpha, Adhit, Ima dan Nusantara..
terimakasih untuk kerjasama yang tak terlupa..Senang menjadi bagian dari kalian..^^

Skills Lab FK UGM yang telah berbaik hati menyetujui proposal kami..

LSM Kebaya, atas partisipasi dan keterbukaannya mengikuti program ini..

Alhamdulillah..


-nm-

Minggu, 15 April 2012

catatan kecil di tahun ketiga

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Sebuah catatan kecil di tahun ketiga.


Tahun ketiga dibangku kedokteran, saya ditakdirkan masuk di sebuah kelompok tutorial yang paling berwarna selama ini. Setiap pribadi memiliki karakter khas masing-masing yang dominan. Tak ada yang serupa. Tentu saja hal ini menjadi sebuah pengalaman tersendiri bagi seorang nafsa. Di tahun ketiga ini, ada satu kisah tak terlupa. Terasa berat di awal, namun kemudian menjadikan banyak sekali hikmah yang mendalam untuk di petik ranumnya.

Sebuah tugas yang mengaburkan semangat.
Pesan singkat dari seorang teman membuat semangat saya drop. Tak terhingga. Sebuah tugas ke LSM yang saya pikir akan sangat menyenangkan, terasa seperti sembilu di hati. Awalnya, saya membayangkan kami satu kelompok akan pergi ke sebuah LSM idaman saya. LSM yang mengurusi tentang ibu dan anak, atau mungkin tentang lansia. Namun terkadang kenyataan memang tak seperti harapan. Qodarulloh, saya dan teman-teman di tugaskan ke sebuah LSM yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebuah LSM yang paling saya takuti untuk di datangi. LSM yang berfokus pada permasalahan waria.

Heboh. Pasti. Kami sekelompok tak menyangka akan pergi kesana. Apalagi melihat kelompok lain yang nampaknya enak dengan LSM mereka. Kami, atau lebih tepatnya seorang nafsa merasa gentar dengan tugas kali ini. Saya tak pernah sekalipun memiliki pengalaman dengan para waria. Bagi saya, meski menantang tapi saya sungguh tak punya persiapan. Persiapan hati lebih tepatnya, karena bagi saya di dunia ini hanya ada dua jenis kelamin. Pria dan Wanita. Tak lebih.

Berusahalah!
Ditengah-tengah rasa enggan yang menyelimuti hati. Seorang teman saya dengan penuh semangat terus mengajak kami untuk berusaha bersama. Awalnya, saya masih tak bersemangat. Namun melihat teman saya yang masih bisa ceria dan gembira dengan tugas ini, saya pun mulai merubah pola pikir saya selama ini. Jalani saja. Jangan dipikirkan. Karena jika dipikirkan terus menerus tak ubahnya berjalan di tempat. Tak ada progress, hanya menguras fisik dan hati. Maka selepas itulah saya ikut bersama dengan teman-teman mulai menyusun rencana apa yang akan kami lakukan di LSM tersebut. Kami ingin sebuah program yang unik, dan tak biasa. Dan jika bisa, dapat mengubah pandangan mereka.

Kunjungan Pertama
Kunjungan kami ke LSM tersebut untuk pertama kalinya berjalan cukup lancar. Berdiskusi dengan Mami yang ada di sana, kami semakin memiliki gambaran mengenai LSM ini. Kami pun jadi mengerti, bahwa kebanyakan dari para waria menggantungkan hidupnya dari dunia malam semata. Meski ada beberapa yang juga mengamen atau berwirausaha, namun rata-rata lebih memilih menjadi pekerja malam dalam konotasi negatif. Sebuah pertanyaan besar muncul di otak saya saat itu. “Kira-kira siapa pelanggannya ya?”

Menjelang subuh, di sudut kota Yogyakarta
Pukul setengah empat pagi kami sekelompok berkumpul di kos seorang teman. Kami sudah menyusun rencana. Pagi ini kami akan bertemu para waria dunia malam selepas mereka bekerja. Maka dengan semangat tinggi, kami mengayuh sepeda bersama. Menyusuri jalan Monjali menuju Bank Indonesia di tengah kota. Seru, asyik dan tak terlupa. Apalagi banyak adegan tak terduga yang muncul. Ketika seroang teman tertinggal karena ban yang mendadak kempes. Perjalanan pun terhenti sebentar, meski akhirnya tetap dilanjutkan.

Menjelang subuh, kami akhirnya bertemu para waria. Saya kaget, tak percaya dalam hati. Para waria ini cantik. Dalam artian, untuk seorang nafsa yang jarang bertemu waria mereka terlihat berbeda. Kebanyakan waria yang pernah ditemui adalah mereka yang mengamen, dengan silikon yang tak berbentuk memenuhi tubuh. Tapi, waria pekerja malam ini berbeda. Kaki jenjang, rok mini, rambut panjang, high-heels. Heumm. Saya sendiri sampai tak bisa berkata-kata.

~ to be continued





-nm-

Kamis, 24 Maret 2011

Pre Examination Stress Disorder

bismillahiirahmaanirrahiim
In The Name of Alloh, The Most Gracious The Most Merciful

ada cerita lucu malam menjelang ujian blok 2.4
ketika membuka twitter, ada timeline lucu dari teman saya. Biasalah, syndrome menjelang ujian blok, karena lucu jadi saya copas disini dengan sedikit perubahan.

check this out!

PPDGJ XXX
Pre Examination Stress Disorder(PSED)
Tergolong dalam Cluster C Gangguan Jiwa
  • Sign and Symptom :
  1. Galau (G2C alias Galau-galau cemas)
  2. Berdo'a lewat jejaring sosial
  3. Menghitung mundur waktu ujian
  4. HSC dan fotokopian soal berserakan, kamar atau ruang pribadi berantakan
  5. Mencari fotokopi soal sampai ke ujung dunia *lebay*
  • Diagnosis dapat di tegakkan jika terdapat 4 gejala dalam 1 pekan terakhir
  • PSED harus ditangani dengan tepat
  • Pasien yang gagal dalam exam dikhawatirkan akan muncuk schizophrenia
*dan saya masuk dalam kriteria nya...hihi
beres-beres kamar kosan yang kayak kapal pecah dulu ah..^^