In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ketika engkau mendapati tidak ada seorangpun selain Allohu Ta'ala bersamamu, maka ketahuilah bahwasanya Allohu Ta'ala sudah lebih dari cukup dibandingkan segalanya.."

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.." (As-Suusiy)

In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful..

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhainya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku.." (Al-Fajr : 27-30)

Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2015

throwback

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Time surely flies so fast..

Memang, waktu selalu berjalan begitu cepat. Dalam hitungan bulan saja, semenjak terakhir kali aku memposting cerita di masa koasku kemarin, banyak hal yang telah terjadi. Cerita yang pernah kuposting itu hanya sedikit dari apa yang terjadi selama masa koasku. Setelahnya masih banyak hal menarik yang tentunya bisa diceritakan namun terlalu berat untuk dituliskan. (Alasan :P)

Rasanya sayang ketika aku mencoba untuk melupakan masa-masa koasku dulu. Melewati setiap stase demi stase demi predikat seorang dokter umum. Loncat dari satu ujian ke ujian yang lain ,mulai dari teori, praktek dan pemeriksaan fisik pasien semuanya harus dijalani. Tapi apapun itu, aku sangat bersyukur telah berhasil menyelesaikan studi di kedokteran. Menjalani setiap prosesnya dengan kelancaran. Alhamdulillaah..

Semua terjadi karena kebaikan dari Sang Pencipta. Aku bertemu banyak orang luar biasa selama koasku. Satu kelompok unik yang tak banyak konflik. Para konsulen, mulai yang baiknya teramat sangat hingga yang galaknya seperti naga marah yang menyemburkan api dan asap. Hihi. Dan tentunya, semua itu tak akan lengkap tanpa kehadiran mereka. Guru-guru tanpa tanda jasa bagi seorang dokter muda. Mereka adalah pasien. Yap, pasien adalah guru terbaikku selama koas. Mereka berbaik hati meluangkan waktu untuk kuperiksa ditengah-tengah rasa sakit yang sedang dia derita. Bahkan tak jarang pasien yang justru merasa sangat berterimakasih ketika kuperiksa, bersikap ramah kepadaku, bahkan sampai ada yang khusus membawakan kado untukku. Sungguh, membuatku terharu. Apalagi aku masih seorang dokter muda yang masih banyak belum tahu. Hm, rasanya masih ingin melakukan banyak hal baik untuk mereka. Semoga setiap kebaikan mereka menjadi pelecut bagiku untuk lebih giat belajar. Agar tak mengecewakan pasienku kelak.

Dari semua stase yang aku lewati, mungkin ada 2 stase yang paling berkesan. Stase itu adalah stase anak dan penyakit dalam. Keduanya memang stase besar, yang justru terasa sangat melelahkan ketika dijalani. Namun, entah kenapa  justru di kedua stase itu aku sangat bersemangat untuk belajar dibandingkan stase lainnya. Stase anak teramat berkesan karena aku bersama dengan teman-teman yang baik hati dan menyenangkan. Stase luar kota di Banyumas juga sangat berkesan karena aku bertemu dengan residen baik hati dan juga pintar. Beliau tak pelit untuk membagi ilmu dan sangat jitu dalam menebak diagnosis pasien. Sayang, hanya 3 minggu kami bersama. Padahal masih banyak ilmu yang ingin kuserap dari beliau.

Stase penyakit dalam juga terasa menyenangkan. Awalnya aku sangat takut menjalani stase ini, karena katanya banyak teman koas yang terpaksa mengulang ujian hingga harus mundur dari jadwal. Mengawali stase ini aku sungguh berdoa agar diberikan kemudahan dan kelancaran. Dan terbukti, Ia dengan baik hati menjawab do’aku. Stase ini mengajarkan banyak hal yang tak hanya tentang kedokteran. Namun juga tentang pertemanan, kemandirian dan kerja keras. DI stase ini aku menikmati setiap proses pembelajarannya. Hingga akhirnya berhasil menyelesaikannya dengan nilai yang tak terduga. Alhamdulillaah..

Maka dari itu syukurku tak terungkapkan pada Sang Pemberi Kemudahan. Ia telah berbaik hati memberikanku kesehatan, kekuatan serta keselamatan dalam menjalani studi di kedokteran. Ia selalu membantuku melewati setiap kesulitan, membuatku menjadi kuat dalam permasalahan, serta memudahkan setiap urusan. Tanpa pertolongan dari Nya, aku tak mungkin bisa. Karena-Nya, aku bisa menjadi seorang dokter umum dengan tepat waktu dan meraih nilai yang memuaskan. Semua yang kujalani, terjadi atas kuasa-Nya,  karena Ia pasti selalu tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Yap, time surely flies so fast..

Kini dengan predikat dokter di depan namaku, tentunya ada amanah baru yang harus dipertanggungjawabkan. Semoga Allaah mampukan diriku untuk menjadi seorang muslimah yang juga seorang dokter. Agar kelak aku dapat mengisi setiap waktu dalam hidupku dengan kebermanfaatan. Aamiin :)
                                                                                                                                                     


dr. Nafsa Muthmainna




                                                                                                                       





Senin, 27 Juli 2015

kembali lagi :)

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful





Yap, Setelah sekian lama vakum karena berbagai alasan. Kini saya siap kembali menulis di blog.. berbagi manfaat dan pengalaman dengan teman-teman semuanya.. tunggu yaa :)



 -nm-

Minggu, 02 Maret 2014

#3 : Stase Saraf, Saatnya Belajar Menata Hati

bismillahirrahmaanirrahiim
 In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

 Alhamdulilllah akhirnya tiba di stase ketiga saya.. Selamat datang di Stase Saraf :))



Stase saraf stase yang teramat berkesan. Di stase ini banyak cerita tak terlupakan yang bisa dibagikan. Ada duka, tapi lebih banyak suka nya. Alhamdulillaah, acha belajar banyak dari stase ini.

Awal masuk stase saraf, saya dan teman-teman dibagi menjadi kelompok kecil dan diberikan seorang residen untuk mendampingi kami selama di stase saraf. Saya termasuk beruntung mendapatkan pemimbing seorang residen yang pandai sekali. Sebut saja nama beliau dr. D. Saya diajari banyak hal oleh dr.D dari mulai teori, hingga pemeriksaan fisik kepada pasien. 

Kisah pertama yang ingin saya bagi adalah ketika saya bertugas untuk memiliki tanggung jawab kepada seorang pasien, sebut saja Bp.S. Bapak S di diagnosis sebagai penderita stroke hemorrhagik dan iskemik luas dengan GCS beliau hanya mencapai 3 poin. Saat mengelola Bp.S, saya diajari banyak hal oleh dr.D, termasuk bagaimana memeriksa pasien dengan kecurigaan mati batang otak seperti Bp.S. Pemeriksaan tes  batang otak pun dilakukan, dan karena pusat pernapasan Bp.S sudah terkena, maka praktis Bp.S harus menggunakan alat bantu berupa respirator untuk membantu pernapasan beliau. Untuk itulah beliau tidak dirawat di bangsal, namun di IGD kemudian dipindah ke IMC (Intermediate Care).

Setelah beberapa hari memeriksa Bp.S,  akhirnya keluarga bersedia menandatangani keputusan untuk dilakukan withdrawal pada beliau. Withdrawal artinya menarik terapi yang sudah diberikan kepada pasien  karena prognosis pada pasien sangat rendah, dan sudah terjadi kematian batang otak. Pada kasus ini, Bp.S akan dilepaskan dari respirator yang membantu beliau untuk bernapas. Saya belajar bagaimana caranya memberikan penjelasan yang baik kepada keluarga Bp.S. Tentunya hal ini tidak mudah bagi seorang dokter, untuk menjelaskan kondisi pasien yang sudah teramat buruk.

Akhirnya, respirator pun diangkat. Saya tak kuasa melihat tubuh Bp.S yang bergoncang sebagai tanda asfiksia pada beliau. Monitor pun memperlihatkan denyut nadi Bp.S yang mulai menurun, hingga rekam jantungnya menjadi datar sempurna. Saya menahan airmata saat itu, sungguh rasanya tidak kuat melihatnya. Namun ketika saya melihat ke dr.D, beliau sangat tenang dan berusaha menghibur keluarga pasien dengan bijak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un.

Dalam perjalanan pulang menuju bangsal,dr. D bertanya pada saya, "Gimana menurutmu, Naf? ". Saya hanya  tersenyum sembari menjawab "Saya nggak tahu e dok.." Perasaan saya berkecamuk hebat saat itu.Membayangkan saya ada di posisi keluarga pasien, atau bahkan di posisi pasien itu sendiri. Wallaahu a'lam.

Kisah kedua saya, adalah ketika saya bertugas jaga malam dihari terakhir saya di stase saraf. Ada satu pasien saat itu yang kondisinya sudah kritis. Saya harus memeriksa kondisi beliau setiap 30 menit, bahkan 15 menit sekali. Saat kembali bertugas memeriksa beliau, saya dengan seksama mengecek tanda vital pada beliau. Mulai dari nadi, pernapasan, tekanan darah, dan tingkat saturasi oksigen pada pasien yang sudah tidak sadarkan diri tersebut. 

Saat akan memeriksa saturasi oksigen di jempol kaki pasien, alat tersebut tidak berfungsi, tidak ada angka yang muncul dari monitornya. Padahal tadi di jempol tangan alat tersebut masih berfungsi. Teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya memeriksa pasien lain datang membantu saya. Hm, saya pikir mungkin alat nya sudah rusak,karena memang beberapa kali sempat seperti itu ketika digunakan. Akhirnya saya meminta tolong teman saya untuk memanggil residen yang bertugas. Sambil menunggu residen, saya coba pindahkan alat tersebut ke jempol kaki yang lain. Masih tak berfungsi. Saya berpikir sesaat,kemudian saya sadar. Saya tidak lagi mendengar suara napas pada pasien tersebut. Code Blue! Saya teriak memanggil bantuan. Ketika residen datang dan sempat dilakukan bantuan hidup,  ternyata pasien tersebut sudah dinyatakan meninggal dunia.

Saya tertegun. Kurang dari lima menit yang lalu saya masih dapat meraba nadi pasien, mengukur tekanan darah pasien, dan mendengar suara napas beliau. Dan kini, setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung beliau, praktis tidak ada irama disana. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un. Sungguh kematian terasa amat dekat dan cepat.

Kisah ketiga saya, saat memeriksa seorang pasien dengan nyeri pinggang karena ada Hernia Nucleus Pulposus pada tulang belakangnya. Saat masuk dan mengucapkan salam, beliau sebut saja Bp.B menjawab salam saya dengan antusias. Melihat sekeliling, ternyata tak ada yang menemani beliau di kamar, melainkan beberapa buku bacaan agama,koran dan sebuah alquran. Bapak B sangat kooperatif ketika diperiksa, beliau juga sangat antusias ketika tahu saya pernah ikut kajian di tempat beliau biasa kajian. Menawarkan beberapa rekaman kajian yang ada di HP beliau dan becerita pengalaman beliau. Saat saya berusaha menghibur beliau akan sakitnya, beliau tampak bahagia, tidak ada raut sedih diwajahnya. Bahkan beliau sempat berkata bahwa beliau menikmati sakit beliau dan bersyukur, karena dengan demikian beliau jadi lebih sering mengingat Allaah.

Cless, Serasa ada embun penyejuk menetes di hati saya saat itu. Betapa indahnya hati Bp.B sampai bisa  begitu santun menyikapi takdir dari Allaah.. Masyaa Allaah.. :)

Begitulah stase saraf. Stase yang teramat berkesan. Banyak cerita lain, tapi diantaranya tiga kisah ini yg paling berkesan. Ohya di stase saraf ini saya juga mendapatkan banyak sekali kemudahan. Apalagi ketika ujian bersama dr.I, subhanallaah beliau konsulen yang luaar biasa baiknya.. Saya ngefans sekali dengan beliau. Saat ujian  saya lebih banyak membahas topik selain ujian, seperti batik, jilbab,dokter dan pasien dsb. Inspiratif sekali. Sampai sekarang pun kalau saya sapa ketika bertemu beliau juga tersenyum menyenangkan. Alhamdulillaah.. ^^

Heumm.. Stase saraf mungkin akan  menjadi salah satu stase favorit saya.. Hehe. Karena saat melewati stase ini saya seperti diajak bercengkrama dengan hati saya sendiri. Memaknai semua dengan hati, dan terus berupaya mensyukuri. Alhamdulillaah.

Nah, bagaimana dengan anda?
:)




 -nm-

Sabtu, 18 Mei 2013

nikmat yang tak ternilai



Bismillaahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allaah The Most Gracious The Most Merciful..


Karena seperti biasanya, seorang manusia baru akan merasakan indahnya sebuah nikmat ketika nikmat itu dicabut darinya.

Dan itu terjadi pada saya.


Alhamdulillaahi alladzi bini’matihi tatimmush shalihaat.

Merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa masuk diantara teman-teman yang diberikan kesempatan untuk ikut koas gelombang pertama. Saya tidak perlu menunggu beberapa pekan untuk memasuki rotasi klinis di rumah sakit. Selain dengan harapan cepat lulus, saya juga berharap hal tersebut dapat menjadi penghibur hati Mama saya, yang telah bekerja keras sepenuh hati mencari nafkah untuk biaya sekolah putrinya *semoga Allaahu Ta’ala merahmati Mama selalu.. *

Namun, ditengah euforia koas gelombang pertama, ada satu nikmat yang terasa betul saya rasakan. Yang ketika koas nikmat tersebut sedikit berkurang karena rutinitas yang tiada henti berdatangan.




Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no 5933)

Yah. Nikmat berupa waktu luang. 

Masyaa Allaah, saya sungguh tahu bagaimana rasanya terlilit oleh kesibukan rutinitas yang mendera. Dari pagi menjelang, hingga malam di peraduan. Waktu saya tersita oleh kegiatan akademik dalam rangka “mencari kompetensi dokter setinggi mungkin” ini. Mungkin karena awal masuk koas saya sudah ditakdirkan masuk ke stase yang cukup menyita waktu. Insyaa Allaah cerita tentang stase ini akan saya tuliskan di cerita selanjutnya ya. *smile*

Dan setelah stase itu berakhir, saya mendapatkan kesempatan untuk libur sepekan. Alhamdulillaah..

Satu pekan yang terasa betul saya maksimalkan untuk mengganti waktu yang hilang selama sebulan.

Saya benar-benar bahagia menjalani waktu sepekan ini. Saya bisa dengan mudahnya datang ke majlis ilmu, berkumpul bersama sahabat-sahabat yang saya cintai karena Allaah, mengajar TPA, menulis,,membaca,mengerjakan pekerjaan rumah, serta menyelesaikan amanah yang sempat tertunda.

Sepekan yang kini hampir berakhir. Dan ditengah penghujung libur ini, semakin hari saya menjadi semakin bersedih. Waktu luang saya akan segera berakhir, dan digantikan dengan rutinitas dunia koas lagi di pekan depan.

Namun, tiba-tiba saya teringat sebuah kalimat yang berulang kali saya ucapkan pada diri sendiri.. Yang membuat saya terdiam, merenung cukup lama..

“Sungguh, jangan sampai kesibukan itu menjadi alasan untuk menjauh dari Allaah”




Kamar kosan, 8 Rajab 1434 H
menjelang akhir liburan yang menyenangkan.


-muthmainnafs-




Jumat, 05 April 2013

pola komunikasi

bismillahirrahmaanirrahiim 
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful 


Setiap hari kita melakukan komunikasi. Bisa dengan orang yang sama, maupun berbeda. Dengan orang yang baru pertama berjumpa, atau sudah hampir setiap hari bertegur sapa. Beragam komunikasi kita lakukan. Beragam cara kita lakukan. Dan beragam pesan berusaha kita sampaikan. Lewat lisan, media sosial, surat-suratan atau dengan isyarat yang pada hakikatnya satu kata itu lagi yang menyeruak. Komunikasi.

Pernahkah terpikir, bahwa dalam komunikasi itu ada hal menarik yang bisa kita temukan?

menemukan pola komunikasi

Ya, saya suka sekali mencari pola komunikasi saat berinteraksi dengan dengan orang lain. Tentunya, pola komunikasi ini dapat ditemukan pada orang yang sudah sering berinteraksi. Jika baru pertama kali berjumpa, memang akan terasa sulit, namun tidak berarti mustahil untuk dilakukan.

Apa sih pentingnya menemukan pola?

Bagi saya, menemukan pola komunikasi yang tepat akan memberikan hasil komunikasi yang lebih efektif. Setiap individu itu spesial, dan itulah mengapa pola komunikasi antara satu orang dengan yang lain akan cenderung berbeda. Terkadang kita perlu berkomunikasi dengan lembut, namun dilain waktu kita bisa bersikap tegas, tergantung pada pola yang sudah kita temukan. Menemukan pola ini memang sangat erat dengan istilah "keterampilan menempatkan diri". 

Yang paling penting adalah menemukan pola komunikasi diri kita sendiri. 
Rasanya sungguh luar biasa ketika kita bisa berkomunikasi dengan diri sendiri dengan pola yang kita temukan.. Alhamdulillaah..:')


Nah, tunggu apa lagi.. 
Yuk segera temukan pola komunikasi mu dan orang-orang disekitarmu.. 
^^


-nm-

Rabu, 03 Oktober 2012

Untukmu, hati.

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Untukmu, hati.
Wahai hatiku, sekian lama aku selalu mencoba berdamai denganmu. Memahamimu sepenuhnya, mengajakmu berbicara dalam renungan panjang yang tak pernah ku tinggalkan. Namun, meski jabatan padamu terus ku lakukan, hingga saat ini tetap saja tak kuasa aku melihatmu berubah arah. Terombang-ambing.

Aku menyadari, hati jauh lebih licin dari apapun. Bahkan dari belut sawah yang kupegang di tanganpun, engkau jauh lebih licin. Engkau sangat mudah berubah arah, duhai hatiku. Disatu  waktu aku  melihatmu teguh dalam kebenaran menjaga agama. Namun di sisi lain, kulihat kau pun lalai karena maksiat yang tak kau sadari sendiri. Apa maumu?

Ketika aku mendapatimu tegas pada mereka, lawan jenismu. Kekagumanku padamu bertambah. Betapa engkau berusaha menutup seluruh celah yang akan membuatmu ternoda. Memerintahkan para pasukanmu untuk waspada setiap saat. Mata yang menunduk, lisan yang berkata benar, dan kaki yang melangkah dalam kebaikan. Semua atas perintahmu. Karena engkau ibarat raja dalam jasadku yang lemah ini. Ketika engkau baik, jasadku pun akan baik.

Namun, sering pula kilihat kau lalai. Berpanjang angan untuk sesuatu yang belum tentu terjadi. Berpikir hal yang tak sepantasnya dipikirkan oleh seorang muslimah. Hasad, khianat, prasangka buruk, dan semua musuh dari syaithan seakan siap menyerbumu kapanpun kau lalai. Kau baru menyadarinya ketika hitam mulai memenuhi pekatmu. Futur. Mengeras dan ternoda.

Hatiku.
Aku mengerti. Sungguh mengerti. Betapa engkau sering gelisah dan risau mengingat janji-Nya tentang pasangan hidup. Penasaran, ingin tahu, tak sabar, semua seakan menjadi satu rasa yang sulit kau ungkapkan. Banyak caramu mengalihkan perhatian untuk urusan ini. Namun, saat teman-teman di sekitarmu mengungkitnya, kau mudah sekali lemah. Bertanya, dan mulai berpanjang angan. Siapa ya?

Hatiku, yang kuinginkan dalam kebaikan selalu.
Satu pintaku padamu. Bersabarlah. Tidakkah engkau percaya, Alloh-lah Sang Maha Menepati Janji? Tiadalah Ia berjanji, kecuali Ia akan menepatinya. Tak perlu gelisah, risau, gundah dan gulana. Alloh sudah mengatur semuanya. Bersabarlah dalam penantianmu. Karena kelak ketika berbuka, akan kau rasakan manisnya penantianmu selama ini. Nikmat yang berbalut ridho-Nya. Halal yang di berkahi-Nya. Menyenangkan bukan? Tak maukah dirimu merasakannya?

Sekarang hatiku.
Mari kita berusaha bersama memperbaiki diri. Aku dan kamu. Kita mesti seirama. Seiring dengan aliran darah dalam jasadku, aku berharap kita selalu dalam kebenaran yang nyata. Menjemput setiap ilmu yang ada. Memuroja’ah pelajaran yang kita dapatkan bersama. Mengulang-ulang hafalan alqur’an dan hadits yang sering terlupa. Serta ilmu dunia yang tak boleh dilalaikan juga. Bersamamu hati. Mari kita berusaha.

-bersabarlah wahai jiwa, sungguh penantian ini tak akan lama-

 muthmainnafs
101111

Sabtu, 07 Juli 2012

Terimakasih, Puskesmas Wates!

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Menjalani tahun ketiga di bangku kedokteran itu rasanya seperti sekelebat saja. Cepat sekali. Kemarin baru saja berkenalan dengan teman-teman baru di Tutorial 26 dan tak terasa hari Kamis kemarin menjadi tutorial terakhir kami di tahun ketiga.

Satu hal yang paling saya suka selama tahun ketiga ini adalah ketika saya diberi kesempatan untuk mencari ilmu secara langsung di Puskesmas Wates. Puskesmas Wates, menjadi tempat kami “main” selama 3 bulan terakhir ini. Menempuh waktu sekitar 50 menit dari kampus, kami akhirnya tiba di Puskesmas yang terletak di pinggir jalan dan dikelilingi oleh sawah hijau nan terhampar luas.



Beberapa kali menjalani tugas di Puskesmas Wates, banyaak sekali pengalaman berharga yang saya peroleh. Alhamdulillah bi ni’matihi thathimusshalihaat. Saya berkesempatan mendapatkan beberapa kompetensi yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Dengan bimbingan dan supervisi dari dua dokter di puskesmas, dr. Norma dan dr. Dian yang sangat baik dan penyabar. Serta beberapa staf dan perawat yang saya kenal, saya mendapatkan banyak hal tak terlupa disini.

Di Puskesmas ini, saya belajar untuk berinteraksi langsung dengan pasien. Pasien, yang juga merupakan guru bagi para dokter merupakan seseorang yang hendaknya diperlakukan dengan penuh empati. Saya belajar berkomunikasi dengan bahasa jawa dan memahami secara mendalam keluhan pasien. Terkadang saya geli mendengar cerita pasien yang lucu. Terkadang saya dan pasien yang sudah sepuh bisa tertawa bersama karena sama-sama bingung. Hehe. Pasiennya bingung saya tanya apa, saya bingung pasien jawab apa. Akhirnya kami tertawa bersama. Asyik sekali. Alhamdulillah.


Saya juga belajar melihat realita kondisi kesehatan Indonesia secara langsung. Memahami bahwasanya tugas dokter itu cukup berat. Tak hanya periksa pasien kemudian habis perkara. Edukasi, follow up pengobatan dan lifestyle tak boleh terlupa. Dan tentu saja dalam setiap prosedurnya kami harus senantiasa memakai jubah empati. Tersenyum, sabar dan telaten menyelesaikan permasalahan kesehatan pasien kami.

Pengalaman tak terlupa yang saya pernah lakukan di Puskesmas Wates adalah untuk pertama kalinya saya berkesempatan menjahit luka irisan pada pasien. Waktu itu, saya dan teman saya sedang di Balai Pengobatan, kemudian tiba-tiba ada seorang ibu datang dengan tangan kanan berdarah banyaak sekali. Ternyata pasien tersebut mengalami sobekan diantara jempol dan telunjuk karena terkena gelas yang pecah saat mencuci piring. Akhirnya, saya dan seorang teman ikut membantu perawat merawat luka pasien. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menyuntikkan obat bius lokal pada pasien, dan menjahit 2 jahitan luka tersebut. Pengalaman ini sungguh tak terlupa, karena selama ini saya hanya berlatih menjahit luka di manekin kulit, dan kali ini di kulit yang sebenarnya.


Pengalaman lain yang pernah saya dapatkan adalah saya diberi kesempatan untuk melakukan Rectal Toucher di anus pasien. Saat itu, datang seorang pasien dengan keluhan sulit kencing dan buang air besar. Diagnosis dokter saat itu adalah pasien mengalami Benign Prostat Hypertophy atau dengan bahasa lebih mudah dipahami adalah ada perbesaran pada kelenjar prostat pasien. Di akhir pemeriksaan, saya bertanya pada dr. Dian, bukankah biasanya pasien dengan BPH akan dilakukan Rectal Touche? Yakni prosedur memasukkan jari dokter ke dalam anus pasien untuk memeriksa ukuran kelenjar prostat pasien. Dr. Dian pun menyetujui dan akhirnya mempersilakan saya untuk melakukan prosedur tersebut dengan hati-hati (karena ini baru pertama kalinya saya melakukan RT). Alhamdulillah, segalanya berjalan cukup lancar.

Selain dua pengalaman tersebut, saya juga mendapatkan banyaaak sekali pengalaman. Memasang EKG, mengambil darah pasien, melakukan nebulizer, perawatan luka, pemeriksaan fisik, telinga, mata, dan lain-lain. Alhamdulillah, senang sekali rasanya ilmu yang telah saya pelajari bisa terasa manfaatnya. Satu hal yang menggelitik benak saya saat itu adalah kelompok kami disebut dengan kelompok yang overnergy oleh dr. Dian. Kami tampak sangat bersemangat dalam menjalani proses pembelajaran di Puskesmas Wates ini dibandingkan kelompok lain yang juga belajar disana.

Saya sendiri merasa, selama proses pembelajaran ini saya bisa dibilang cukup aktif meminta tindakan. Beberapa kali saya mengajukan diri untuk membantu perawat dan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Karena saya sukaaa sekali dengan proses belajar yang seperti ini. Tidak membosankan, asyik, dan tidak akan mudah terlupakan. Namun, bukan berarti saya gila kompetensi dan menguasai semuanya sendiri. Saya juga mempersilakan teman saya untuk turut mencoba, dan setelahnya kami akan berdiskusi bersama.

Hal yang membahagiakan saya adalah ketika dr. Dian pernah berbisik pada saya “ Silakan diperiksa pasiennya ya, saya sudah percaya dengan pemeriksaan fisik kamu, pemeriksaan fisik kamu ke pasien cukup bagus”. Alhamdulillah, bahagia saya mendengarnya. Tidak ada sama sekali maksud sombong atau berbesar hati. Namun bagi saya, ucapan itu motivasi hebat bagi saya untuk terus aktif dalam belajar. Bahwa tidak sia-sia selama ini saya aktif bertanya ini itu pada beliau. Alhamdulillah :)

Namun, diakhir perjalanan di Puskesmas Wates, renungan mendalam pasti memenuhi benak saya. Saya harus belajar jauh dan jauh lebih rajin untuk menjadi seorang dokter yang baik. Masyarakat sungguh masih teramat memerlukan dokter yang bermanfaat ilmunya. Dan ini menjadi cambuk bagi saya untuk terus rajin belajar setiap harinya. Semoga Allahu Ta’ala senantiasa memudahkan saya dan teman-teman untuk terus belajar ilmu yang bermanfaat ya. Aamiin.


Special thanks to :
Keluarga Besar Puskesmas Wates, Yogyakarta.
Terutama untuk dr. Norma dan dr. Dian.
Jazakumullahu khairan katsiran.
:)
 -nm-

Minggu, 20 Mei 2012

m.a.s.a.l.a.h

bismillahirrahmaanirrahiim 
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful 

Setiap orang pasti memiliki masalah. Dan terkadang tanpa sadar merekalah yang menjadi sumber masalah. Bagaimanapun kita hidup di dunia ini pasti takkan pernah lepas dari yang namanya masalah. Masalah, yang semakin kedepan terasa semakin berat untuk dipikul, namun juga menempa kita untuk menjadi lebih tangguh dari sebelumnya.

Jika teringat masa kecil dulu, ketika kita masih dalam hitungan bulan yang awal, masalah kita sangat terasa simple untuk orang dewasa. Belajar berjalan. Tertatih-tatih, terantuk, terjatuh, menjadi hal biasa dalam permasalahan masa kecil kita. Bahkan kadangkala kita ditertawakan oleh para dewasa yang menganggapnya sebagai hiburan yang asyik ditonton. Tanpa mereka tahu,  untuk menggerakan langkah kecil ini terasa seperti memindahkan gunung. Mudah teorinya, tapi prakteknya sungguh tak seperti teorinya.

Namun. Apakah kita jaman kecil dulu menyerah?
Semakin terjatuh, justru semakin asyik rasanya belajar berjalan. Meski tubuh sudah dihiasi berbagai macam goresan dan kepala sudah tak terhitung berapa kali terbentur, langkah kaki kecil ini tak pernah berhenti. Menendang, tak tentu arah. Bergeliat. Ingin berlari meski harus jatuh lagi. Biarlah orang dewasa itu tertawa, karena bagi kita tawa mereka tak ada artinya. Justru terdengar seperti penyemangat untuk terus menapak. Sedikit demi sedikit.

Dan lihatlah. Waktu lah yang akan menjadi obat dari setiap masalah. Ditemani dengan usaha yang tiada henti dan keteguhan hati. Kaki kecil ini mulai bisa menapak mandiri. Yang tertawa terdiam. Takjub. Kemudian memeluk hangat dan memberikan senyuman selamat. Sakit yang dirasa badan seolah menghilang, hanya tersisa kegembiraan. Dan tak hanya menapak, namun sekarang kita sudah siap untuk sebuah masalah baru. Berlari. Merasakan hembusan angin yang menggoyangkan rambut. Melompat, meniru katak kecil di empang sebelah rumah. Tak sabar lagi.



Karena kata bernama "masalah" itu tak akan pernah berakhir. 
Namun selalu ada, untuk sebuah pembelajaran hidup yang tak ternilai.



-nm-

Sabtu, 07 April 2012

manusia setengah hati

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful



Terkadang, kita memang perlu berhenti dan menengok masa lalu. Sebuah pemastian. Bahwa langkah yang selama ini kita tempuh memang pada jalur yang sesuai. Tidak menyimpang, berbelok atau justru kembali memutar kepada kesalahan yang sama.

Satu hal yang menggelitik adalah melihat kondisi hati saat ini. Banyak sekali peristiwa yang terlewati, ratusan hari terlampaui, dan jutaan detik yang menjadi saksi. Namun semuanya tak bisa dengan pasti menggambarkan kondisi hati. Hanya Ia Sang Pemilik Hati-lah yang paling mengerti.

Setengah hati.
Tandanya, belum sepenuhnya bisa memahami. Belum sepenuhnya bisa menjalani. Belum sepenuhnya bisa mengerti, bahwa semua ini tidaklah ada untuk sebuah kesia-siaan. Ada hikmah yang selalu saja datang pada waktu yang tepat. Membuka tabir yang selama ini tertutup rapat.

Manusia setengah hati.
Manusia yang merasa apa yang sudah dilakukannya masihlah separuh dari hati yang tercerai berai. Belum ada yang maksimal, belum ada yang memuaskan. Semua terasa setengah-setengah. Terasa tak ada gairah. Hanya di awal, kemudian terkaburkan.

Padahal, itu MIMPI. Itu CITA-CITA. Itu HARAPAN.
Bagaimana mungkin diraih dengan hati yang masih setengah-setengah?!

Lantas bagaimana caranya merubah hati yang separuh itu menjadi utuh?
Satu kuncinya : Luruskan Niat! Jika semua itu kau lakukan karena-Nya. Sungguh tak akan ada rasa berat, beban, gelisah, dan gundah yang menyertai.

Tapi sekali lagi, meluruskan niat itu lebih mudah dituliskan dibandingkan diamalkan. Butuh keteguhan dan kesabaran untuk senantiasa menjaganya kembali lurus. Dan jangan pernah berharap kehidupan akan semanis madu di film-film atau novel fiksi. Ini realita. Bukan dunia maya. Kau ada, untuk sebuah tanggung jawab. Dan tidaklah tanggung jawab akan terselesaikan dengan indah, melainkan dengan keutuhan hati dalam menjalaninya.


"maka  jangan jadi manusia setengah hati!"


 -nm-

Rabu, 07 Maret 2012

just for You

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Lelah?
Aku juga.
Sibuk?
Yap, begitupula aku.
Tapi setidaknya balaslah sms ku.
Sesulit itukah?

Kalimat ini beberapa hari ini memenuhi ruang pikiranku. Saat dimana kesibukan terasa menghimpit jiwa dan raga. Tak perlu kusebutkan, tapi yang jelas fisik ini lama kelamaan terasa berat untuk menjalaninya. Setiap bangun pagi, badan tak pernah sesegar yang lalu. Capek yang terakumulasi. Letih yang tertumpuk. Hak tubuh yang sering tertunaikan dengan cara yang tidak sempurna.

Tak apa. Ini pilihan yang harus dijalani. Bukankah sudah menjadi prinsip, untuk menyelesaikan dengan baik apa yang telah dimulai? Tak perlu ada rasa berat, mengeluh, merutuk. Nikmatilah sebagai sebuah coretan yang tergores dalam catatan hidup. Jalani dengan hati yang ikhlas, dan penuh semangat. Tunggu tanggal mainnya, pasti ada yang istimewa menunggu masa.

Ruwet? Sangat. Apalagi saat orang-orang yang dulu kita pilih mulai berubah haluan. Kata-kata pembuka itu menjadi buktinya. Hanya kesabaran, dan terus berbaik sangka menjadi obat sakit saat ini. Kala hati mulai mengeruh oleh karat-karat tak tersadarkan. Hanya do’a pada-Nya lah yang menjadi penguat. Untuk senantiasa meluruskan niat dan tekad.

Maka, kata-kata selanjutnya menjadi penghibur hati yang tak terbatas. Seringkali menggumamkan kata ini dalam hari. Setiap pagi menjelang, kala pundak memberat, waktu senyum terasa berat untuk terkulum, saat menuju peraduan malam.

“If it is not for You, then for who?”
Jalani lah semua karena-Nya. Inginku, semua ini tak hanya berbuah di didunia. Akhiratpun turut serta. Karena ATP yang terkuras untuk semua ini akan sama. Namun hasilnya akan berbeda jika niatnya berbeda. Apa yang membedakannya? Yap. Pahala. Dan keridhoaan-Nya.

Jika bukan untuk-Nya, untuk siapa lagi? Jika bukan karena-Nya, karena siapa lagi?
Alloh mengerti sejauh mana engkau berusaha cha.
Sahabat itu hilang timbul, keluarga pun memiliki masa tersendiri.
Tapi Ia. Selalu ada. Alloh, selalu ada.




-nm-

Selasa, 14 Februari 2012

karena cinta itu sederhana

Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Merciful

Karena cinta itu sederhana.



Sungguh, cinta itu sederhana adanya. Hanya saja ketika ia mulai tercampur dengan berbagai macam keinginan manusia ia menjadi rumit layaknya benang wol yang kusut tak tahu ujung dan akhirnya. Terkadang, yang kita perlukan adalah mencoba melihat nya dari sudut pandang yang berbeda dari kebiasaan manusia. Gunakanlah hati. Gunakanlah rasa. Karena kesederhaan cinta itu ada. Simaklah..

Sebuah subuh, ketika seorang suami hendak bepergian jauh. Sang suami mesra berpamitan dengan istri tercinta. Mencium kening sang istri, ia berucap “Sayang, oleh-oleh apa yang ingin kubawakan untukmu?”. Sang istri tersenyum, berat melepaskan kepergian suami. “ Bagiku, engkau pulang dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun sudah jauh lebih dari cukup. “.

Inilah kesederhanaan cinta. Tak menuntut apapun. Karena bagi seorang istri, keberadaan seorang suami di sisinya sudah lebih dari cukup dibandingkan buah tangan terindah apapun.

Suatu malam. Sang suami terpaksa pulang malam. Istri dirumah pun cemas menunggu. Beberapa jam terlewati, sang suami yang ditunggu tak kunjung datang. Makan malam buatan sang istri belum tersentuh sama sekali. Sang istri khawatir, suami belumlah makan malam hingga ia menunggu suami untuk makan bersama. Cemas tak tertahankan. Malam pun sudah teramat larut. Istri yang keletihan menunggu pun tertidur di samping pintu rumah. Berharap, jika sang suami mengetuk pintu, ia dapat segera mendengar dan membukanya untuk suami tercinta. Sang suami akhirnya pulang ke rumah. Dengan perut kosong, ia yakin sang istri telah memasakkan makan malam untuknya malam itu. Namun, ketika mendapati waktu telah beranjak larut saat pulang, ia tak tega mengetuk pintu. Kasihan, sang istri pasti sudah tertidur. Menunggu pagi tiba, ia keletihan. Tertidur di depan pintu rumah. Sepasang suami istri itu sama-sama tak tahu, bahwa mereka hanya dipisahkan oleh pintu depan rumah mereka. Dengan kondisi yang sama, menahan lapar, menanti pasangannya.

Inilah kesederhanaan cinta. Setia, tanpa diminta. Menyayangi tak hanya lewat lisan,namun juga dalam kehidupan keseharian. Tak menanti balasan.

Ketika sang suami telah dihadapan istri, ia mencium kembali kening istrinya. Istripun bahagia tiada terkira. Melihat suami yang keletihan, ia segera mempersilakan suami untuk beristirahat. Senyum bahagia terpancar dari wajah sang istri. Suami yang juga tersenyum, malu-malu memberikan sesuatu untuk istri. Sebuah buah tangan, bukan tas bermerk, sepatu mahal atau bahkan perhiasan. Namun sepotong pakaian baru untuk sang istri. Sederhana, namun manis. Sang suami menyadari betul, sang istri tak pernah meminta dibelikan apapun. Ia hanya ingin, istri bahagia dengan pakaian barunya. Karena istrinya selama ini telah bekerja keras menyediakan keperluannya. Serta menjaga buah hatinya dengan penuh cinta. Istri yang tak menyangka suaminya membawa buah tangan sangat bahagia. Sungguh, suaminya penuh perhatian padanya. Tanpa ia minta pun, suami mengerti. Pakaian rumahnya saat itu sudah penuh tambalan disana-sini. Betapa suaminya memperhatikannya.

Inilah kesederhaan cinta. Perhatian kecil dari suami yang patut dipuji. Ia memahami, tanpa kata. Ia peduli tanpa banyak bicara. Baginya, sebuah senyum yang terpancar dari wajah istrinya sudah cukup untuk membahagiakan hatinya.

Kata orang, dalam kehidupan berumah tangga ada dua hal yang tak boleh lepas. Yakni sabar, dan syukur. Suami yang sabar akan kepribadian istrinya. Menyadari bahwa wanita diciptakan lebih lemah dari lak-laki. Suami yang sabar pada istrinya, akan memahami terkadang wanita memang adakalanya “bengkok” layaknya rusuk pertama. Suami yang sabar, akan memahami, terkadang istri tidak membutuhkan solusi, ia hanya membutuhkan teman berbagi. Betapa banyak cerita suami yang tak sabar pada sang istri. Pukul sana, pukul sini, bentakan, caci maki dan ucapan kasar terus menyertai kehidupan rumah tangganya. Sungguh, tak pantas bagi seorang suami untuk berbuat demikian. Tidakkah ia mengingat bahwa..

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162. Lihat Ash-Shahihah no. 284)

Selanjutnya..

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).

Sedangkan sifat yang harus dimiliki seorang istri adalah syukur. Bersyukur dengan apapun yang diberikan oleh suaminya. Bersyukur atas kehidupan rumah tangganya. Ia tak pernah melirik rumah tangga lain, dengan penuh kemewahan dan cerita yang ada didalamnya. Ia mensyukuri, apapun yang diberikan suami haruslah dihargai. Betapa ia menyadari suaminya telah berpayah-payah mencari nafkah bagi penghidupan rumah tangganya. Istri yang bersyukur pada suami, istri yang beruntung. Karena ia mampu memahami bahwa kehidupan dunia tak abadi. Kebahagiaan sejati, bukan pada harta, kedudukan dan rupa yang dimiliki oleh suami. Namun pada bagaimana ia menata hati dan mensyukuri. Banyak cerita istri yang tak mampu mensyukuri suaminya. Menjadi seorang isti yang tunjuk sana-tunjuk sini. Ingin ini, ingin itu. Membandingkan rumah tangganya dengan rumah tangga orang lain. Merasa suami belumlah mampu memenuhi kebutuhannya. Sungguh, sudah seharusnya ia mengingat, bahwasanya..

Rasulullah shollallohu ‘alaih wa sallam bersabda, “Saya melihat  kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari keluarga dan kebaikan-kebaikan suami. Jika sekiranya engkau berbuat baik kepadanya, lalu ia melihat sedikit kekurangan darimu, maka ia berkata: ‘Saya tidak melihat suatu kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Al-Bukhari No. 29 dan Muslim No. 907)

Percayalah. Cinta itu sederhana.



Further reading :


-nm-

Minggu, 12 Februari 2012

momen pulang

bismillahirrahmaanirrahiim 
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

Sebagai seorang pelajar yang merantau dari orangtuanya, ada momen tersendiri ketika pulang ke rumah. Jarak yang tak terlalu jauh, hanya satu jam perjalanan menggunakan kereta api atau dua jam menumpang bis menjadi cerita yang tak pernah lepas setiap bulannya. Karena itulah, hampir setiap pekan momen pulang menjadi sesuatu kebiasaan yang tak terlewatkan.

Pulang. Selalu menyimpan cerita.

Perjalanan
Perjalanan pulang menjadi satu hal yang harus dilalui sebelum merebahkan diri di hangatnya kasur rumah. Sang ular kuning atau pink yang berbaik hati mengantarku menyeberang kota telah menjadi teman setia setiap pekannya. Hanya satu kali bis menjadi alternatif pilihan kala pulang. Sisanya, duduk di dalam lambung ular panjang yang membelah persawahan batas kota menjadi sarana yang mengasyikkan.

Pemandangan alam, selalu saja tak membosankan. Sudah kesekian kali melewati jalan yang sama. Alam yang disajikan pun sama. Tapi tak pernah sekalipun bosan menggelayuti hati kala menatap langit biru yang menyegarkan, atau sawah yang menyejukkan mata. Apalagi momen setiap kali melewati pegunungan di sebelah selatan, mata ini sungguh enggan terpejam. Tak bosan dan puas untuk terus menatapnya. Bertanya dalam hati, kapan bisa menjelajahnya. Karena dari jendela kaca kereta, pegunungan ini tampak hanya sepelemparan batu. Dekat. Megah. Menantang.

Membayar Hutang
Pulang bagiku merupakan salah satu cara membayar hutang yang tertunda. Hutang kewajiban berbakti pada mama, menjadi adik untuk kakak, menjadi kakak untuk adik, serta menyelesaikan kewajiban menjadi bagian keluarga. Tak ada dalam kamus saat pulang menjadi sarana bermanja ria. Ini waktuku membayar hutang yang selama ini tak bisa kutunaikan selama di kota perantauan. Kewajiban membantu mama, menceritakan kisah sepekan yang belum tersampaikan. Mendengar celoteh adik perempuanku hingga larut malam. Mengantar adik lelaki berbelanja keperluannya di pondok. Menjadi pendengar cerita kakak yang tak bosan diulang-ulang. Menyadarkan hati, untuk terus mendo'akan ayahanda yang menanti bakti  seorang putri.

Menata Hati
Yap! Pulang menjadi sarana menata hati. Meninggalkan hiruk pikuk perkuliahan di kota seberang. Berjanji dalam perjalanan pulang, setelah ini dirumah harus lebih banyak tersenyum. Melupakan sejenak penatnya kesibukan. Momen pulang pun menjadi tempat kala belajar memahami banyak hal. Perbedaan yang dirasakan sejak dahulu. Mandiri, seperti biasanya, sejak jamanku kecil dulu. Tak perlu diperhatikan atau membutuhkan perhatian. Mengingatkan diri sendiri, tak perlu memikirkan apa yang orang lain berikan untukmu, namun apa yang bisa kau berikan untuk orang lain. 

Perbaikan Gizi
Saatnya pulang, saatnya banyak makan. Setelah di perantauan jarang memperhatikan pola makan, momen pulang seakan menjadi cara tersendiri untuk mengganti kebutuhan. PGAK ( Perbaikan Gizi Anak Kos) menjadi program yang tak lupa dilakukan. Apalagi jika ada acara keluarga besar. Yes! Banyak makanan bertebaran. Kadangkala sesama sepupu yang merantau saling tertawa ketika sedang mengambil makanan. Porsi anak kosan, bolak-balik ambil makanan. ^^

Mengisi Semangat
Pulang adalah momen mengisi semangat yang mulai tercerai berai di kota Pelajar. Kala melihat perjuangan mama, membesarkan keempat anaknya seorang diri. Malu menggelayuti. Bagaimanakah diri ini bisa malas belajar, malas kajian, malas-malasan,  sedang mama selama ini terus berjuang? Pantaskah lisan ini mengeluh atas beban kesibukan sedangkan mama jauh lebih sibuk? Yap! Suka sekali bagian pulang yang ini. Kala harus menyadari, bahwa ada tanggung jawab yang harus dipikul. Dalam setiap langkahku, ada bulir keringat mama yang berjuang, airmata mama dalam pengharapan, serta do'a mama yang terucap lirih di akhir sepertiga malam. Pulang, adalah momen mengisi semangat terbesar. Semangat untuk terus berjuang menjadi seorang yang jauh lebih baik.

Setiap pulang, selalu ada janji pada diri sendiri. 
Janji untuk menyediakan hati, telinga dan senyuman yang lebih banyak untuk mereka.
Keluarga tercinta.

-nm-

Senin, 27 Juni 2011

dua sisi

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful

Riak hati
Tak terkendali
Membebani
Kadang, ku ingin pergi
Tak mau lagi
Seperti ini
Mengeluh?
Tapi terus menyuluh
Mau mu apa huh??
Dua sisi ini, yaa Rabb..
Yang tak pernah bisa lepas ku darinya
Selamanya

"in the journey called life, sometimes we tend to hate the other side of us"

Duhai Alloh, dunia menipuku..bimbinglah hamba selalu..
-nm-

Kamis, 17 Februari 2011

copas : Dengarlah Suara Hatiku


bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful


Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki."

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada di situ.

Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang.
Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan.

Bagaimana akan kujawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi?

Rabu, 16 Februari 2011

nice poem! ^^

Karena Aku Mencintaimu
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu


Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah

Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.

Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,

Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku...

Semua itu karena aku mencintaimu,

Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu
----
*puisinya bagus ya??
^^
di dapat dari seorang sahabat jauh disana..
sahabat yang senantiasa mengingatkanku untuk selalu istiqomah.
barokallahu fiik, ukhty :)

Kamis, 20 Januari 2011

janji manis ujian blok

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh, The Most Gracious The Most Merciful

selalu saja begini selepas ujian blok..

"blok depan harus lebih rajin deh"
"aku harus berubah"
"pokoknya blok depan harus lebih baik"

dan janji-janji manis itu...

tapi,

selalu saja..

surely the typical of me..

semangat di awal, tapi sering kendur di tengah perjalanan..

masih ingin tetap begitu terus, nafsa???

ya sudah, teruskan saja kalo begitu..

maka janji-janji mu itu hanya akan pemanis belaka..

tak berarti, apapun.


*renungan post ujian.
ini  bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir
tapi sungguh, bukan masalah nilai yang akhirnya aku dapat
tapi tentang ilmu dan pemahaman
yang jauh lebih utama

cukupkah dirimu dengan ilmu mu saat ini?
tanyakan, bukan pada dia, atau mereka
tapi padamu, jiwa
dirimu

Rabu, 03 November 2010

sayangilah ibu kalian..

bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh, The Most Gracious The Most Merciful

sayangilah ibu kalian..

andai kalian tahu, betapa beratnya pejuangan seorang ibu,
pasti tak akan lagi ada keluh kesah terucap
tentang ibu kalian.

tahukah kalian,
ketika ibu mengandung kalian,
berat bagi beliau untuk bertahan.
setiap perubahan-perubahan terjadi pada beliau.
anatomis, fisiologis, psikis.
dan itu tak mudah kawan.


bayangkanlah,
mual selama hampir tiga bulan,
lemas,dan lesu menggelayuti.
makan tak enak, tidur tak nyenyak
benar-benar tak menyenangkan

Jumat, 01 Oktober 2010

goresan malam

malam gemintang
dalam buaian rembulan
hujan selepas sore tadi tak mengubahnya sekejap pun

dalam dekapan angin yang berhembus
dan untaian suara malam yang lembut
terpekur dalam kesendirian

malam kian beranjak
dan waktu mulai menapak
meninggalkan hari ini
dan semua sisa sisa keletihan hati
yang menemani

diujung malam
ada janji yang terucap
ada mimpi yang terajut
ada do'a yang terulur
lirih dan hampir tak terdengar
pelan dan menentramkan

nafas ini masih berhembus
jantung masih berdenyut pelan
dan homeostasispun masih terjaga
tunduk dan patuh dalam kuasa Nya

syukurku kulimpahkan pada Mu yaa Rabb
tangisku pecah terbayang siksa Mu
senyumku terukir mengingat janji syurga-Mu
dan hatiku merindu, sesayup rindu
untuk berjumpa dengan Mu
***
tanyakan setiap hal pada hatimu
karena meski lisan berucap
tangan bersikap
kaki melangkah
tak ada yang semampu hati
dalam memahami diri sendiri

waktu semakin sempit untuk berbenah
persiapkanlah sebaik mungkin
sebelum semuanya terlambat
berubahlah, wahai jiwa..

Kamis, 30 September 2010

berlari, berputar

aku ingin berlari
berlari dan terus berlari
hingga lelah kelelahan mengikutiku

aku ingin berputar
berputar dan terus berputar
hingga pusing bosan mendekatiku

berlari, berputar
hingga aku tak mampu lagi
dan terdiam kaku
dalam dekapan malam

aku tak akan menyerah
melangkah dan terus melangkah
bertahan dan terus bertahan
menggenapkan usaha
menjemput janji Nya yang nyata


***
tak ada alasan lagi untuk mundur
jalani saja, dan syukurilah
apa yang ada di hadapanmu, itulah yang terbaik
usahlah mencari apa yang tiada dan maya
:')

Kamis, 29 Juli 2010

Hoaaahm...Menguap??

Hoaaahmm..
pernahkah anda menguap??
tentu saja saya yakin pasti teman-teman sudah pernah menguap..hehe..apalagi yang ngantukan kayak saya ini. Bisa dijamin pasti sering menguap..hehe :p

Nah, sebenarnya bagaimanakah mekanisme menguap itu??
Jika seseorang menguap, maka ada tahapan yang terjadi adalah secara umum adalah sebagai berikut:
  1. Dimulai dengan mulut terbuka
  2. Rahang bergerak ke bawah
  3. Memaksimumkan udara yang mungkin dapat diambil ke dalam paru-paru
  4. Menghirup udara
  5. Otot-otot perut berkontraksi
  6. Diafragma didorong ke bawah paru-paru
  7. Terakhir beberapa udara ditiupkan kembali
Sebenarnya, secara medis menguap itu memiliki beberapa manfaat karena menguap merupakan salah satu cara tubuh kita untuk mempertahankan homeostasisnya. Dengan menguap, tubuh kita akan mengembalikan jumlah oksigen yang kekurangan dalan tubuh. Selain itu, menguap juga dapat mengatur suhu tubuh kita agar tetap stabil. Menguap juga merupakan refleks pernafasan untuk menarik lebih banyak oksigen ke dalam darah. Biasanya menguap juga dikaitkan dengan kelelahan, karena orang lelah, biasanya akan menguap, namun kelelahan bukanlah penyebab utama seseorang menguap. Orang yang menguap bisa disebabkan karena bosan, mengantuk,emosi dan stress yang memuncak. Wadeww..--"

Umumnya menguap adalah aktivitas yang tidak berbahaya atau malah sekedar tanda seseorang sedang bosan. Tapi menguap juga bisa pertanda ada suatu kondisi medis yang serius. Orang-orang yang memiliki penyakit saraf seperti penyakit Multiple Sclerosis dan Amyotropic Lateral Sclerosis (ASL) menguap lebih banyak dari orang normal.Orang yang memiliki penyakit darah rendah dengan tekanan darah 90/60 mmHg juga cenderung sering menguap yang diikuti pula dengan mengantuk. Tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHg. Selain sering menguap orang yang memiliki tekanan darah rendah juga sering pusing, cepat lelah dan penglihatan kabur.(tampaknya saya termasuk yang ini deh..hehe)