In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Tampilkan postingan dengan label dariku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dariku. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 September 2015
throwback
bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Time surely flies so
fast..
Memang, waktu selalu berjalan begitu cepat.
Dalam hitungan bulan saja, semenjak terakhir kali aku memposting cerita di masa
koasku kemarin, banyak hal yang telah terjadi. Cerita yang pernah kuposting itu
hanya sedikit dari apa yang terjadi selama masa koasku. Setelahnya masih banyak
hal menarik yang tentunya bisa diceritakan namun terlalu berat untuk
dituliskan. (Alasan :P)
Rasanya sayang ketika aku mencoba untuk
melupakan masa-masa koasku dulu. Melewati setiap stase demi stase demi predikat
seorang dokter umum. Loncat dari satu ujian ke ujian yang lain ,mulai dari
teori, praktek dan pemeriksaan fisik pasien semuanya harus dijalani. Tapi
apapun itu, aku sangat bersyukur telah berhasil menyelesaikan studi di
kedokteran. Menjalani setiap prosesnya dengan kelancaran. Alhamdulillaah..
Semua terjadi karena kebaikan dari Sang
Pencipta. Aku bertemu banyak orang luar biasa selama koasku. Satu kelompok unik
yang tak banyak konflik. Para konsulen, mulai yang baiknya teramat sangat
hingga yang galaknya seperti naga marah yang menyemburkan api dan asap. Hihi.
Dan tentunya, semua itu tak akan lengkap tanpa kehadiran mereka. Guru-guru tanpa
tanda jasa bagi seorang dokter muda. Mereka adalah pasien. Yap, pasien adalah
guru terbaikku selama koas. Mereka berbaik hati meluangkan waktu untuk
kuperiksa ditengah-tengah rasa sakit yang sedang dia derita. Bahkan tak jarang
pasien yang justru merasa sangat berterimakasih ketika kuperiksa, bersikap
ramah kepadaku, bahkan sampai ada yang khusus membawakan kado untukku. Sungguh,
membuatku terharu. Apalagi aku masih seorang dokter muda yang masih banyak
belum tahu. Hm, rasanya masih ingin melakukan banyak hal baik untuk mereka.
Semoga setiap kebaikan mereka menjadi pelecut bagiku untuk lebih giat belajar.
Agar tak mengecewakan pasienku kelak.
Dari semua stase yang aku lewati, mungkin ada 2
stase yang paling berkesan. Stase itu adalah stase anak dan penyakit dalam.
Keduanya memang stase besar, yang justru terasa sangat melelahkan ketika
dijalani. Namun, entah kenapa justru di
kedua stase itu aku sangat bersemangat untuk belajar dibandingkan stase
lainnya. Stase anak teramat berkesan karena aku bersama dengan teman-teman yang
baik hati dan menyenangkan. Stase luar kota di Banyumas juga sangat berkesan
karena aku bertemu dengan residen baik hati dan juga pintar. Beliau tak pelit
untuk membagi ilmu dan sangat jitu dalam menebak diagnosis pasien. Sayang,
hanya 3 minggu kami bersama. Padahal masih banyak ilmu yang ingin kuserap dari
beliau.
Stase penyakit dalam juga terasa menyenangkan.
Awalnya aku sangat takut menjalani stase ini, karena katanya banyak teman koas
yang terpaksa mengulang ujian hingga harus mundur dari jadwal. Mengawali stase
ini aku sungguh berdoa agar diberikan kemudahan dan kelancaran. Dan terbukti,
Ia dengan baik hati menjawab do’aku. Stase ini mengajarkan banyak hal yang tak
hanya tentang kedokteran. Namun juga tentang pertemanan, kemandirian dan kerja
keras. DI stase ini aku menikmati setiap proses pembelajarannya. Hingga
akhirnya berhasil menyelesaikannya dengan nilai yang tak terduga.
Alhamdulillaah..
Maka dari itu syukurku tak terungkapkan pada
Sang Pemberi Kemudahan. Ia telah berbaik hati memberikanku kesehatan, kekuatan
serta keselamatan dalam menjalani studi di kedokteran. Ia selalu membantuku
melewati setiap kesulitan, membuatku menjadi kuat dalam permasalahan, serta
memudahkan setiap urusan. Tanpa pertolongan dari Nya, aku tak mungkin bisa.
Karena-Nya, aku bisa menjadi seorang dokter umum dengan tepat waktu dan meraih
nilai yang memuaskan. Semua yang kujalani, terjadi atas kuasa-Nya, karena Ia pasti selalu tahu apa yang terbaik
bagi hamba-Nya.
Yap, time surely flies
so fast..
Kini dengan predikat dokter di depan namaku,
tentunya ada amanah baru yang harus dipertanggungjawabkan. Semoga Allaah
mampukan diriku untuk menjadi seorang muslimah yang juga seorang dokter. Agar kelak
aku dapat mengisi setiap waktu dalam hidupku dengan kebermanfaatan. Aamiin :)
dr. Nafsa Muthmainna
Jumat, 05 April 2013
pola komunikasi
bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Setiap hari kita melakukan komunikasi. Bisa dengan orang yang sama, maupun berbeda. Dengan orang yang baru pertama berjumpa, atau sudah hampir setiap hari bertegur sapa. Beragam komunikasi kita lakukan. Beragam cara kita lakukan. Dan beragam pesan berusaha kita sampaikan. Lewat lisan, media sosial, surat-suratan atau dengan isyarat yang pada hakikatnya satu kata itu lagi yang menyeruak. Komunikasi.
Pernahkah terpikir, bahwa dalam komunikasi itu ada hal menarik yang bisa kita temukan?
menemukan pola komunikasi
Ya, saya suka sekali mencari pola komunikasi saat berinteraksi dengan dengan orang lain. Tentunya, pola komunikasi ini dapat ditemukan pada orang yang sudah sering berinteraksi. Jika baru pertama kali berjumpa, memang akan terasa sulit, namun tidak berarti mustahil untuk dilakukan.
Apa sih pentingnya menemukan pola?
Bagi saya, menemukan pola komunikasi yang tepat akan memberikan hasil komunikasi yang lebih efektif. Setiap individu itu spesial, dan itulah mengapa pola komunikasi antara satu orang dengan yang lain akan cenderung berbeda. Terkadang kita perlu berkomunikasi dengan lembut, namun dilain waktu kita bisa bersikap tegas, tergantung pada pola yang sudah kita temukan. Menemukan pola ini memang sangat erat dengan istilah "keterampilan menempatkan diri".
Yang paling penting adalah menemukan pola komunikasi diri kita sendiri.
Rasanya sungguh luar biasa ketika kita bisa berkomunikasi dengan diri sendiri dengan pola yang kita temukan.. Alhamdulillaah..:')
Nah, tunggu apa lagi..
Yuk segera temukan pola komunikasi mu dan orang-orang disekitarmu..
^^
-nm-
Rabu, 03 Oktober 2012
Untukmu, hati.
Bismillahirrahmaanirrahiim
muthmainnafs
101111
In
The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Untukmu,
hati.
Wahai
hatiku, sekian lama aku selalu mencoba berdamai denganmu. Memahamimu
sepenuhnya, mengajakmu berbicara dalam renungan panjang yang tak pernah ku
tinggalkan. Namun, meski jabatan padamu terus ku lakukan, hingga saat ini tetap
saja tak kuasa aku melihatmu berubah arah. Terombang-ambing.
Aku
menyadari, hati jauh lebih licin dari apapun. Bahkan dari belut sawah yang
kupegang di tanganpun, engkau jauh lebih licin. Engkau sangat mudah berubah
arah, duhai hatiku. Disatu waktu
aku melihatmu teguh dalam kebenaran
menjaga agama. Namun di sisi lain, kulihat kau pun lalai karena maksiat yang
tak kau sadari sendiri. Apa maumu?
Ketika
aku mendapatimu tegas pada mereka, lawan jenismu. Kekagumanku padamu bertambah.
Betapa engkau berusaha menutup seluruh celah yang akan membuatmu ternoda.
Memerintahkan para pasukanmu untuk waspada setiap saat. Mata yang menunduk,
lisan yang berkata benar, dan kaki yang melangkah dalam kebaikan. Semua atas
perintahmu. Karena engkau ibarat raja dalam jasadku yang lemah ini. Ketika
engkau baik, jasadku pun akan baik.
Namun,
sering pula kilihat kau lalai. Berpanjang angan untuk sesuatu yang belum tentu
terjadi. Berpikir hal yang tak sepantasnya dipikirkan oleh seorang muslimah.
Hasad, khianat, prasangka buruk, dan semua musuh dari syaithan seakan siap
menyerbumu kapanpun kau lalai. Kau baru menyadarinya ketika hitam mulai
memenuhi pekatmu. Futur. Mengeras dan ternoda.
Hatiku.
Aku
mengerti. Sungguh mengerti. Betapa engkau sering gelisah dan risau mengingat
janji-Nya tentang pasangan hidup. Penasaran, ingin tahu, tak sabar, semua
seakan menjadi satu rasa yang sulit kau ungkapkan. Banyak caramu mengalihkan
perhatian untuk urusan ini. Namun, saat teman-teman di sekitarmu mengungkitnya,
kau mudah sekali lemah. Bertanya, dan mulai berpanjang angan. Siapa ya?
Hatiku,
yang kuinginkan dalam kebaikan selalu.
Satu
pintaku padamu. Bersabarlah. Tidakkah engkau percaya, Alloh-lah Sang Maha
Menepati Janji? Tiadalah Ia berjanji, kecuali Ia akan menepatinya. Tak perlu
gelisah, risau, gundah dan gulana. Alloh sudah mengatur semuanya. Bersabarlah
dalam penantianmu. Karena kelak ketika berbuka, akan kau rasakan manisnya
penantianmu selama ini. Nikmat yang berbalut ridho-Nya. Halal yang di
berkahi-Nya. Menyenangkan bukan? Tak maukah dirimu merasakannya?
Sekarang
hatiku.
Mari
kita berusaha bersama memperbaiki diri. Aku dan kamu. Kita mesti seirama.
Seiring dengan aliran darah dalam jasadku, aku berharap kita selalu dalam
kebenaran yang nyata. Menjemput setiap ilmu yang ada. Memuroja’ah pelajaran
yang kita dapatkan bersama. Mengulang-ulang hafalan alqur’an dan hadits yang
sering terlupa. Serta ilmu dunia yang tak boleh dilalaikan juga. Bersamamu
hati. Mari kita berusaha.
-bersabarlah wahai jiwa, sungguh penantian
ini tak akan lama-
Sabtu, 07 Juli 2012
Terimakasih, Puskesmas Wates!
bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Menjalani tahun ketiga di bangku kedokteran itu rasanya seperti
sekelebat saja. Cepat sekali. Kemarin baru saja berkenalan dengan teman-teman
baru di Tutorial 26 dan tak terasa hari Kamis kemarin menjadi tutorial terakhir
kami di tahun ketiga.
Satu hal yang paling saya suka selama tahun ketiga ini adalah ketika
saya diberi kesempatan untuk mencari ilmu secara langsung di Puskesmas Wates.
Puskesmas Wates, menjadi tempat kami “main” selama 3 bulan terakhir ini.
Menempuh waktu sekitar 50 menit dari kampus, kami akhirnya tiba di Puskesmas
yang terletak di pinggir jalan dan dikelilingi oleh sawah hijau nan terhampar
luas.
Beberapa kali menjalani tugas di Puskesmas Wates, banyaak sekali
pengalaman berharga yang saya peroleh. Alhamdulillah bi ni’matihi
thathimusshalihaat. Saya berkesempatan mendapatkan beberapa kompetensi yang
sebelumnya belum pernah saya lakukan. Dengan bimbingan dan supervisi dari dua
dokter di puskesmas, dr. Norma dan dr. Dian yang sangat baik dan penyabar.
Serta beberapa staf dan perawat yang saya kenal, saya mendapatkan banyak hal
tak terlupa disini.
Di Puskesmas ini, saya belajar untuk berinteraksi langsung dengan
pasien. Pasien, yang juga merupakan guru bagi para dokter merupakan seseorang
yang hendaknya diperlakukan dengan penuh empati. Saya belajar berkomunikasi
dengan bahasa jawa dan memahami secara mendalam keluhan pasien. Terkadang saya
geli mendengar cerita pasien yang lucu. Terkadang saya dan pasien yang sudah
sepuh bisa tertawa bersama karena sama-sama bingung. Hehe. Pasiennya bingung
saya tanya apa, saya bingung pasien jawab apa. Akhirnya kami tertawa bersama. Asyik
sekali. Alhamdulillah.
Saya juga belajar melihat realita kondisi kesehatan Indonesia secara
langsung. Memahami bahwasanya tugas dokter itu cukup berat. Tak hanya periksa
pasien kemudian habis perkara. Edukasi, follow up pengobatan dan lifestyle tak
boleh terlupa. Dan tentu saja dalam setiap prosedurnya kami harus senantiasa
memakai jubah empati. Tersenyum, sabar dan telaten menyelesaikan permasalahan
kesehatan pasien kami.
Pengalaman tak terlupa yang saya pernah lakukan di Puskesmas Wates
adalah untuk pertama kalinya saya berkesempatan menjahit luka irisan pada
pasien. Waktu itu, saya dan teman saya sedang di Balai Pengobatan, kemudian
tiba-tiba ada seorang ibu datang dengan tangan kanan berdarah banyaak sekali.
Ternyata pasien tersebut mengalami sobekan diantara jempol dan telunjuk karena
terkena gelas yang pecah saat mencuci piring. Akhirnya, saya dan seorang teman
ikut membantu perawat merawat luka pasien. Alhamdulillah, saya diberi
kesempatan untuk menyuntikkan obat bius lokal pada pasien, dan menjahit 2
jahitan luka tersebut. Pengalaman ini sungguh tak terlupa, karena selama ini
saya hanya berlatih menjahit luka di manekin kulit, dan kali ini di kulit yang
sebenarnya.
Pengalaman lain yang pernah saya dapatkan adalah saya diberi
kesempatan untuk melakukan Rectal Toucher di anus pasien. Saat itu, datang
seorang pasien dengan keluhan sulit kencing dan buang air besar. Diagnosis
dokter saat itu adalah pasien mengalami Benign Prostat Hypertophy atau dengan
bahasa lebih mudah dipahami adalah ada perbesaran pada kelenjar prostat pasien.
Di akhir pemeriksaan, saya bertanya pada dr. Dian, bukankah biasanya pasien
dengan BPH akan dilakukan Rectal Touche? Yakni prosedur memasukkan jari dokter
ke dalam anus pasien untuk memeriksa ukuran kelenjar prostat pasien. Dr. Dian
pun menyetujui dan akhirnya mempersilakan saya untuk melakukan prosedur
tersebut dengan hati-hati (karena ini baru pertama kalinya saya melakukan RT).
Alhamdulillah, segalanya berjalan cukup lancar.
Selain dua pengalaman tersebut, saya juga mendapatkan banyaaak sekali
pengalaman. Memasang EKG, mengambil darah pasien, melakukan nebulizer,
perawatan luka, pemeriksaan fisik, telinga, mata, dan lain-lain. Alhamdulillah,
senang sekali rasanya ilmu yang telah saya pelajari bisa terasa manfaatnya.
Satu hal yang menggelitik benak saya saat itu adalah kelompok kami disebut
dengan kelompok yang overnergy oleh dr. Dian. Kami tampak sangat bersemangat
dalam menjalani proses pembelajaran di Puskesmas Wates ini dibandingkan
kelompok lain yang juga belajar disana.
Saya sendiri merasa, selama proses pembelajaran ini saya bisa dibilang
cukup aktif meminta tindakan. Beberapa kali saya mengajukan diri untuk membantu
perawat dan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Karena saya sukaaa sekali
dengan proses belajar yang seperti ini. Tidak membosankan, asyik, dan tidak
akan mudah terlupakan. Namun, bukan berarti saya gila kompetensi dan menguasai
semuanya sendiri. Saya juga mempersilakan teman saya untuk turut mencoba, dan
setelahnya kami akan berdiskusi bersama.
Hal yang membahagiakan saya adalah ketika dr. Dian pernah berbisik
pada saya “ Silakan diperiksa pasiennya ya, saya sudah percaya dengan
pemeriksaan fisik kamu, pemeriksaan fisik kamu ke pasien cukup bagus”.
Alhamdulillah, bahagia saya mendengarnya. Tidak ada sama sekali maksud sombong
atau berbesar hati. Namun bagi saya, ucapan itu motivasi hebat bagi saya untuk
terus aktif dalam belajar. Bahwa tidak sia-sia selama ini saya aktif bertanya
ini itu pada beliau. Alhamdulillah :)
Namun, diakhir perjalanan di Puskesmas Wates, renungan mendalam pasti
memenuhi benak saya. Saya harus belajar jauh dan jauh lebih rajin untuk menjadi
seorang dokter yang baik. Masyarakat sungguh masih teramat memerlukan dokter
yang bermanfaat ilmunya. Dan ini menjadi cambuk bagi saya untuk terus rajin
belajar setiap harinya. Semoga Allahu Ta’ala senantiasa memudahkan saya dan
teman-teman untuk terus belajar ilmu yang bermanfaat ya. Aamiin.
Special thanks to :
Keluarga Besar Puskesmas Wates, Yogyakarta.
Terutama untuk dr. Norma dan dr. Dian.
Jazakumullahu khairan katsiran.
:)
-nm-Kamis, 29 September 2011
the falling leaves
Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Tahukah kamu daun yang berguguran terhempas angin?
Bahkan, peristiwa itu telah begitu nyata dituliskan dalam kitab-Nya yang mulia..












