Rabu, 26 Desember 2012
Rabu, Desember 26, 2012
2 comments
sahabat
Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Alloh The
Most Gracious The Most Merciful
Beberapa
hari ini rindu sahabat-sahabat tercinta dimanapun mereka berada. Meski tak
sering bertukar kabar via sms, telepon maupun surat. Nafsa percaya, kalian
terjaga oleh –Nya. Insyaa Alloh.
Dan ini, sedikit goresan
penaku untuk kalian. Sahabatku. Karena Alloh. Insyaa Alloh.
Sobat.
Setiap mengingat masa kita
bersama. Semua berputar sedemikian cepatnya. Ada kau, aku, dia dan mereka.
Mungkin ada beberapa teman lain yang merasa sedikit ‘iri’ dengan persahabatan
kita. Atau adakalanya satu diantara kita sempat ‘terjatuh’. Tapi kita tetap
saling tersenyum. Berbagi. Memberi. Menepuk bahu kuat-kuat. Dan berpegangan
tangan lebih erat.
Sabahatku.
Maafkan aku. Terkadang,
memang aku diam padamu. Kau pikir mungkin aku marah, atau justru menjauh? Tak
bisa kupungkiri, itu manusiawi menggelayuti hatimu. Sikapku yang terkadang
sulit ditebak pasti membuatmu serba salah. Tapi ketahuilah. Dalam diamku, aku
merenung. Berusaha mengoreksi diriku sendiri dalam kesepian. Menikmati
cengkrama dengan diri sendiri. Sejenak saja.
Mungkin ada sedikit rasa
sedih di hatimu. Kala sikapku mungkin terasa ‘berbeda’. Tak sering lagi kita
bercanda. Aku jarang sms, telepon bahkan berkirim surat padamu. Begitupun
dirimu. Namun semua itu bukan karena kutak peduli. Sungguh. Allohu Ta’ala lebih
mengetahui isi hatiku. Aku memang punya cara sendiri untuk peduli.Yang tentu
saja tak perlu harus kau mengetahuinya.Maafkan nafsa ya :)
Sahabatku.
Aku ingin sekali memahamimu.
Aku tahu dengan pasti. Engkau pun sama
denganku saat ini. Berjuang meraih mimpi masing-masing dengan cara yang
berbeda. Ketika aku menuliskan ini, mungkin disana kalian sedang sibuk dengan
urusan yang menyibukkan. Ada yang berkutat dengan hafalan Al-Qur’an,
meperjuangkan SKRIPSI, menjadi pemimpin, belajar OSCE COMPRE atau pun sedang sibuk menjalani stase
Koas :). Semangat selalu ya untuk kalian.
Tak usah pedulikan aku.
Insyaa Alloh aku baik-baik saja disini. Tak ada rasa kesepian lagi, karena aku
percaya Allohu Ta’ala selalu ada. Untukku, dan kalian. Salam sayangku, penuh
senyuman dan kerinduan untuk kalian. Semoga setiap usaha kalian meraih mimpi
dibalas oleh-Nya dengan hasil yang terbaik. Semoga persahabatan kita selalu
terjaga, hingga ke Syurga. Dan semoga, Allohu Ta’ala senantiasa meridhoi kita.
Aamiin.
Kecup sayang untuk
kalian.
Sahabat :)
-nm-
Senin, 22 Oktober 2012
HSC : Panel Discussion Emergency in Pediatrics
Bismillahirrahmaanirrahiim
In The Name of Allah
The Most Gracious The Most Merciful
Baca do’a dulu ya
teman agar ilmunya bermanfaat :)
EMERGENCY IN PEDIATRICS (TRAUMATIC
AND NON TRAUMATIC)
Panel Discussion by dr. Dwi Kisworo
Setyowireni Sp.A dan dr. Akhmad Mahmudi, Sp.B.A-KBA
- Non Traumatic Cases
Pada
kasus emergensi pada anak-anak dengan tanpa riwayat trauma, maka hal-hal yang
mungkin terjadi adalah adanya disfungsi pada sistem respirasi, cardiovasculer
maupun ada permasalahan pada sirkulasi anak tersebut. Untuk penilaian kasus
emergensi pada anak, maka yang kita lakukan sedikit berbeda dibandingkan
penilaian pada orang dewasa. Jika kita menilai kondisi gawat darurat pada orang
dewasa mungkin akan terpikir sebuah alur SRSABC (bisa juga SRSCAB). Nah, pada anak
ada sedikit penilaian yang berbeda, yakni PAT (Pediatric Assestmenst Triangle) baru kemudian
ABCDE
PAT assesment terdiri
dari 3 komponen utama, yakni Appearance, Work of Breathing dan Circulation
to skin. Ketiganya membentuk segitiga sama sisi yang sangat penting
dalam penilaian kondisi kegawatdaruratan pada anak. PAT secara cepat dapat
membantu seorang dokter untuk menilai kondisi pasien anak dan membentuk suatu
“general impression” mengenai kondisi anak tersebut. PAT dapat dinilai dengan
visual dan auditory tanpa harus menyentuh anak terlebih dahulu. Sekarang mari
kita bahas masing-masing komponen dari PAT :
- General Appearanceà tampilan/tampakan seorang anak
akan menujukkan apakah ventilasi, oksigenasi, perfusi otak, homeostasis
tubuh dan sistem saraf pusat telah adekuat dalam menjalankan fungsinya.
Untuk menilai tampilan/tampakan dari seorang anak, maka dapat dilihat
pada TICLS (Tickles), yakni Tonus, Interactiveness, Consolability,
Look/Gaze dan Speech/Cry.
- Work of Breathing à Usaha nafas dari anak
menunjukkan bagaimana anak berupaya melakukan kompensasi terhadap
abnormalitas dari oksigenasi dan ventilasi yang terjadi pada tubuhnya. Untuk
menilai kerja pernafasan dari pasien maka dapat dilakukan dengan
memperhatikan tanda visual dan auditory. Untuk tanda yang dapat dinilai
secara visual, maka kita dapat melihat posisi abnormal dari anak ( tripod,
sniffing dsb), berapakah respiratory ratenya (cepat, lambat atau tidak
ada) , ada tidaknya retraksi dinding dada (karena bantuan dari otot bantu
pernapasan, harus dinilai dengan membuka pakaian anak dan lihat ke bagian
supraclavicular, intercostal, dan substernal), head bobbing ( leher anak
ekstensi ketika inspirasi, kemudian diayun kedepan ketika ekspirasi dan
menunjukkan adanya hipoksia parah serta ada bantuan dari otot accesorius
di leher ketika bernafas) dan nasal flaring ( nafas cuping hidung yang
menunjukkan peningkatan usaha nafas).
Sedangkan tanda auditory yang dapat dinilai adalah suara nafas yang
abnormal yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis mengenai letak dari
obstruksi saluran nafas yang terjadi. Suara nafas yang dapat terdengar
secara langsung tanpa menggunakan stetoskop mengindikasikan adanya
obstruksi pada saluran nafas.
- Circulatory à penilaian yang dilakukan secara
cepat dapat menunjukkan apakah cardiac output pada pasien dan perfusi ke
organ vital telah adekuat. Apabila ternyata cardiac output tidak adekuat,
maka tubuh akan berusaha untuk memprioritaskan aliran darah pada
organ-organ vital (otak, jantung dan ginjal) sehingga kulit akan tampak
lebih pucat, cyanosis, dsb. Biasanya kulit yang pucat akan terlihat pada
gejala awal dan cyanosis akan muncul pada gejala yang lebih lambat.
Kemudian, setelah kita
sudah menilai kondisi pasien dengan PAT, maka selanjutnya kita dapat menilai kondisi
pasien dengan menggunakan ABCDE:
A: Airways à buka jalan nafas pasien, lakukan
“look listen and feel” . Penilaian jalan nafas mencakup apakah jalan nafas
pasien dalam keadaan bersih, dapat di atasi, perlu dilakukan intubasi ataukah
sudah terjadi obstruksi.
B : Breathing à Ketika menilai usaha nafas di PAT,
kita hanya menilai secara cepat apakah pernafasan pasien dalam keadaan cepat,
lambat atau bahkan tidak ada. Sedangkan pada penilaian usaha nafas kali ini
harus lebih detail dengan menggunakan stetoskop dan menilai beberapa komponen
seperti : respiratory rate, usaha/mekanis, masuknya udara dan warna kulit
pasien.
|
Usia
(Tahun)
|
Respiratory
Rate
(Nafas/menit)
|
|
<1
|
30-40
|
|
2-5
|
20-30
|
|
5-12
|
15-20
|
|
>12
|
12-16
|
C : Circulation à sirkulasi darah. Dinilai dengan
memperhatikan lebih lanjut denyut jantung, tekanan darah dan perfusi sistemik.
Perfusi sistemik dapat diketahui dengan cara memeriksa peripheral dan central
pulses, skin perfusion, appearance dan urine output. Adapun untuk memeriksa
perfusi kulit yakni dengan cara memperhatikan temperatur pada ekstrimitas,
waktu pengisian kapiler (capillary refill), serta warna (apakah pink, pucat,
biru atau bercak-bercak).
|
Usia (Tahun)
|
Heart Rate
(bpm)
|
|
Newborn-3
bulan
|
85-200 bpm
|
|
3 bulan- 2 tahun
|
100-190 bpm
|
|
2-10 tahun
|
60-140
|
|
Usia (Tahun)
|
Fifth percentile mmHg Systolic BP
|
|
0-1 bulan
|
60
|
|
>1bulan- 1 tahun
|
70
|
|
>1tahun
|
70+ (2xusia dlm tahun)
|
D : Disability à menunjukkan status neurologis
mengenai kondisi korteks cerebri, batang otak, dan aktivitas motoris. Evaluasi
yang dilakukan dalam pemeriksaan antara lain adalah level of consciuosness,
pergerakan motoris, dan pupil. Untuk memeriksa level of consciousness maka
dapat dilakukan dengan memeriksa AVPU (Alert,
responsive to Voice, responsive to Pain
dan Unresponsive). Untuk pemeriksaan
fungsi motoris, maka dapat dilakukan dengan menilai apakah pergerakan simetris,
adakah kejang, kaku maupun postur tubuh tertentu yang abnormal.
E: Exposure à dinilai dengan memperhatikan kondisi
tubuh pasien. Adakah bercak, kebiruan, atau excoriasi pada tubuh pasien.
Berikut ini adalah klasifikasi dari
status fisiologis dari pasien :
- Stabil
è Initial manajemennya adalah segera
memulai pemeriksaan lebih lanjut, menyediakan terapi spesifik sesuai indikasi
dan melakukan penilaian berulang
- Respiratory
dysfunction
·
Potential
respiratory failure
·
Probable
respiratory failure
è Berikut manajemen dari respiratory
dysfunction:
|
Potential Respiratory Failure
|
Probable Respiratory Failure
|
|
|
|
- Shock
·
Compensated
à
pasien dengan kondisi fisiologis shock namun masih memiliki tekanan darah yang
normal
·
Decompensated
à
pasien dengan kondisi fisiologis shock dan tekanan darah nya sudah turun (
hypotension) dan merupakan tanda shock yang sudah terjadi dalam waktu yang
lama.
è Manajemen :
1.
Berikan
oksigen FiO2 =1,0) dan pastikan jalan nafas dan ventilasi telah adekuat
2.
Stabilkan
akses ke vaskuler
3.
Berikan
volume expansion
4.
Monitor
oxygenation, heart rate, dan urine output
5.
Pertimbangkan
pemberian infus agen vasoactive
- Cardipulmonary
failure
è Manajemen :
1.
Oxygenasi,
ventilasi dan monitoring
2.
Lakukan
penilaian ulang terjadinya gagal nafas atau shock
3.
Dapatkan
akses ke vaskuler pasien
- Surgical Cases
Ehem, sebenarnya materi yang ini
sudah seriing sekali dibawakan. Yakni tentang ileus pada anak, namun tidak ada
salahnya kita mengulang mempelajarinya. Tolong baca ulang blok 2.3 untuk lebih
jelasnya ya. Karena yang dibahas disini cuma sedikit sekali. Kita mulai dari
ilustrasi kasus ya, tetap semangat kawan J
Kasus : Seorang bayi laki-laki usia 3 hari lahir spontan, aterm dengan berat
badan 3000gram. Riwayat persalinan ibu G1P1A0. Dari tampakan klinis tampak
perut bayi kembung. Pemeriksaan menunjukkan, bayi mengalami demam 40o
C dan dehidrasi berat. Hasil lab darah WBC 17900 /cmm, HB9,7 g/dl PLT 50000 /cmm, ,
DIFF.TEL Lymp. 33%, Mono 4 %, Neu 82 %, Eos 1 %, Bas. 0%, Alb. 2,5 g/dl, Na 130 mmol/l, K 2,1 mmol/l,
Cl 80 mm0l/l. PH 7,28, HCO 18 mEq/L.
Nah, dari kasus
diatas, kita bisa mendiagnosis sang bayi mengalami ileus pada saluran
pencernaannya. Sekarang kita mulai masuk ke pembahasan ya.
Distensi
Abdomen, dapat terjadi pada kondisi ileus. Ileus sendiri dapat terjadi pada
usus kecil (side view, pubo-xyphoid line) maupun pada usus besar ( angulus
costa-SIAS, frog like abdomen). Ileus secara klinis dibagi menjadi dua yakni
ileus letak tinggi (dari upper GIT sampai setinggi pars II dari duodenum) serta
ileus letak rendah ( dibawah dari pars
II duodenum sampai ke anus). Nah, trias terjadinya ileus adalah mencakup tiga
hal, yakni adanya obstipasi, distensi abdomen, dan muntah. Ketika terjadi
ileus, maka komplikasi yang terjadi pada tubuh bayi akan dapat membahayakan
hidup jika tidak ditangani dengan cepat.
Adanya
ileus akan menyebabkan usus menjadi terdistensi kemudian menekan limfa, vena
dan arteri pada usus. Ketika terjadi penekanan pada aliran limfa usus, maka
akan dapat menyebabkan saluran limfa menjadi pecah dan keluarlah cairan limfa
dari dinding usus. Apabila menekan di vena, maka vena juga dapat pecah dan
akhirnya cairan akan keluar ke ruang ketiga yakni salah satunya adalah rongga
peritoneum (third space syndrom).
Masuknya cairan ke ruang ketiga ini menyebabkan terjadinya dehidrasi
pada bayi. Derajat dehidrasi dapat
dibagi menjadi tiga yakni sedang (defisit 5% ), moderate ( defisit 10%), dan
severe ( defisit 15%).
Nah,
selain kondisi diatas, pada ileus akan ada stagnasi feses dimana normalnya masa
transit feses yang 8 jam akan menjadi bertambah lama. Ketika terjadi distensi
abdomen yang cukup parah, maka akan menyebabkan venous return ke jantung
menjadi berkurang, selain itu distensi abdomen pun juga akan menekan diafragma
ke atas. Hal ini disebut sebagai syndroma kompartemen abdomen. Hal lain yang
dapat muncul dari kondisi ini adalah penumpukan feses yang terlalu lama akan
menyebabkan bakteri menjadi tubuh subur di dalam usus dan dapat menembus mukosa
usus dan akhirnya menjadi sepsis.
Untuk
manajemennya, ketika terjadi third space syndrome, maka bisa diberikan
penggantian cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi yang bertambah parah. Untuk
mencegah syndroma kompartemen abdomen, maka dapat dipasangkan nasogastric tube
dan rectal tube untuk prosedur dekompresi. Dan untuk mencegah terjadinya
sepsis, maka bayi perlu juga diberikan antibiotik.
Gangguan
cairan, elektrolit dan asam basa dapat pula terjadi saat, sebelum dan sesudah
operasi. Hal ini dapat membahayakan kehidupan apabila tidak dapat
diidentifikasi dan ditangani dengan baik. Jumlah cairan yang ada pada tubuh
pasien juga penting untuk dimonitoring dengan ketat. Defisit cairan terbagi
menjadi tiga, yakni :
- Dehidrasi ringan à 5 % (50ml/kgBB X TBW)
- Dehidrasi sedang à 10% ( 100ml/kgBB X TBW)
- Dehidrasi berat à 15% (150 ml/kgBB X TBW)
Sedangkan jenis-jenis
dehidrasi adalah dehidrasi isotonik (Na 130-150 mEq/L), hipotonik ( Na<130
mEq/L) dan hipertonik (Na>150 mEq/L).
dan ini adalah synopsis nya :)
-nm-
Rabu, 03 Oktober 2012
Untukmu, hati.
Bismillahirrahmaanirrahiim
muthmainnafs
101111
In
The Name of Alloh The Most Gracious The Most Merciful
Untukmu,
hati.
Wahai
hatiku, sekian lama aku selalu mencoba berdamai denganmu. Memahamimu
sepenuhnya, mengajakmu berbicara dalam renungan panjang yang tak pernah ku
tinggalkan. Namun, meski jabatan padamu terus ku lakukan, hingga saat ini tetap
saja tak kuasa aku melihatmu berubah arah. Terombang-ambing.
Aku
menyadari, hati jauh lebih licin dari apapun. Bahkan dari belut sawah yang
kupegang di tanganpun, engkau jauh lebih licin. Engkau sangat mudah berubah
arah, duhai hatiku. Disatu waktu
aku melihatmu teguh dalam kebenaran
menjaga agama. Namun di sisi lain, kulihat kau pun lalai karena maksiat yang
tak kau sadari sendiri. Apa maumu?
Ketika
aku mendapatimu tegas pada mereka, lawan jenismu. Kekagumanku padamu bertambah.
Betapa engkau berusaha menutup seluruh celah yang akan membuatmu ternoda.
Memerintahkan para pasukanmu untuk waspada setiap saat. Mata yang menunduk,
lisan yang berkata benar, dan kaki yang melangkah dalam kebaikan. Semua atas
perintahmu. Karena engkau ibarat raja dalam jasadku yang lemah ini. Ketika
engkau baik, jasadku pun akan baik.
Namun,
sering pula kilihat kau lalai. Berpanjang angan untuk sesuatu yang belum tentu
terjadi. Berpikir hal yang tak sepantasnya dipikirkan oleh seorang muslimah.
Hasad, khianat, prasangka buruk, dan semua musuh dari syaithan seakan siap
menyerbumu kapanpun kau lalai. Kau baru menyadarinya ketika hitam mulai
memenuhi pekatmu. Futur. Mengeras dan ternoda.
Hatiku.
Aku
mengerti. Sungguh mengerti. Betapa engkau sering gelisah dan risau mengingat
janji-Nya tentang pasangan hidup. Penasaran, ingin tahu, tak sabar, semua
seakan menjadi satu rasa yang sulit kau ungkapkan. Banyak caramu mengalihkan
perhatian untuk urusan ini. Namun, saat teman-teman di sekitarmu mengungkitnya,
kau mudah sekali lemah. Bertanya, dan mulai berpanjang angan. Siapa ya?
Hatiku,
yang kuinginkan dalam kebaikan selalu.
Satu
pintaku padamu. Bersabarlah. Tidakkah engkau percaya, Alloh-lah Sang Maha
Menepati Janji? Tiadalah Ia berjanji, kecuali Ia akan menepatinya. Tak perlu
gelisah, risau, gundah dan gulana. Alloh sudah mengatur semuanya. Bersabarlah
dalam penantianmu. Karena kelak ketika berbuka, akan kau rasakan manisnya
penantianmu selama ini. Nikmat yang berbalut ridho-Nya. Halal yang di
berkahi-Nya. Menyenangkan bukan? Tak maukah dirimu merasakannya?
Sekarang
hatiku.
Mari
kita berusaha bersama memperbaiki diri. Aku dan kamu. Kita mesti seirama.
Seiring dengan aliran darah dalam jasadku, aku berharap kita selalu dalam
kebenaran yang nyata. Menjemput setiap ilmu yang ada. Memuroja’ah pelajaran
yang kita dapatkan bersama. Mengulang-ulang hafalan alqur’an dan hadits yang
sering terlupa. Serta ilmu dunia yang tak boleh dilalaikan juga. Bersamamu
hati. Mari kita berusaha.
-bersabarlah wahai jiwa, sungguh penantian
ini tak akan lama-














